Sudah menjadi hal yang jamak terjadi, tatkala pelaksanaan sholat Jumat masih terdapat beberapa jamaah yang datang dengan tergesa-gesa. Tak jarang ada yang baru datang ketika pelaksanaan khutbah bagian akhir, atau bahkan ketika sholat sudah dimulai.
Motif yang menyebabkan keterlambatan datangnya jamaah sholat Jumat bisa jadi karena disibukkan oleh pekerjaan atau terhambat oleh macetnya perjalanan. Meski begitu, tetap saja terdapat beberapa orang yang memang sengaja datang belakangan sebab menunda-nunda untuk berangkat ke masjid.
Terdapat sejumlah persoalan saat seorang makmum terlambat datang sholat Jumat seperti mendapati sang imam sudah dapat satu rakaat, terkadang pula sudah sampai di posisi tahiyyat akhir. Lantas apa yang harus dilakukan makmum ketika tertinggal rakaatnya imam saat menunaikan sholat Jumat?
Makmum yang terlambat datang ketika pelaksanaan shalat Jum’at dalam fiqih dikenal dengan istilah makmum masbuq, yaitu kebalikan dari makmum muwafiq. Makmum muwafiq, adalah makmum yang menemui durasi waktu membaca Al-Fatihah bersama Imam sesuai dengan standar bacaan sedang.
Sedangkan makmum masbuq yaitu orang yang tidak menemui kriteria yang disebutkan dalam makmum muwafiq sesuai dugaannya, baik di rakaat pertama atau lainnya. Definisi ini selaras dengan keterangan yang disampaikan oleh Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’isyan Al-Hadrami (wafat 1270 H) dalam kitabnya:
هَذَا كُلُّهُ فِيْ الْمُوَافِقِ، وَهُوَ مَنْ أَدْرَكَ مَعَ الْإِمَامِ قَدْرَ " الْفَاتِحَةِ" بِالْنِّسْبَةِ إِلَى الْقِرَاءَةِ الْمُعْتَدِلَةِ، لاَ لِقِرَاءَةِ الْإِمَامِ، وَلاَ لِقِرَاءَةِ نَفْسِهِ عَلَى الْأَوْجَهِ. وَأَمَّا الْمَسْبُوْقُ وَهُوَ مَنْ لَمْ يُدْرِكْ مَا مَرَّ فِيْ الْمُوَافِقِ فِيْ ظَنِّهِ مِنَ الْرَّكَعَةِ الْأُوْلَى أَوْ غَيْرِهَا
Artinya: “Yang demikian ini berlaku bagi makmum muwafiq, yakni makmum yang menemui durasi waktu membaca surat Al-Fatihah bersama imam sesuai dengan standar bacaan sedang, bukan bacaannya imam dan makmum sendiri menurut pendapat yang kuat (Al-Aujah). Adapun makmum masbuq yaitu orang yang tidak menemui kriteria yang telah disebutkan dalam makmum muwafiq sesuai dugaannya, entah di rakaat pertama atau selainnya.” (Sa’id bin Muhammad Ba’isyan Al-Hadrami, Busyra Al-Karim bi Syarh Al-Masail At-Ta’lim [Jedah: Dar Al-Minhaj], vol. 1, h. 354-355)
Berkenaan dengan makmum masbuq tatkala sholat Jumat, maka dalam hal ini terdapat pemetaan sebagai berikut: Pertama, makmum masbuq yang menemui rukuk rakaat yang kedua dari sholatnya imam. Maka makmum masbuq ini termasuk makmum yang menemui satu rakaat bersama imam. Sehingga, makmum masbuq demikian termasuk kategori orang yang menemui rakaat sholat Jumat. Oleh karena itu, selepas imam salam, ia cukup menambahkan satu rakaat untuk menyempurnakan sholat Jumatnya.
Kedua, makmum masbuq yang tidak menemui rukuk rakaat yang kedua dari sholatnya imam. Makmum masbuq yang kedua ini adalah makmum yang sama sekali tidak menemui rakaatnya imam. Maka ketentuannya, ia wajib mengikuti pelaksanaan jamaah sholat Jumat dengan niat Jumat. Dan usai imam salam, ia harus menyempurnakannya dengan sholat dzuhur, maksudnya diharuskan untuk menambahkan empat rakaat. Namun, di saat menyempurnakan rakaatnya ia tidak perlu berniat dzuhur.
