Arina.id - Memilih pasangan untuk dijadikan pendamping hidup bukanlah perkara sepele. Ada banyak aspek penting yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Sebab, layaknya ketika kita ingin membeli sebuah barang, tentu kita akan berusaha mencari tahu kualitas barang tersebut dengan teliti. Apalagi ini menyangkut pasangan hidup yang akan menemani kita hingga akhir hayat, tentu diperlukan kehati-hatian yang jauh lebih besar dalam memilih.
Sayangnya, masih banyak orang yang hanya terpaku pada paras atau materi, tanpa memperhatikan kepribadian calon pasangan mereka. Padahal, karakter seseorang akan sangat berpengaruh pada kebahagiaan rumah tangga di masa depan.
Lalu, apa saja 6 ciri kepribadian wanita yang sebaiknya tidak direkomendasikan untuk dinikahi? Simak penjelasan lengkapnya!
Pada dasarnya, ada banyak faktor yang dapat menciptakan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Namun, salah satu faktor terpenting adalah perilaku istri. Sebab, Rasulullah SAW dalam sebuah hadits menjelaskan bahwa istri yang salehah adalah anugerah terbesar bagi seorang suami.
الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
Artinya: "Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita (istri) yang salehah." (HR. Muslim)
Tak berlebihan jika Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam magnum opusnya Ihya’ Ulumiddin mewanti-wanti para laki-laki yang hendak memilih pasangan hidup untuk menikahi wanita yang memiliki akhlak baik. Sebab, wanita berakhlak baik dapat menjadi pendukung dan pendorong suaminya dalam menjalankan kewajiban syariat Islam.
Oleh karena itu, Imam Ghazali mengingatkan agar seorang laki-laki tidak menikahi wanita yang memiliki 6 karakter buruk, dengan menukil perkataan orang Arab berikut:
لَا تُنْكِحُوا مِنَ النِّسَاءِ سِتًّا: لَا أَنَّانَةً وَلَا مَنَّانَةً وَلَا حَنَّانَةً، وَلَا تُنْكِحُوا حَدَّاقَةً وَلَا بَرَّاقَةً وَلَا شَدَّاقَةً
Artinya: "Janganlah kalian menikahi enam jenis wanita: wanita ananah, mananah, hananah, haddaqah, barraqah, dan wanita shadaqah." (Ihya’ Ulumiddin, juz 2 hal. 38)
Pertama, annanah, yaitu wanita yang suka mengeluh, sering merasa sakit, atau bahkan pura-pura sakit. Menikahi wanita seperti ini tentu akan membuat suami merasa pusing dan terbebani. Sebab, jika dalam rumah tangga muncul masalah sedikit saja, ia akan mudah mengeluh dan meratapi nasibnya, sehingga suami pun kesulitan menemukan ketenangan di rumah.
Kedua, mannanah, yaitu wanita yang suka mengungkit-ungkit jasanya kepada suami. Menikahi wanita seperti ini tentunya akan menimbulkan konflik yang tiada habisnya. Sebab, setiap kali terjadi perbedaan pendapat atau masalah kecil, ia akan selalu mengingatkan suaminya tentang apa saja yang pernah ia lakukan atau korbankan, seolah-olah semua kebaikannya hanya untuk dituntut balas, bukan dilakukan dengan tulus ikhlas.
Ketiga, hannanah, yaitu wanita yang belum bisa melupakan (move on) dari kisah cintanya di masa lalu atau masih terikat dengan kenangan masa kelamnya. Menikahi wanita seperti ini bisa menjadi beban bagi suami, karena jika ia terus membandingkan suaminya dengan orang di masa lalunya, suami akan merasa cemburu, tersakiti, dan tidak dihargai.
Pada akhirnya, hal ini dapat merusak keharmonisan rumah tangga karena istri tidak sepenuhnya menyerahkan hati dan pikirannya untuk suaminya saat ini.
Keempat, haddaqah, yaitu wanita yang matanya selalu melirik kepada apa saja yang dilihatnya hingga ia menginginkannya dan menuntut suami untuk membelinya. Sifat ini bisa diartikan sebagai wanita yang boros dan tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan.
Jika memiliki sifat seperti ini, ia bisa menjadi beban bagi suami, sebab finansial rumah tangga akan cepat habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Selain itu, wanita seperti ini juga cenderung kurang bersyukur atas apa yang sudah dimilikinya.
Kelima, barraqah, yaitu wanita yang terlalu sibuk merawat diri dan berdandan sepanjang hari hanya untuk terlihat cantik di depan orang lain. Ia menghabiskan banyak waktu dan uangnya untuk skincare, makeup, atau perawatan tanpa memikirkan kewajiban lain.
Barraqah juga diartikan sebagai wanita yang mudah marah saat makan, misalnya kalau makanannya disentuh orang lain langsung ngambek atau marah. Wanita seperti ini terkesan egois, kurang peduli dengan sekitar, dan hanya fokus pada penampilan serta kepuasan dirinya sendiri.
Keenam, shaddaqah, yaitu wanita yang terlalu banyak ngomong, cerewet, dan suka memotong pembicaraan orang lain. Sifat seperti ini bikin suami capek karena merasa nggak pernah didengarkan, padahal dalam rumah tangga, saling mendengarkan itu penting banget.
Perlu diingat, 6 sifat ini tentu bukan hanya berlaku bagi wanita saja. Laki-laki pun demikian, bahkan lebih utama untuk menjaga akhlaknya karena mereka adalah kepala keluarga. Oleh karena itu, sifat-sifat tersebut berlaku bagi kedua belah pihak, baik laki-laki maupun perempuan. Jika ingin memilih pasangan, pertimbangkanlah 6 karakter ini agar rumah tangga yang dibangun dipenuhi ketenangan dan keberkahan.
Lantas, bagaimana jika sudah terlanjur menikah dan ternyata pasangan memiliki salah satu dari enam karakter tersebut? Yang harus dilakukan adalah bersabar, berikhtiar menegur, dan menasihatinya dengan cara yang baik.
Ada ungkapan unik dari Imam Al-Ghazali, bahwa pasangan yang bersabar atas perilaku buruk pasangannya merupakan ujian yang diberikan kepada para kekasih Allah:
وَالصَّبْرُ عَلَى لِسَانِ النِّسَاءِ مِمَّا يُمْتَحَنُ بِهِ الْأَوْلِيَاءُ
Artinya: “Bersabar menghadapi perilaku pasangan yang buruk adalah ujian yang diberikan kepada para wali (kekasih Allah).” (Ihya’ Ulumiddin, juz 2 hal. 38). Wallahu a’lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


