Kalimat talbiyah adalah bacaan yang dilafalkan oleh para jemaah yang tengah melakukan ibadah haji maupun umrah. Kalimat talbiyah dibaca mulai mereka berniat ihram umrah atau haji di tanah halal sampai memasuki Masjidil Haram. Kumandang talbiyah ini dianjurkan untuk senantiasa dibaca oleh jemaah haji hingga prosesi lempar Jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah.
Adapun kalimat talbiyah yang kerap diucapkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat ialah sebagai berikut:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ
Artinya: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sungguh, segala puji, nikmat, dan segala kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.” (H.R. Al-Bukhari)
Bacaan talbiyah dianjurkan untuk dibaca dengan keras dan lantang bagi jemaah laki-laki. Adapun perempuan dianjurkan untuk membacanya dengan lirih sekira bisa mendengarkan suaranya sendiri. Perihal anjuran ini, Rasulullah saw bersabda:
أَتَانِي جِبْرِيْلُ فَأَمَرَنِي أَنْ آمُرَ أَصْحَابِي أَوْ مَنْ مَعِيَ أَنْ يَرْفَعُوْا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ أَوْ بِالْإِهْلَالِ يُرِيدُ أَحَدَهُمَا
Artinya: “Jibril mendatangiku dan menyuruhku agar memerintahkan kepada para sahabatku, atau siapa saja yang bersamaku untuk meninggikan suaranya dengan bacaan talbiyah atau tahlil saat berihram. Yang dimaksud oleh perawi adalah salah satunya.” (H.R. Imam Malik)
Lalu, bagaimana perempuan yang sedang mengalami haid saat menjalankan rangkaian ibadah haji ataupun umrah. Bolehkah perempuan haid membaca kalimat talbiyah?
Berdasarkan ketetapan fiqih mazhab Syafi’i, perempuan yang sedang menstruasi hukumnya dibolehkan untuk melafalkan zikir dengan hati dan lisannya. Begitu pula ia diperkenankan untuk membaca tasbih, tahlil, tahmid, takbir, shalawat, memanjatkan doa dan yang lainnya.
Ketentuan demikian seperti yang disampaikan oleh Imam An-Nawawi (wafat 678 H) dalam kitabnya:
أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الْذِّكْرِ بِالْقَلْبِ وَالْلِّسَانِ لِلْمُحْدِثِ وَالْجُنُبِ وَالْحَائِضِ وَالْنُّفَسَاءِ، وَذَلِكَ فِيْ الْتَّسْبِيْحِ وَالْتَّهْلِيْلِ وَالْتَّحْمِيْدِ وَالْتَّكْبِيْرِ وَالْصَّلَاةِ عَلَى رَسُوْلِ الله صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْدُّعَاءِ وَغَيْرُ ذَلِكَ
Artinya: “Para ulama telah sepakat atas kebolehannya zikir lewat hati dan lisan bagi orang yang sedang berhadats kecil, junub, haid dan juga nifas. Zikir yang dimaksud adalah bacaan tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan shalawat kepada Rasulullah saw serta boleh berdoa dan selainnya.” (Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkar [Beirut: Dar Al-Fikr], h. 11)
Menilik keterangan Imam An-Nawawi di atas, maka jemaah haji perempuan yang tengah haid hukumnya diperkenankan serta masih tetap dianjurkan untuk membaca kalimat talbiyah. Hal ini juga selaras dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Syekh Ibn Hajar Al-Haitami (wafat 974 H):
وَيُسْتَحَبُّ الْإِكْثَارُ مِنْهَا أَيْ مِنَ الْتَّلْبِيَّةِ فِيْ دَوَامِ إِحْرَامِهِ حَتَّى لِنَحْوِ الْحَائِضِ
Artinya: “Jemaah haji yang sedang ihram dianjurkan untuk memperbanyak membaca talbiyah saat dalam kondisi ihram bahkan bagi jamaah haji perempuan yang sedang haid sekalipun.” (Ahmad bin Muhammad bin Ali Ibn Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim [Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah], vol. 1, h. 277)
Kesimpulan
Jemaah haji perempuan dalam kondisi haid hukumnya boleh serta masih tetap dianjurkan untuk membaca kalimat talbiyah. Bacaan talbiyah merupakan syiar bagi orang yang ihram. Karenanya anjuran melafalkan talbiyah berlaku terhadap jemaah laki-laki maupun perempuan entah dalam kondisi suci ataupun haid sekalipun. Wallahu a'lam bisshawab.
A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.
Editor: Muhammad Faizin


