Presiden Republik Indonesia menyerukan perdamaian dan kebaikan seluruh masyarakat global dalam gala dinner bersama tamu undangan pimpinan dan utusan Negara sahabat pada Ahad (20/10/2024). Dalam jamuan itu Presiden Prabowo mengajak seluruh tamu undangan untuk bersulang minuman bersama dengan iringan kata-kata berikut ini:
Let us drink to world peace to the common good of all our peoples peace prosperity for all the peoples of the world.
Artinya: "Mari kita minum demi perdamaian dunia, kebaikan bersama untuk rakyat kita semua, perdamaian kesejahteraan untuk semua orang di dunia."
Isu perdamaian sosial memang sering dikampanyekan oleh para pemimpin di negeri ini, sebab Indonesia tidak terdiri oleh ras, suku, dan agama tunggal. Akan tetapi terdiri dari berbagai ras, suku, dan agama yang bercampur menjadi satu dengan semboyan ke-bhinneka-an dan filosofi Pancasila.
Presiden Soekarno pun berpesan tentang bagaimana beragama di negeri ini. Ia mengingatkan agar masyarakat Indoensia beragama sesuai dengan konteks keindonesiaan dan tidak menekankan kepada identitas dan budaya dari negara asal agama itu dilahirkan. Contohnya seperti berislam dengan lebih bernuansa Nusantara dengan segala esensi dan substansi keislamannya. Tidak berislam dengan seakan menjadi orang Arab dan menghilangkan identitas sebagai masyarakat Nusantara.
Perlu disadari bahwa isu agama sangat seksi untuk dijadikan pemantik adanya konflik sosial di tengah masyarakat suatu negara. Eksklusivisme dalam beragama menjadikan penganut paham ini berpikir radikal dan menutup diri untuk berinteraksi dengan penganut agama lain.
Hal ini menurut Prof. Komaruddin Hidayat sangat mengganggu stabilitas kerukunan umat beragama dalam kehidupan masyarakat dan merusak keharmonisan relasi sosial antar warga negara. Hal ini juga menjadikan agama sebagai penghalang untuk saling bersikap toleran, saling menghargai, dan menghormati antar umat beragama dalam satu negara.
Islam sendiri sejatinya sangat menjunjung tinggi semangat perdamaian, sebab secara etimologi kata Islam sangat berhubungan erat dengan kata اَلسِّلْمُ yang berarti perdamaian. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 208 berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّه لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu."
KH Afifuddin Dimyathi menginterpretasikan ayat tersebut sebagai bentuk semangat perdamaian sosial antara masyarakat Muslim dengan non-Muslim khususnya yang disatukan dalam satu bangsa dan negara.
Gus Awis dalam tafsirnya menyebutkan sebagai berikut:
وَالْمَعْنَى يَا اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ اُدْخُلُوْا فِيْ الِاسْلَامِ جَمِيْعاً وَالْتَزِمُوْا بِجَمِيْعِ اَحْكَامِهِ وَحَافِظُوْا عَلَى جَمْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَكُوْنُوْا مُتَحَابِّيْنَ فِيْمَا بَيْنَكُمْ غَيْرَ مُتَنَازِعِيْنَ مُعْتَصِمِيْنَ بِحَبْلِ اللهِ غَيْرَ مُتَفَرِّقِيْنَ كَمَا قَالَ تعالى. وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ . وَقَالَ تعالى وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ
Artinya: "Wahai masyarakat Mukmin masuklah dalam Islam secara keseluruhan, patuhlah kepada seluruh hukumnya, jagalah persaudaraan antar umat muslim, jadilah orang yang saling menyayangi satu sama lain dan tidak terpecah belah, berpegang teguh dengan ikatan Allah dan tidak membelot seperti firman Allah surat al-Anfal ayat 46, dan surat Ali Imran ayat103 berikut: “Janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang”. “Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai”. (Afifuddin Dimyathi, Hidayatul Qur’an fi Tafsiril Qur’an bil Qur’an, [Yogyakarta: Maktabah Iskandariyah, 2023], juz 1, hal. 146).
Gus Awis dalam teks tersebut secara eksplisit menjelaskan tentang perdamaian dan persatuan antar masyarakat muslim dalam internal Islam sendiri. Ia menyerukan tentang persaudaraan dan mencegah untuk tidak berpecah-belah, sebab dengan persatuan dan persaudaraan yang kuat, masyarakat Muslim tidak akan mudah untuk dilemahkan dan diganggu kedaulatannya oleh pengaruh eksternal.
Kemudian Gus Awis memberikan catatan penting terkait perdamaian antar umat beragama dan mendorong sikap masyarakat Muslim untuk berdamai dengan masyarakat non-Muslim yang tidak mengangkat senjata kepada umat Islam:
وَكُوْنُوْا مُتَصَالِحِيْنَ لِغَيْرِكُمْ مِمَّنْ لَيْسَ فِيْ دِيْنِكُمْ وَمَالُوْا اِلَى الْمُسَالَمَةِ وَالْمَصَالَحَةِ وَلَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِيْ الدِّيْنِ وَلَمْ يَعْتَدُوْا عَلَيْكُمْ كَمَا قَالَ اللهُ تعالى. وَاِنْ جَنَحُوْا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Artinya: "Jadilah orang-orang yang berbuat baik untuk selain kalian yakni kepada pemeluk agama lain, dan menjunjung tinggi sikap perdamaian dan rekonsiliasi kepada mereka yang tidak angkat senjata dan tidak memusuhi kalian sebagaimana firman Allah dalam surat al-Anfal ayat 61 berikut: “(Akan tetapi,) jika mereka condong pada perdamaian, condonglah engkau (Nabi Muhammad) padanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya hanya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Afifuddin Dimyathi, juz 1, hal. 146).
Catatan ini secara tegas mendukung adanya rekonsiliasi antar umat beragama yang memang dulunya pernah terrekam dalam catatan sejarah terkait pertumpahan darah antar mereka atas dasar agama.
Dalam konteks kekinian, persatuan umat tidak hanya dipandang dari aspek agama yang menyatukan dalam unsur ketuhanan, akan tetapi juga aspek kewarga negaraan yang dulunya mempunyai nasib yang sama yakni menjadi korban imperialisme Eropa dan berjuang bersama untuk meraih kemerdekaan.
Kemudian Gus Awis menjelaskan bahwa kedua konsep perdamaian sosial antara internal masyarakat Muslim dan eksternal dengan masyarakat agama lain merupakan bentuk dari hubungan kemanusiaan yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Gus Awis mencatat sebagai berikut:
وَهَذِهِ اَسَاسُ العَلَاقَةِ الإِنْسَانِيَّةِ وَاحْذَرُوْا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ أَنْ تَتَّبِعُوْا خُطَوَاتِ الشَّيْطَانِ الذِيْ يُرِيْدُ أَنْ يُوْقِعَ بَيْنَكُمْ العَدَاوَةَ وَالبَغْضَاءَ كَمَا قَالَ تَعَالَى اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ
Artinya: "Ini adalah konsep dasar dari hubungan kemanusiaan, dan berhati-hatilah wahai masyarakat Mukmin untuk mengikuti prilaku setan yang menginginkan adanya permusuhan dan ketegangan di antara kalian seperti firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 91 berikut: “Sesungguhnya setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu”. (Afifuddin Dimyathi, juz 1, hal. 146).
Sebagaimana yang telah diketahui oleh akal sehat masyarakat Muslim, bahkan seluruh masyarakat beragama, bahwa setan adalah musuh utama orang-orang beragama. Setan identik memengaruhi manusia untuk saling bertengkar dan bersitegang antar satu sama lain baik atas dasar agama ataupun non-agama.
Oleh karena itu sebagai umat beragama, mereka harus bersatu dan tentunya harus sadar diri bahwa mereka mempunyai musuh yang sama yakni setan. Setan memang bertujuan memecah belah umat dan menimbulkan permusuhan dan pertumpahan darah dalam kehidupan manusia sejak awal dilahirkannya manusia hingga akhir dunia nanti.
Editor: Muhammad Faizin


