Arina.id - Ust. Muhammad Abduh Tuasikal dalam sebuah video pendek yang diunggah oleh akun YouTube Masjid Pogung Dalangan TV dengan judul Apakah Kotoran Ayam Bisa Membatalkan Wudhu? menyatakan bahwa kotoran ayam tidak najis alias suci sehingga tidak membatalkan sholat ketika menginjaknya. Penjelasan ini pun menuai reaksi dari warganet dengan meresponnya melalui kolom komentar.
Pada dasarnya yang disampaikan oleh Ust. Tuasikal tidaklah salah bagi orang yang memahami fiqih lintas madzhab. Pasalnya, problematika najis dan sucinya kotoran hewan yang halal dimakan, tidak menjadi sebuah konsensus atau kesepakatan (ijma’) dalam madzhab fiqih Islam.
Mayoritas masyarakat Muslim Indonesia mengikuti madzhab fiqih Syafi’i yang menghukumi najis terhadap kotoran hewan yang halal dimakan. Seperti catatan pribadi Imam Syafi’i dalam al-Umm-nya tentang larangan menjual-belikan kotoran hewan untuk pupuk kandang sebab kenajisannya, sebagai berikut:
قلت أرأيت بيع العذرة التي يزبل بها الزرع قال لا يجوز بيع العذرة ولا الروث ولا البول كان ذلك من الناس أو من البهائم، ولا شيئا من الأنجاس
Artinya: "Aku mengatakan apakah kamu tidak mengetahui menjual kotoran yang digunakan sebagai pupuk pertanian? Dia menjawab tidak boleh menjual kotoran dan air seni baik dari manusia atau hewan dan apapun yang najis. (Beirut: Darul Fikr, 1983, juz 6, hal. 258.).
Dalil kenajisan kotoran hewan, baik yang halal dimakan atau yang haram, adalah sebagaimana dikutip oleh Imam Syairazi dalam al-Muhadzab yang merupakan hadits riwayat Ibnu Mas’ud dalam Sahih Bukhari no. 155 berikut:
أَتَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْغَائِطَ، فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ وَالْتَمَسْتُ الثَّالِثَ فَلَمْ أَجِدْهُ، فَأَخَذْتُ رَوْثَةً فَأَتَيْتُهُ بِهَا، فَأَخَذَ الْحَجَرَيْنِ وَأَلْقَى الرَّوْثَةَ، وَقَالَ: هَذَا رِكْسٌ
Artinya: "Nabi pergi ke toilet, beliau menyuruhku mencari tiga batu, aku hanya mendapatkan dua, aku cari yang ketiga tapi aku tidak dapat, lalu aku mengambil kotoran dan kuberikan kepada Nabi, beliau hanya mengambil dua batu dan membuang kotoran dan mengatakan kotoran adalah najis."
Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadits tersebut dalam Majmu’-nya sebagai berikut:
حديث ابن مسعود رواه البخاري بلفظه وقد سبق أن مذهبنا أن جميع الارواث والدرق والبول نجسة من كل الحيوان سواء المأكول وغيره والطير وكذا روث السمك والجراد وما ليس له نفس سائلة كالذباب فروثها وبولها نجسان على المذهب
Artinya: "Hadits Ibnu Mas’ud yang driwayatkan oleh Imam Bukhari dengan redaksinya, dan telah dijelaskan menurut madzhab kita (syafi’iyah) bahwa seluruh kotoran baik kotoran manusia, burung, hewan, dan air seni, adalah najis baik dari hewan yang halal dimakan atau tidak, begitu juga kotoran ikan, belalang, dan hewan yang tidak punya darah mengalir seperti lalat." (Majmu’ Syarh Muhadzab, [Beirut: Darul Fikr, 2021], juz 2, hal. 508.).
Kemungkinan yang disampaikan oleh Ust. Tuasikal adalah antara dua madzhab yakni madzhab Maliki dan Hanbali yang memang tidak menghukumi najis terhadap kotoran hewan yang boleh dimakan. Sebagaimana catatan Syekh Abdul Wahab al-Baghdadi berikut:
بول ما يؤكل لحمه طاهر عندنا، وبه قال محمَّد بن الحسن. وقال الشّافعيّ وأبو حنيفة: إنّه نجس
Artinya: "Air seni hewan yang boleh dimakan adalah suci menurut madzhab kita (Maliki), begitu juga menurut Muhammad bin Hasan, sedangkan menurut madzhab Syafi’i dan Hanafi adalah najis." (Uyunul Masa’il, [Beirut: Dar Ibn Hazm, 2009], hal. 91.).
