Arina.id - Bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan ampunan. Perubahan pola makan, jam istirahat, hingga ritme kerja tubuh adalah hal yang wajar. Sebagian orang bahkan memanfaatkan siang hari untuk lebih banyak beristirahat agar kuat hingga waktu berbuka.
Tidak sedikit pula yang berdalil dengan hadits tentang “tidurnya orang puasa adalah ibadah.”
Hadits Tentang Tidurnya Orang Puasa
Dalam kitab Syu'ab al-Iman karya Imam Al-Baihaqi disebutkan:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَذَنْبُهُ مَغْفُورٌ
Artinya: "Dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata, Rasulullah bersabda, tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan (mustajab), dosanya terampuni"
Redaksi serupa juga disebutkan dalam Hilyatul Auliya:
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَنَفَسُهُ تَسْبِيحٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ
Artinya: "Dari Ibn Mas’ud, ia berkata, Rasulullah bersabda, tidurnya orang berpuasa itu ibadah, nafasnya tasbih, doanya dikabulkan"
Hadits ini secara makna menunjukkan kemuliaan orang yang sedang berpuasa. Bahkan dalam keadaan istirahat, ia tetap berada dalam suasana ibadah karena ia sedang menjalankan perintah Allah.
Namun, para ulama menjelaskan bahwa hadis ini tidak boleh dipahami secara keliru.
Apakah Boleh Tidur Seharian?
Sebagian orang memahami hadits tersebut sebagai pembenaran untuk rebahan dan tidur seharian penuh sambil menunggu waktu berbuka. Padahal, pemahaman seperti ini tidak tepat.
Puasa bukan alasan untuk meninggalkan aktivitas, kewajiban, atau produktivitas. Rasulullah dan para sahabat tetap bekerja, berjihad, berdagang, dan beraktivitas normal di bulan Ramadhan.
Tidur memang bisa bernilai ibadah, jika:
• Dilakukan setelah menyelesaikan kewajiban.
• Bertujuan menjaga stamina agar kuat beribadah.
• Tidak sampai melalaikan sholat atau tanggung jawab lainnya.
Sebaliknya, jika tidur dijadikan sarana bermalas-malasan dan meninggalkan kewajiban, maka tentu tidak bernilai ibadah.
Penjelasan Imam Al-Ghazali
Dalam Ihya’ Ulum al-Din, Imam Al-Ghazali menegaskan:
بل من الآداب أن لا يكثر النوم بالنهار حتى يحس بالجوع والعطش ويستشعر ضعف القوي فيصفو عند ذلك قلبه
Artinya: "Sebagian dari etika dalam puasa adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari, hingga seseorang merasakan lapar dan haus serta dapat merasakan kekuatan yang melemah, sehingga dengan demikian hati akan menjadi jernih," (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, juz 1, hal. 246).
Artinya, rasa lapar dan haus justru memiliki fungsi spiritual yakni melembutkan hati dan menghadirkan kesadaran diri. Jika sepanjang hari dihabiskan untuk tidur, maka hikmah ini bisa hilang.
Jadi hakikat “Tidurnya Orang Puasa Ibadah” yang tepat adalah:
• Orang yang berpuasa berada dalam keadaan ibadah sepanjang hari.
• Bahkan aktivitas mubah seperti tidur bisa bernilai pahala karena ia sedang dalam ketaatan.
• Namun, ini bukan anjuran untuk memperbanyak tidur tanpa alasan.
Puasa adalah latihan pengendalian diri, bukan latihan bermalas-malasan.
Kesimpulan
- Hadits tentang tidurnya orang puasa menunjukkan kemuliaan orang yang berpuasa.
- Tidur bisa bernilai ibadah jika tidak melalaikan kewajiban.
- Memperbanyak tidur hingga meninggalkan tanggung jawab bukanlah tujuan puasa.
- Ramadhan adalah momentum meningkatkan amal, menjaga lisan, menahan emosi, dan memperbanyak ibadah.
Maka, rebahan atau tidur di siang hari Ramadhan bukanlah masalah selama proporsional dan tidak melalaikan kewajiban. Namun menjadikannya alasan untuk bermalas-malasan jelas bertentangan dengan semangat Ramadhan itu sendiri. Wallahu a’lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


