Dalam pidato perdananya setelah resmi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto memberikan penghormatan khusus kepada para presiden sebelumnya yang telah berperan dalam perjalanan bangsa. Pidato yang penuh dengan rasa syukur dan optimisme ini mencerminkan semangat kerja sama serta kesinambungan pembangunan yang menjadi salah satu poin penting dalam kepemimpinannya.
Prabowo mengawali pernyataan terimakasihnya kepada Presiden Soekarno yang menurutnya telah memberikan ideologi Pancasila pada bangsa Indonesia. Beliau bersama Hatta, Syahrir dan lainnya sudah keluar masuk penjara, dibuang kemana-mana sejak muda karena memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan tidak mau bangsa ini menjadi darah bagi bangsa-bangsa lain.
Ia juga menyampaikan terimakasih kepada Presiden Soeharto yang menurutnya telah banyak jasa dalam menyelamatkan dan mengamankan ideologi Pancasila itu sendiri dan telah meletakkan dasar bagi Indonesia yang modern.
Prabowo juga menyampaikan penghormatan kepada para presiden sebelumnya yang lain, seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid,dan B.J. Habibie. Ia menekankan bahwa setiap pemimpin memiliki kontribusi unik dalam membangun negeri ini, dan ia berkomitmen untuk melanjutkan perjuangan mereka.
"Setiap pemimpin memiliki warisan yang berharga bagi bangsa ini, dan tugas kita adalah menjadikan warisan tersebut sebagai kekuatan untuk masa depan yang lebih baik," tambahnya.
Terakhir, Prabowo menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Presiden Joko Widodo. Ia mengakui peran besar Jokowi dalam membawa Indonesia melewati berbagai tantangan, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga penanganan pandemi Covid-19. Prabowo menyebut bahwa banyak capaian Jokowi yang akan menjadi landasan penting bagi pemerintahan ke depan.
"Saya ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo. Beliau telah memberikan pondasi yang kuat bagi kita semua untuk melangkah lebih jauh. Kami akan melanjutkan apa yang telah beliau rintis, dan bersama-sama kita akan memastikan bahwa cita-cita bangsa ini terus terwujud," tegas Prabowo.
Prabowo juga menyoroti pentingnya persatuan dan kerja sama antar semua elemen bangsa dalam menghadapi tantangan global di masa depan. Ia berjanji untuk menjadi presiden yang merangkul semua golongan dan bekerja keras demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
Pidato ini menggarisbawahi sikap Prabowo yang ingin membawa suasana rekonsiliasi politik dan kerja sama, menciptakan pemerintahan yang inklusif dan berorientasi pada hasil nyata. Sebagai presiden, ia berjanji untuk terus membangun hubungan yang baik dengan semua pihak, termasuk para mantan presiden, untuk membawa Indonesia ke masa depan yang lebih cerah.
Dengan penuh semangat dan rasa optimisme, Prabowo menutup pidatonya dengan mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersama-sama membangun negeri ini. "Indonesia adalah milik kita semua, dan hanya dengan kerja sama kita bisa mencapai impian kita. Mari kita bergandengan tangan untuk Indonesia yang lebih kuat, lebih sejahtera, dan lebih dihormati di dunia," tuturnya.
Pidato perdana Prabowo ini mengirimkan pesan yang jelas: kesinambungan, persatuan, dan kerja sama akan menjadi fondasi kuat dalam pemerintahannya.
Hukum Berterima Kasih pada Manusia
Pidato perdana yang disampaikan oleh Prabowo sebagai Presiden Republik Indonesia banyak mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin terdahulu. Hal ini selaras dengan ajaran agama Islam yang sangat menekankan adab baik dalam interaksi antar sesama manusia. Salah satu akhlak mulia yang diperintahkan dalam Islam adalah berterima kasih kepada orang lain.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menyatakan:
لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
Artinya: “Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia”. (HR Abu Dawud dan Ahmad)
Hadits ini menjelaskan bahwa rasa syukur kepada Allah SWT tidak akan sempurna jika seorang Muslim tidak mampu berterima kasih kepada sesama manusia. Hal ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara syukur kepada Allah dengan penghargaan terhadap sesama manusia.
Ketika kita menerima kebaikan dari orang lain, Islam mendorong agar kita mengungkapkan rasa terima kasih sebagai bentuk penghargaan dan pengakuan atas kebaikan tersebut. Sebaliknya, mengabaikan ucapan terima kasih bisa diartikan sebagai sikap yang kurang menghargai kebaikan orang lain, yang juga merupakan perilaku yang tidak baik dalam Islam.
Al-Qur'an sebagai pedoman utama umat Islam juga menekankan pentingnya rasa syukur sebagai tanda keimanan. Meskipun lebih banyak ayat yang membahas syukur kepada Allah SWT, namun beberapa prinsip tentang rasa syukur kepada manusia juga dapat diambil dari ajaran Al-Qur'an. Sebagai contoh, dalam Surat Luqman ayat 14, Allah SWT berfirman:
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ
Artinya: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; hanya kepada-Ku lah kembalimu."
Ayat ini menekankan kewajiban berbuat baik dan bersyukur kepada orang tua, yang secara khusus disebutkan karena jasa dan pengorbanan mereka dalam membesarkan anak-anaknya. Dengan demikian, ayat ini mengajarkan bahwa selain bersyukur kepada Allah SWT, kita juga diwajibkan untuk bersyukur dan berterima kasih kepada manusia, terutama kepada orang-orang yang telah berjasa dalam hidup kita seperti presiden-presiden sebelumnya yang telah memimpin bangsa kita. Wallahu a’lam bis shawab.
Editor: Muhammad Faizin


