Dark
Light
Dark
Light

Etika Berteman di Media Sosial

Etika Berteman di Media Sosial

Manusia tidak bisa dilepaskan dari dimensi sosial. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Manusia satu dengan lainnya ibarat satu jasad utuh yang memiliki anggota berupa kepala kaki, tangan, yang kesemuanya saling membantu, melengkapi. Bila salah satunya sakit, maka yang lain turut merasakan sakit.

Salah satu hadits menyiratkan hal ini:

مثلُ المؤمنين في تَوادِّهم ، وتَرَاحُمِهِم ، وتعاطُفِهِمْ . مثلُ الجسَدِ إذا اشتكَى منْهُ عضوٌ تدَاعَى لَهُ سائِرُ الجسَدِ بالسَّهَرِ والْحُمَّى

Artinya: "Perumpamaan antar kaum mukminin dalam cinta, kasih sayang, dan simpatinya ibarat satu jasad yang apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain merasakannya dengan ditandai sulit tidur dan demam" (HR. Bukhari) 

Dalam hadits yang lain juga disebutkan:

عن أبي موسى الأشعري ـ رضي الله عنه ـ عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال : ” المؤمن للمؤمن كالبنيان ، يشد بعضه بعضاً ، ثم شبك بين أصابعه ، وكان النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ جالساً ، إذ جاء رجل يسأل ، أو طالب حاجة أقبل علينا بوجهه ، فقال : اشفعوا تؤجروا ، ويقضي الله على لسان نبيه ما شاء ” . رواه البخاري ، ومسلم ، والنسائي

Artinya: "Dari Abu Musa Al Asy’ari dari Nabi Muhammad bersabda: Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Kemudian Nabi Muhammad menggabungkan jari-jari tangannya. Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki meminta bantuan. Nabi hadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Tolonglah dia, maka kamu akan mendapatkan pahala. Dan Allah menetapkan lewat lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki." (HR. Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i)

Kedua redaksi hadits ini menunjukkan betapa pentingnya persahabatan, persaudaraan, persatuan antar umat Islam yang diibaratkan bangunan kokoh, jasad yang utuh dan prima. 

Seperti yang telah diketahui, di era teknologi setiap individu memiliki banyak kesempatan untuk merajut persaudaraan, meskipun jarak tempuhnya jauh. Bayangkan, tempat tinggal yang berjarak ribuan kilometer dapat dikontrol, diringkas melalui telepon genggam. 

Tak ayal, perjumpaan maupun percakapan melalui video call dapat dengan mudah dilakukan kapanpun dimanapun, asalkan ada jaringannya. Mengingat betapa mudahnya seseorang berinteraksi dengan siapa pun, tentu yang harus diperhatikan adalah etika berteman, apalagi di dunia maya atau media sosial.

Terlebih pertemanan dengan siapa pun tidak ada larangan, bahkan dengan sejumlah tokoh, artis, pejabat dan semacamnya.

Dalam salah satu karya Al-Ghazali, al-Adab fid Din diterangkan:

آداب الإخوان: الاستبشار بهم عند اللقاء، والابتداء بالسلام

Artinya: "Etika berteman yaitu, bersukacita ketika berjumpa dan mengawali untuk mengucapkan salam."

Kemudian etika selanjutnya adalah:

 والإنصات عند الكلام، وتكره المجادلة في المقال، وحسن القول للحكايات، وترك الجواب عند انقضاء الخطاب، والنداء بأحب الأسماء

Artinya: "Mendengarkan pembicaraannya, tidak mendebat ucapannya, menceritakan hal yang baik, tidak menyela pembicaraan, dan menyebut dengan panggilan yang disukai olehnya. "

Jika ditarik dalam konteks pertemanan di dunia maya, maka beberapa etika yang dijelaskan Al-Ghazali ini dapat diterjemahkan sebagai berikut:

  1. Gembira saat bertemu kawan di media sosial, atau senang saat memiliki teman baru.
  2. Menyapa dengan sopan, jika Muslim, maka sapalah dengan salam.
  3. Mendengarkan pembicaraan teman dan disimak penjelasannya. Jika teman baru, maka perhatikan saat perkenalan dengan dirinya.
  4. Sebaiknya hindari debat kusir dengan teman di media sosial, sebab perdebatan di media, kadang menimbulkan sakit hati.
  5. Bercerita dengan narasi yang proporsional, tidak terlalu dilebih-lebihkan dan bercerita tentang hal-hal yang baik.
  6. Tidak menyela jawaban saat teman sedang berbicara. Dengarkan pembicaraannya hingga selesai poinnya. Jika memang diberi kesempatan untuk berbicara, maka berbicaralah.
  7. Memanggil dengan sebutan yang disukai olehnya. Biasanya nama panggilan yang disenangi itu berasal dari nama aslinya.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa berteman adalah upaya untuk menjalin kekompakan, kerukunan, dan persatuan. Dalam rangka mewujudkan pertemanan yang solid, harus memperhatikan beberapa etika berteman, terlebih di media sosial. Wallahu a'lam


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo