Dark
Light
Dark
Light

Khutbah Jumat dengan Gerakan Tangan seperti Ceramah, Ini Hukumnya

Khutbah Jumat dengan Gerakan Tangan seperti Ceramah, Ini Hukumnya

Arina.id – Bisa dijumpai gaya khatib saat menyampaikan khutbah Jumat seperti orang yang sedang berceramah atau orasi dengan menggerakkan tangan. Hal ini karena khatib terlalu antusias dan kebetulan tidak memegang tongkat serta didukung dengan mimbar yang bergaya seperti podium.

Terkait dengan hal ini, terdapat perbedaan mendasar antara khutbah Jumat dengan ceramah agama. Ceramah agama lebih fleksibel dengan gaya penyampaian yang tidak terlalu formal. Sedangkan khutbah terkesan formal sebab menjadi standar keabsahan melaksanakan sholat Jumat. Sehingga masih banyak khatib yang berkhutbah dengan membaca teks materi yang telah disiapkan agar lebih efisien waktu dan etika.

Sebenarnya, menggerakkan tangan ketika khutbah tidak menjadi masalah serius yang bisa memengaruhi keabsahannya. Hanya saja gaya berkhutbah seperti ini dianggap kurang beretika. 

Berkhutbah dengan model ceramah seperti menoleh kekanan dan kiri serta mengangkat dan menggerakkan tangan bukan merupakan etika khutbah yang baik. Khatib hendaknya meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri atau melepaskan keduanya.

Syekh Muhammad al-Khathib al-Syirbini menjelaskan sebagai berikut:

وَلِهَذَا يُسَنَّ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ فِي يَدِهِ الْيُسْرَى كَعَادَةِ مَنْ يُرِيدُ الْجِهَادَ بِهِ، وَيُشْغِلُ يَدَهُ الْيُمْنَى بِحَرْفِ الْمِنْبَرِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ سَكَّنَ يَدَيْهِ خَاشِعًا بِأَنْ يَجْعَلَ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى أَوْ يُرْسِلَهُمَا

Artinya: "Untuk itu memegang tongkat/pedang dengan tangan kiri seperti tentara akan berperang, dan tangan kanannya memegang pinggiran mimbar, jika tidak ada pegangan maka khatib menenangkan tangannya dengan khusyu’ yakni dengan bersedekap tangan kanan di atas tangan kiri atau melepaskan keduanya." (Mughnil Muhtaj, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1994], juz  1, hal. 557.).

Mengangkat tangan ketika khutbah juga pernah disinggung dalam hadits mauquf yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam sahihnya no. 874 berikut:

عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ . قَالَ: رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ. فَقَالَ: ‌قَبَّحَ ‌اللهُ ‌هَاتَيْنِ ‌الْيَدَيْنِ. لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا. وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ .

Artinya: "Dari Umarah bin Ru’aibah berkata aku melihat Bisyr bin Marwan di atas minbar mengangkat kedua tangannya, dan dia mengatakan “Semoga Allah menjelekkan kedua tangan ini, aku telah melihat Rasulullah tidak pernah berkata dengan tangan beilau melebihi ini, dan diberi isyarat dengan jari telunjuknya."

Imam Nawawi menafsirkan hadits ini sebagai bentuk kesunnahan bagi khatib untuk tidak mengangkat tangan ketika sedang berkhutbah sebagai berikut:

هَذَا فِيهِ أَنَّ السُّنَّةَ أَنْ لَا يَرْفَعَ الْيَدَ فِي الْخُطْبَةِ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَأَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ 

Artinya: "Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu kesunnahan dalam khutbah adalah tidak mengangkat tangan, dan ini pendapat para pakar kita, dan imam Malik, serta yang lainnya." (Yahya bin Syarf al-Nawawi, al-Minhaj, Syarh Sahih Muslim bin Hajjaj, [Beirut: Dar Ihya Turats Arabi], juz 6, hal. 163.).

Banyak para ulama yang menafsirkan hadits tersebut sebagai bentuk larangan khatib untuk menggerakkan kedua tangannya seperti gaya seorang penceramah untuk mendapatkan perhatian pendengar. Husain bin Abdullah al-Tayyibi menafsirkan sebagai berikut:

قوله: “رافعاً يديه” يعني عند التكلم كما هو دأب الوعاظ إذا حموا. ويشهد له قوله: وأشار ‌بأصبعه ‌المسبحة. قوله: “أن يقول” أي يشير عند التكلم في الخطبة بأصبعه، يخاطب الناس وينبههم علي الاستماع.

Artinya: "Yang dimaksud “mengangkat kedua tangannya” adalah ketika menyampaikan khutbah seperti gaya para penceramah ketika sedang berapi-api dengan argumentasi dalil “dan berisyarat dengan jari telunjuknya”. Yang dimaksud dengan “mengucapkan” yakni berisyarat dengan jari telunjuk ketika berkhutbah kepada para orang-orang dan mengingatkan mereka untuk mendegarkan dengan seksama." (Al-Kasyif an Haqaiqis Sunan, [Makkah Mukarrmah. Nizar Mustafa al-Baaz, 1997], juz 4, hal. 1287.).

Catatan Imam Nawawi tentang kesunnahan meletakkan tangan dengan tenang dan tidak menggerakkannya mengindikasikan hukum makruh bagi yang menggerakkannya ketika berkhutbah. Beliau menjelaskan dalam Raudhatut Thalibin sebagai berikut:

وَيُكْرَهُ لِلْخَطِيبِ أَنْ يُشِيرَ بِيَدِهِ.

Artinya: "Makruh bagi khatib untuk berisyarat dengan tangannya." (Yahya bin Syarf al-Nawawi, Raudhatut Thalibin, [Beirut: Al-Maktab al-Islami, 1991], juz 2, hal. 33.).

Bahkan banyak ulama yang menganggap tindakan ini sebagai bentuk kebodohan dalam khutbah yang dilakukan oleh khatib yang tidak terpelajar sebagaimana catatan Syekh Zakarya al-Anshari berikut:

وَيُكْرَهُ فِي الْخُطْبَةِ مَا ابْتَدَعَهُ الْخُطَبَاءُ الْجَهَلَةُ مِنْ الْإِشَارَةِ بِالْيَدِ أَوْ غَيْرِهَا

Artinya: "Makruh melakukan hal-hal yang diciptakan oleh khatib-khatib tidak berpendidikan seperti isyarat dengan tangan atau yang lainnya." (Asnal Mathalib Syarh Raudhut Thalib, [Darul Kitab al-Islami], juz 1, hal. 260.).

Walhasil, menggerakkan tangan ketika berkhutbah sebagaimana gaya berceramah adalah makruh. Gaya berkhutbah seperti itu merupakan tradisi buruk yang dimunculkan oleh khatib-khatib yang tidak terpelajar dan yang tidak bisa membedakan antara khutbah yang terkesan formal dengan ceramah yang terkesan lebih fleksibel. Hal yang disunnahkan dalam berkhutbah adalah tidak mengangkat tangan. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo