Arina.id - Bagi umat Islam bulan Sya’ban merupakan momen yang tepat untuk memperbanyak amal ibadah kebaikan. Pasalnya, di samping bulan Sya’ban adalah bulan yang mulia, ada beberapa hadits sahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW berpuasa sunnah di bulan Sya’ban lebih banyak dari pada bulan-bulan lain.
Namun banyak dari kita yang terkadang terlalu bersemangat dalam beramal ibadah di bulan Sya’ban dengan melakukan puasa, sampai lupa masih mempunyai tanggungan qadha puasa Ramadhan.
Lantas apakah diperbolehkan berpuasa sunnah Sya’ban namun belum menqadha hutang puasa di bulan Ramadhan?
Syaikh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi dalam kitab karyanya I’anah ath-Thalibin, juz 4, halaman 294, memberikan pandangannya terkait seorang Muslim yang memprioritaskan ibadah sunah daripada ibadah wajib.
Beliau mengutip pendapat dari kitab Az-Zawajir yang menjelaskan bahwa salah satu syarat sahnya diterimanya tobat adalah dengan mengqadha terlebih dahulu ibadah yang telah ditinggalkan. Oleh karena itu, seseorang yang masih memiliki utang puasa Ramadhan tidak diperbolehkan berpuasa sunah sebelum menqadha utang puasa Ramadhan tersebut.
وَعِبَارَةُ الزَّوَاجِرِ: الْحَادِيَ عَشَرَ، أَيْ مِنْ شُرُوطِ التَّوْبَةِ التَّدَارُكُ، فَإِذَا كَانَتِ الْمَعْصِيَةُ بِتَرْكِ عِبَادَةٍ، فَفِي تَرْكِ نَحْوِ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمِ تَتَوَقَّفُ صِحَّةُ تَوْبَتِهِ عَلَى قَضَائِهَا لِوُجُوبِهَا عَلَيْهِ فَوْرًا وَفِسْقِهِ بِتَرْكِهِ، كَمَا مَرَّ. فَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ مِقْدَارَ مَا عَلَيْهِ مِنَ الصَّلَوَاتِ مَثَلًا، قَالَ الْغَزَالِيُّ: تَحَرَّى وَقَضَى مَا تَحَقَّقَ أَنَّهُ تَرَكَهُ مِنْ حِينِ بُلُوغِهِ.
Artinya: ”Dalam kitab Az-Zawajir disebutkan: ”Syarat kesebelas dari syarat-syarat tobat adalah mengganti (qadha). Jika maksiat yang dilakukan adalah dengan meninggalkan ibadah, seperti meninggalkan sholat atau puasa, maka sahnya tobat seseorang tergantung pada mengganti ibadah yang ditinggalkan tersebut. Hal ini karena ibadah itu wajib dilakukan segera, dan meninggalkannya termasuk perbuatan fasik (durhaka), seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Jika seseorang tidak tahu berapa banyak sholat yang harus dia qadha, misalnya, menurut Imam Al-Ghazali hendaknya dia berusaha memperkirakan dan mengqadha sholat yang dia yakin telah ditinggalkannya sejak masa baligh.”
Meskipun demikian, bagi mereka yang tidak ingin melewatkan kesempatan berpuasa sunah di bulan Sya’ban, tetapi juga tidak ingin berdosa karena memilih berpuasa sunah sementara masih memiliki tanggungan qadha puasa Ramadhan, ada solusi yang bisa dilakukan. Mereka bisa menggabungkan dua puasa tersebut sekaligus, yaitu puasa sunah Sya’ban dan puasa qadha Ramadhan.
Hal ini diperbolehkan menurut para ulama. Dengan menggabungkan kedua niat puasa tersebut, seseorang tetap bisa mendapatkan pahala puasa sunah Sya’ban sekaligus menunaikan kewajiban qadha puasa Ramadhan. Dengan demikian, kedua pahala puasa tersebut dapat tercapai.
أَفْتَى جَمْعٌ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ بِحُصُولِ ثَوَابِ عَرَفَةَ وَمَا بَعْدَهُ بِوُقُوعِ صَوْمِ فَرْضٍ فِيهَا.
Artinya: ”Sebagian ulama mutaakhirin (ulama masa kini) telah memberikan fatwa bahwa pahala puasa Arafah dan puasa sunah lainnya bisa didapatkan meskipun seseorang sedang melaksanakan puasa wajib (seperti qadha puasa Ramadhan) pada hari yang sama.” (Fathul Muin, halaman 281)
Adapun niatnya bisa menggunakan lafadz berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَسُنَّةِ شَهْرِ شَعْبَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadā’i farḍi syahri Ramaḍāna wa sunnati syahri Syakbāna lillāhi ta‘ālā.
Artinya: "Aku berniat puasa esok hari untuk mengqadha kewajiban bulan Ramadhan dan puasa sunah bulan Sya’ban karena Allah Ta‘ala."
Demikian penjelasan hukum berpuasa sunnah Sya’ban tapi masih punya tanggungan qadha puasa Ramadhan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bissawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