Namun terdapat cacatan penting dalam madzhab maliki mengenai hal ini, yakni kotoran hewan tersebut akan dihukumi najis jika dia mengonsumsi pakan najis sebagaimana catatan Syekh Yusuf al-Qurthubi berikut:
لم يختلف عن مالك وأصحابه في بول ما يؤكل لحمه ورجيعه من الأنعام والوحش والطير التي لا تأكل الأقذار أنه غير نجس. وذكر ابن عبد الحكم عنه أن أبوال الخيل والبغال والحمير وخرو الطير التي تأكل الجيف ينجس الثوب
Artinya: "Tidak ada khilaf antara Imam Malik dengan murid-muridnya bahwa kencing dan kotoran hewan yang halal dimakan yang tidak memakan pakan najis adalah suci, Ibnu Abdil Hakam menyebutkan bahwa kencing kuda, keledai, zebra, dan burung yang memakan bangkai bisa menajiskan baju. (Ikhtilafu Aqwali Malik wa Ashabuhu," [Dar Ghurbil Islami, 2003], hal. 28.).
Dalil yang digunakan oleh madzhab maliki dan hanbali adalah hadits tentang perintah Nabi kepada penduduk Urainah untuk meminum kencing unta dan hadits tentang Nabi pernah sholat di kandang kambing.
Syekh Ibnu Qudamah al-Maqdisi dari kalangan madzhab hanbali memberikan penjelasan kedua dalil tersebut sebagai berikut:
ولنا، «أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر العرنيين أن يشربوا من أبوال الإبل» ، والنجس لا يباح شربه، ولو أبيح للضرورة لأمرهم بغسل أثره إذا أرادوا الصلاة «،
وكان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في مرابض الغنم» . متفق عليه. وقال: «صلوا في مرابض الغنم» . متفق عليه. وهو إجماع كما ذكر ابن المنذر، وصلى أبو موسى في موضع فيه أبعار الغنم. فقيل له: لو تقدمت إلى هاهنا؟ فقال: هذا وذاك واحد.
ولم يكن للنبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه ما يصلون عليه من الأوطئة والمصليات، وإنما كانوا يصلون على الأرض، ومرابض الغنم لا تخلو من أبعارها وأبوالها، فدل على أنهم كانوا يباشرونها في صلاتهم، ولأنه متحلل معتاد من حيوان يؤكل لحمه، فكان طاهرا كاللبن،
Artinya: Dalil dari madzhab kita adalah bahwa Nabi pernah memerintahkan penduduk Urainah untuk meminum kencing unta, sedangkan jika hal itu najis, maka tentunya tidak boleh diminum, andai dibantah bahwa hal itu diperbolehkan karena dharurat, maka Nabi tentu perintah untuk membersihkan sisanya ketika akan sholat.
Nabi juga pernah sholat di kandang kambing, bahkan Nabi pernah periintah akan hal itu, dan ini adalah sebuah konsensus seperti menurut Ibnu Mundzir. Abu Musa juga pernah sholat di tempat yang banyak kotoran kambing, dia ditanyai apa kamu tidak maju saja kesini ?, dia menjawab disini dan disana sama saja.
Nabi dan sahabatnya tidak sholat di lantai dan mushalla, mereka sholat di atas tanah, dan kandang kambing tentunya tidak bersih dari kotoran dan kencingnya, oleh karena itu hadits tersebut menunjukkan mereka sholat dengan kondisi bersentuhan langsung dengan kotoran kambing, dan kotoran itu diproses dari pencernaan hewan yang halal dimakan maka hukumnya suci seperti susu perah." (al-Mughni li Ibni Qudamah, [Kairo: Maktabah al-Qahirah, 1968], juz 2, hal. 66.).
Walhasil, kedua belah pendapat mempunyai dalil hadits masing-masing, dan tentunya mempunyai interpretasi masing-masing, dan tentunya keduanya mempunyai kredibilitasnya sendiri, sebab keduanya merupakan madzhab fiqih Islam yang otoritatif dan sah diikuti oleh masyarakat Muslim. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


