Dark
Light
Dark
Light

Refleksi Profesi Kerja Para Nabi: Tanpa Gengsi Tanpa Pilah-Pilih

Refleksi Profesi Kerja Para Nabi: Tanpa Gengsi Tanpa Pilah-Pilih

Arina.id - Saat membuka media sosial, banyak dari kita merasa minder melihat pencapaian orang lain. Ada yang sudah bekerja sesuai passion dan cita-cita masa kecilnya. Dulu, ketika masih sekolah, kita dengan percaya diri menjawab cita-cita kita, “Tentara, Bu. Pilot, Bu. Dokter, Bu.” 

Namun, seiring bertambahnya usia, kita sadar kenyataan tak selalu seindah impian. Karena keadaan atau kendala ekonomi, banyak yang akhirnya mengambil pekerjaan apa saja demi bertahan hidup, mulai dari ojek online hingga pedagang kecil, sambil menahan gengsi dan merasa rendah diri. Seolah pekerjaan ideal itu harus selalu berseragam rapi.

Padahal, para nabi yang mulia di sisi Allah pun bekerja tanpa gengsi dan tanpa pilah-pilih. Mereka memberi teladan bahwa pekerjaan apa pun, selama halal, tetap mulia di hadapan Allah.

مَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا حَلَالًا تَعَفُّفًا عَنِ الْمَسْأَلَةِ، وَسَعْيًا عَلَى عِيَالِهِ، وَتَعَطُّفًا عَلَى جَارِهِ، لَقِيَ اللهَ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ.

Artinya: “Barang siapa mencari rezeki dunia dengan cara yang halal, untuk menjaga dirinya dari meminta-minta, untuk menafkahi keluarganya, dan untuk membantu tetangganya, maka dia akan bertemu Allah kelak dalam keadaan wajahnya bersinar seperti bulan purnama.” (HR. Imam Baihaqi)

Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Kasyifatus Saja menuliskan pekerjaan para nabi dengan menukil dari syekh As-Suhaimi. Beliau mula-mula menjelaskan profesi terbaik yakni petani, pekerjaan industri atau kerajinan, dan berdagang.

وَأَفْضَلُ أَنْوَاعِ الْكَسْبِ الزِّرَاعَةُ، ثُمَّ الصِّنَاعَةُ، ثُمَّ التِّجَارَةُ 

Artinya: “Jenis pekerjaan terbaik adalah pertanian, kemudian kerajinan atau industri, lalu perdagangan.”

Nabi Adam AS berprofesi sebagai petani. Inilah pekerjaan pertama di bumi, yaitu bercocok tanam. Beliau menjadi manusia pertama sekaligus petani pertama. Suatu ketika, Nabi Adam pernah mengalami kegagalan dalam bertani. Beliau menanam gandum, tetapi yang tumbuh justru jelai, sebagai akibat dari kesalahannya karena pernah mematuhi bisikan setan. Nabi Adam mengolah hasil panennya sendiri, mulai dari menanam, menuai, menumbuk, hingga menjadikannya roti.

Di sektor industri atau kerajinan tangan, ada beberapa nabi yang menekuni pekerjaan ini. Misalnya, Nabi Idris AS bekerja sebagai penjahit, Nabi Nuh AS dikenal sebagai tukang kayu yang membuat perahu besar atas perintah Allah. Nabi Zakaria AS juga ahli dalam pertukangan. Nabi Daud AS bekerja sebagai pandai besi, beliau membuat baju besi untuk berperang. Sedangkan Nabi Sulaiman AS membuat anyaman dari daun kurma.

Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW bekerja di sektor perdagangan. Nabi Ibrahim dikenal sebagai penjual kain dan pakaian, sedangkan Nabi Muhammad SAW sudah berdagang sejak muda. Kejujuran dan keluhuran akhlaknya membuat beliau dijuluki Al-Amin, yaitu orang yang terpercaya.

Selain berdagang, Nabi Muhammad SAW juga bekerja di sektor peternakan dengan menggembala kambing, profesi yang juga pernah dijalani oleh Nabi Musa AS ketika beliau bekerja sebagai buruh penggembala kambing milik Nabi Syuaib AS.

Dari ulasan profesi nabi ini kita bisa belajar bahwa pekerjaan apa pun selama halal adalah mulia di sisi Allah. Tak ada alasan untuk gengsi atau merasa rendah diri hanya karena pekerjaan kita dipandang rendah oleh orang lain. Justru dengan bekerja, kita menjaga harga diri dan kehormatan kita. Terlebih di zaman sekarang, saat mencari pekerjaan semakin sulit, kita tidak boleh pilah-pilih pekerjaan. 

Selagi ada peluang, manfaatkanlah sebaik mungkin. Karena rezeki bisa datang dari jalan mana saja yang Allah bukakan, meskipun terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi kita.

اِسْتَغْنِ بِالْكَسْبِ الْحَلَالِ عَنِ الْفَقْرِ، فَإِنَّهُ مَا افْتَقَرَ أَحَدٌ قَطُّ إِلَّا أَصَابَهُ ثَلَاثُ خِصَالٍ: رِقَّةٌ فِي دِينِهِ، وَضَعْفٌ فِي عَقْلِهِ، وَذَهَاب مُرُوءَتِهِ، وَأَعْظَمُ مِنْ هَذِهِ الثَّلَاثِ اسْتِخْفَافُ النَّاسِ بِهِ

Artinya: “Cukupkan dirimu dari kemiskinan dengan mencari rezeki yang halal. Karena tidaklah seseorang jatuh miskin, melainkan ia akan terkena tiga hal: lemahnya agamanya, lemahnya akalnya, dan hilangnya kehormatannya. Dan yang lebih berat dari ketiga hal itu adalah orang-orang akan meremehkannya.” (Ihya’ Ulumiddin, juz 2 hal.62)

Maka, jangan pernah meremehkan pekerjaan halal apa pun yang kita jalani hari ini. Bekerjalah dengan niat menjaga diri, menafkahi keluarga, dan memberi manfaat bagi sekitar. Karena pada akhirnya, bukan gengsi yang kita kejar, melainkan ridha Allah dan keberkahan hidup di dunia maupun akhirat. Wallahu a'lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo