Arina.id - Kementerian Agama telah memutuskan melalui sidang isbat bahwa Idul Adha tahun 1446 H jatuh pada hari Jumat tanggal 06 Juni 2025 M. Lalu dalam hukumnya, apakah tetap harus melaksanakan sholat Jumat ketika paginya sudah selesai melaksanakan sholat Ied.
Ust. Khalid Basalamah dalam sebuah video mengatakan bahwa kalau sudah melaksanakan sholat ied, maka sholat Jumat menjadi sunah. Ia mengatakan sunah dalam artian boleh dilakukan dan boleh tidak dilakukan. Ia menambahkan meskipun boleh tidak sholat Jumat, akan tetapi masih wajib melakukan sholat Dzuhur.
Hadits yang dimaksud oleh Ust. Khalid adalah riwayat al-Hakim dala al-Mustadrak no. 1063 berikut:
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُقْبَةَ الشَّيْبَانِيُّ، بِالْكُوفَةِ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الزُّهْرِيُّ، ثنا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، ثنا إِسْرَائِيلُ، ثنا عُثْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ الثَّقَفِيُّ، عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِي رَمْلَةَ الشَّامِيِّ، قَالَ: شَهِدْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ يَسْأَلُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ: هَلْ شَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ صَنَعَ؟ قَالَ: صَلَّى الْعِيدَ، ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ. فَقَالَ: «مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ»
Artinya: "Dari Iyas bin Abi Ramlah al-Shami berkata, aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam “Apakah kau mengalami dua ied (sholat ied dan Jumat) dalam satu hari bersama Rasulullah ?”. dia menjawab “iya”. Mu’awiyah bertanya “apa yang beliau lakukan?”, dia menjawab “beliau sholat Ied, kemudian meringankan sholat Jumat, dan beliau bersabda “Siapa yang ingin sholat Jumat, maka lakukanlah””.
Secara eksplisit, hadits tersebut memberikan pemahaman tidak mewajibkan melakukan sholat Jumat bagi yang sudah melakukan sholat Ied di pagi harinya. Sayangnya Ust. Khalid sama sekali tidak menyinggung perbedaan pendapat para ulama lintas madzhab, khususnya madzhab Syafi’i yang menjadi kiblat cara berfiqih mayoritas masyarakat Indonesia.
Terkait problematika ini, ulama lintas madzhab berbeda pendapat, dan keterangan yang disampaikan Ust. Khalid di atas ternyata masih banyak catatan yang harus diperhatikan.
Berikut catatan dalam Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah [vol. 27, hal. 209]:
اجتماع العيد والجمعة في يوم واحد: ذهب الحنفية والمالكية إلى أنه إذا وافق العيد يوم الجمعة فلا يباح لمن شهد العيد التخلف عن الجمعة. قال الدسوقي: وسواء من شهد العيد بمنزله في البلد، أو خارجها
Artinya: "Sholat Ied dan Jumat di Hari yang Sama. Menurut madzhab Hanafi dan Maliki, Jika Ied bertepatan di hari Jumat, maka bagi orang yang melaksanakan sholat Ied tidak boleh meninggalkan sholat Jumat, menurut al-Dasuqi sama saja baik pelaku sholat Ied melakukannya di rumah dalam daerahnya atau di luar daerahnya."
وذهب الحنابلة إلى أنه إذا اجتمع العيد والجمعة في يوم واحد فصلوا العيد والظهر جاز وسقطت الجمعة عمن حضر العيد؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم صلى العيد، وقال: من شاء أن يجمع فليجمع
Artinya: "Menurut madzhab Hanbali, jika sholat ied dan sholat Jumat berada di hari yang sama, dan masyarakat melaksanakan sholat Ied dan Dzuhur, hal ini boleh dilakukan, dan sholat Jumat tidak harus dilakukan bagi orang yang melakukan sholat Ied, sebab Nabi melakukan sholat Ied dan bersabda “siapa yang ingin menjamaknya maka menjamaklah”.
وصرحوا بأن إسقاط الجمعة حينئذ إسقاط حضور, لا إسقاط وجوب، فيكون حكمه كمريض ونحوه ممن له عذر أو شغل يبيح ترك الجمعة، ولا يسقط عنه وجوبها فتنعقد به الجمعة ويصح أن يؤم فيها.
Artinya: "Para ulama menjelaskan bahwa gugurnya sholat Jumat di hari itu merupakan gugur kehadirannya saja, bukan gugur kewajibannya, maka hukumnya adalah sama halnya orang sakit dan udzur sholat Jumat lainnya yang memperbolehkan tidak melaksanakannya, dan kewajibannya tidak serta-merta gugur, dan dia masih sah melaksanakan sholat Jumat, dan bahkan menjadi imam. "
والأفضل له حضورها خروجا من الخلاف. ويستثنى من ذلك الإمام فلا يسقط عنه حضور الجمعة، لحديث أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا مجمعون ولأنه لو تركها لامتنع فعلها في حق من تجب عليه، ومن يريدها ممن سقطت عنه
Artinya: "Yang utama adalah tetap melakukan sholat Jumat atas dasar membebaskan diri dari perkhilafan. Yang dikecualikan dari bolehnya tidak sholat Jumat ini adalah imam, maka baginya sholat Jumat tidak gugur sebab hadits Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda “sungguh telah berkumpul dua hari raya di harimu ini, siapa yang ingin melakukannya maka cukup baginya untuk tidak melaksanakan sholat Jumat, sedangkan kami melakukan keduanya”, dan juga jika dia (imam) tidak melaksanakan sholat Jumat, maka akan mengganggu orang yang wajib melaksanakannya (seperti penganut madzhab selain Hanbali), dan juga yang tidak wajib melakukannya akan tetapi ingin melaksanakannya. "
وأجاز الشافعية في اليوم الذي يوافق فيه العيد يوم الجمعة لأهل القرية الذين يبلغهم النداء لصلاة العيد: الرجوع وترك الجمعة، وذلك فيما لو حضروا لصلاة العيد ولو رجعوا إلى أهليهم فاتتهم الجمعة؛ فيرخص لهم في ترك الجمعة تخفيفا عليهم. ومن ثم لو تركوا المجيء للعيد وجب عليهم الحضور للجمعة، ويشترط أيضا لترك الجمعة أن ينصرفوا قبل دخول وقت الجمعة
Artinya: "Madzhab Syafi’ membolehkan bagi penduduk plosok desa yang hadir sholat Ied di pusat daerah untuk pulang dan tidak melaksanakan sholat Jumat di lokasi sholat Ied tersebut, sebab jika dia harus pulang dan kembali ke lokasi masjid untuk melakukan sholat Jumat, maka waktunya akan habis diperjalanan, oleh karena itu mereka mendapatkan dispensasi untuk tidak melaksanakan sholat Jumat. Maka dari itu, jika mereka tidak hadir sholat Ied, mereka wajib hadir sholat Jumat, dan juga disyaratkan bagi mereka yang tidak melaksanakan sholat Jumat di hari itu untuk pulang dari lokasi sholat Ied sebelum adzan Jumat dikumandangkan."
Catatan Ensiklopedia Fiqih Kuwait tersebut jelas menunjukkan bahwa hanya madzhab Hanbali yang memperbolehkan untuk tidak melaksanakan sholat Jumat ketika selesai sholat Ied dipagi harinya. Akan tetapi kebolehan itu sama halnya terhitung sebagai udzur sholat Jumat, bukan berarti menggugurkan kewajibannya bagi orang tersebut secara mutlak.
Terkhusus ketentuan dalam madzhab Syafi’i, jika melihat realita kekinian, maka kesimpulan hukumnya menjadi wajib secara mutlak. Pasalnya, hampir bisa disimpulkan bahwa tidak ada udzur yang memberatkan untuk kembali ke masjid untuk melaksanakan sholat Jumat di hari itu. Hal ini bisa dilihat dari faktor mudahnya akses untuk pergi ke masjid dan banyaknya masjid sehingga tidak perlu menempuh jarak jauh.
Berbeda dengan konteks hukum klasik dari problematika ini, yakni orang plosok desa yang harus menempuh jarak jika akan melaksanakan sholat Jumat atau sholat Ied di lokasi yang sama. Dia dianggap udzur jika harus pulang pergi sejak selesai sholat Ied, dan boleh untuk tidak melaksanakan sholat Jumat serta menggantinya dengan sholat Dzuhur. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