Keterangan demikian sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Khatib Asy-Syirbini (wafat 977 H) dalam kitabnya:
مَنْ أَدْرَكَ مَعَ إمَامِ الْجُمُعَةِ رَكْعَةً وَلَوْ مُلَفَّقَةً لَمْ تَفُتْهُ الْجُمُعَةُ فَيُصَلِّي بَعْدَ زَوَالِ قُدْوَتِهِ بِمُفَارَقَتِهِ أَوْ سَلَامِهِ رَكْعَةً.. قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَدْرَكَ مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ رَكْعَةً فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ» وَإِنْ أَدْرَكَ دُونَ الرَّكْعَةِ فَاتَتْهُ الْجُمُعَةُ لِمَفْهُومِ الْخَبَرِ فَيُتِمُّ بَعْدَ سَلَامِ إمَامِهِ ظُهْرًا، وَيَنْوِي وُجُوبًا فِي اقْتِدَائِهِ جُمُعَةً مُوَافَقَةً لِلْإِمَامِ، وَلِأَنَّ الْيَأْسَ لَمْ يَحْصُلْ مِنْهَا إلَّا بِالسَّلَامِ
Artinya: “Barangsiapa yang menemukan satu rakaat Jumat bersama imam, meski hanya rukuk yang pertama dan sujud yang kedua maka Jumat tidak terlewatkan dari makmum tersebut. Sehingga ia dapat melaksanakan sholat setelah selesai mengikuti imam dengan cara memisahkan diri atau salam… Hal ini selaras dengan sabda Nabi saw.: Barangsiapa menemui dari sholat Jumat satu rakaat, maka ia menemui sholat Jumat. Sedangkan jika ia tidak menemui satu rakaat maka Jumat terlewatkan sebab kepahaman hadits. Maka ia harus menyempurnakan sholatnya seusai imam salam dengan melakukan sholat dzuhur. Serta ia berkeharusan untuk niat Jumat karena menyesuaikan dengan imam dan karena ketiadaan harapan menemui Jumat tidak dapat dihasilkan kecuali dengan salam.” (Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib Asy-Syirbini, Al-Iqna’ fi Halli Alfadz Abi Syuja’ [Beirut: Dar Al-Fikr], vol. 1, h. 185)
Sementara itu, menurut pendapat Imam Ar-Ramli, Imam Khatib Asy-Syirbini, dan Imam Ibn Qasim Al-‘Ubadi, makmum yang menemukan rakaat kedua imam tidak disyaratkan untuk bermakmum dengan imam hingga salam. Bahkan diperbolehkan bagi makmum tersebut untuk berniat memisahkan diri (mufaraqah) setelah imam rukuk dan menyelesaikan sholatnya sendiri. Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatho Ad-Dimyathi (wafat 1302 H) dalam anotasinya menerangkan:
وَلَوْ أَدْرَكَ الْمَسْبُوْقُ رُكُوْعَ الثَّانِيَةِ وَاسْتَمَرَّ مَعَهُ إِلَى أَنْ سَلَّمَ أَتَى بِرَكْعَةٍ بَعْدَ سَلَامِهِ جَهْرًا وَتَمَّتْ جُمْعَتُهُ إِنْ صَحَّتْ جُمْعَةُ الْإِمَامِ (قَوْلُهُ: وَاسْتَمَرَّ مَعَهُ إِلَى أَنْ سَلَّمَ) أَيْ وَاسْتَمَرَّ الْمَأْمُوْمُ مَعَ الْإِمَامِ إِلَى أَنْ سَلَّمَ، فَلَوْ فَارَقَهُ أَوْ بَطَلَتْ صَلَاةُ الْإِمَامِ لَمْ يُدْرِكْ الْجُمْعَةَ. وَهَذَا مُعْتَمَدُ ابْنِ حَجَرَ تَبْعًا لِظَاهِرِ تَعْبِيْرِ الشَّيْخَيْنِ. وَالَّذِيْ اعْتَمَدَهُ الْجَمَالُ الرَّمْلِي وَالْخَطِيْبُ وَ سم وَغَيْرُهُمْ: أَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ اسْتِمْرَارُهُ مَعَهُ إِلَى السَّلَامِ، بَلْ مَتَى أَدْرَكَ رُكُوْعَ الْإِمَامِ أَدْرَكَ الْجُمْعَةَ، وَلَوْ نَوَى الْمُفَارَقَةَ وَبَطَلَتْ صَلَاةُ الْإِمَامِ. (قَوْلُهُ إِنْ صَحَّتْ جُمْعَةُ الْإِمَامِ) أَيْ بِأَنْ كَانَ مُتَطَهِّرًا. وَخَرَجَ بِهِ مَا إِذَا لَمْ تَصِحَّ بِأَنْ بَانَ مُحْدِثًا أَوْ ذَا خَبَثٍ فَلَا تَتِمُّ لَهُ جُمْعَتُهُ
Artinya: “Apabila makmum masbuq shoalat Jumat menemukan rukuk rakaat kedua dari imam dan ia mengikuti imamnya sampai salam, maka ia harus melakukan satu rakaat lagi setelah salam imam dan sholat Jumatnya dianggap sah, jika sholat Jumat imam juga dianggap sah. Dan pendapat ini adalah pendapat mu’tamad menurut Imam Ibn Hajar dengan mengikuti pendapat Imam Ar-Rafi’i dan Imam An-Nawawi. Sedangkan pendapat mu’tamad menurut Imam Ar-Ramli, Imam Al-Khatib dan Imam Ibn Qasim adalah tidak disyaratkan bagi makmum untuk mengikuti imam hingga salam, bahkan jika makmum hanya menemukan rukuk kedua dari imamnya maka Jumatnya telah dianggap sah.” (Abu Bakar bin Muhammad Syatho Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah Ath-Thalibin [Beirut: Dar Al-Fikr], vol. 2, h. 66)
Lebih daripada itu, Syekh Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar Ba’alawi (wafat 1220 H) menegaskan pernyataan yang serupa dalam kompilasi fatwanya:
أَدْرَكَ مَعَ الْإِمَامِ رُكُوْعَ الثَّانِيَةِ ثُمَّ فَارَقَهُ فِي التَّشَهُّدِ أَوْ أَحْدَثَ الْإِمَامُ قَالَ ابْنُ حَجَرَ: لَا يُدْرِكُ الْجُمْعَةَ بَلْ لَا بُدَّ مِنْ بَقَائِهِ إِلَى السَّلَامِ، وَقَالَ غَيْرُهُ يُدْرِكُهَا وَهُوَ جَدِيْرٌ بِأَنْ يَعْتَمِدَ. فَعَلَيْهِ لَوْ خَافَ خُرُوْجَ الْوَقْتِ لَوْ لَمْ يُفَارِقْهُ وَيَأْتِيْ بِالثَّانِيَةِ وَجَبَ فِرَاقُهُ
Artinya: “Apabila makmum menemukan rukuk kedua dari imamnya, lalu ia mufaraqah (berpisah dari imam) pada saat tasyahud atau sebab imamnya berhadats, Imam Ibn Hajar berkata: Maka ia tidak dianggap menemukan sholat Jumat dan yang seharusnya dilakukan adalah ia menunggu hingga imam salam. Sedangkan menurut selain Imam Ibn Hajar, ia tetap dianggap menemukan sholat Jumat. Dan pendapat yang terakhir inilah yang lebih berhak untuk dijadikan pedoman.” (Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar Ba’alawi, Bughyah Al-Mustarsyidin [Beirut: Dar Al-Fikr], vol. 1, h. 178)
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwasanya makmum masbuq tatkala tertinggal sholat Jumat terbagi menjadi dua: Pertama, makmum masbuq yang menemui rukuk rakaat yang kedua dari sholatnya imam. Maka makmum masbuq ini termasuk makmum yang menemui satu rakaat bersama imam. Sehingga, makmum masbuq demikian termasuk kategori orang yang menemui rakaat sholat Jumat. Oleh karena itu, selepas imam salam ia cukup menambahkan satu rakaat untuk menyempurnakan sholat Jumatnya.
Kedua, makmum masbuq yang tidak menemui rukuk rakaat yang kedua dari sholatnya imam. Makmum masbuq yang kedua ini adalah makmum yang sama sekali tidak menemui rakaatnya imam. Maka ia wajib mengikuti pelaksanaan jamaah sholat Jumat dengan niat Jumat. Dan usai imam salam, ia berkeharusan menyempurnakannya dengan sholat dzuhur, maksudnya diharuskan untuk menambahkan empat rakaat. Namun, di saat menyempurnakan rakaatnya ia tidak perlu berniat dzuhur.
Selanjutnya, makmum yang menemukan rakaat kedua imam maka tidak disyaratkan untuk bermakmum dengan imam hingga salam, bahkan diperbolehkan bagi makmum tersebut untuk berniat memisahkan diri (mufaraqah) setelah imam rukuk dan menyelesaikan sholatnya sendiri. Wallahua'lam Bisshawab.
A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.
Editor: Muhammad Faizin


