Arina.id - Saat Hari Raya Idul Fitri, kita akan melihat pemandangan yang amat mengharukan dan menyejukkan mata, ajang saling memaafkan, baik di kalangan tetangga, rekan kerja, maupun keluarga. Ada yang rela jauh-jauh pulang kampung hanya untuk sekadar meminta maaf dan menyambung serta mempererat tali silaturahim.
Sungguh indah, bukan? Ketika melihat tangan saling berjabat, senyum mewarnai wajah, dan hati yang kembali bersih setelah setahun penuh bergelut dengan berbagai kesalahan dan kealpaan. Idul Fitri layaknya oase yang menyegarkan, tempat di mana ego dilebur dan luka lama diobati dengan ketulusan.
Tradisi saling memaafkan seperti hari raya Idul Fitri juga mendapat apresiasi dan anjuran langsung oleh Allah SWT, dalam Al Qur’an surah An Nur ayat 22 Allah berfirman;
وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Selain itu, saling memaafkan di hari raya Idul Fitri juga termasuk kunci untuk masuk surga. Gus Baha, ulama ternama sekaligus santri kesayangan KH Maimoen Zubair dalam sebuah video Youtube mengatakan, bahwa salah satu syarat masuk surga adalah terbebas dari hak adami, dan hal tersebut berawal dari saling memaafkan.
“Kita di hari raya ini kembali disebut “minal ‘aidin” yakni kembali menjadi ahli surga, dan itu dimulai dari saling memaafkan, karena yang menghalangi masuk surga itu hak adami, sebab manusia itu kan paling kikir untuk memaafkan orang lain, padahal kalau hak adami itu belum selesai, Allah nggak mau memaafkan. Makanya syarat masuk surga harus kita saling memaafkan” katanya.
Perkataan Gus Baha sejalan dengan penjelasan Imam Nawawi dalam Al-Adzkar. Beliau menjelaskan bahwa jika seseorang berbuat dosa kepada Allah, syarat taubatnya ada tiga: pertama, segera berhenti dari maksiat tersebut; kedua, menyesali perbuatannya; dan ketiga, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
Sedangkan jika dosa itu berkaitan dengan hak sesama manusia (hak adami) seperti contoh membunuh, mencuri dan lain lain. Ada syarat tambahan, yaitu mengembalikan hak orang yang dizalimi atau meminta maaf hingga dimaafkan.
وَٱلتَّوْبَةُ مِنْ حُقُوقِ ٱللَّهِ تَعَالَى يُشْتَرَطُ فِيهَا ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: أَنْ يُقْلِعَ عَنِ ٱلْمَعْصِيَةِ فِي ٱلْحَالِ، وَأَنْ يَنْدَمَ عَلَىٰ فِعْلِهَا، وَأَنْ يَعْزِمَ أَلَّا يَعُودَ إِلَيْهَا. وَٱلتَّوْبَةُ مِنْ حُقُوقِ ٱلْآدَمِيِّينَ يُشْتَرَطُ فِيهَا هَذِهِ ٱلثَّلَاثَةُ وَرَابِعٌ، وَهُوَ: رَدُّ ٱلظُّلْمَةِ إِلَىٰ صَاحِبِهَا، أَوْ طَلَبُ عَفْوِهِ عَنْهَا، وَٱلْإِبْرَاءُ مِنْهَا
Artinya: ”Syarat agar taubat diterima oleh Allah adalah kita harus melakukan 3 hal berikut; pertama berhenti dari maksiat yang telah dilakukan, kedua menyesal telah melakukan kemaksiatan, dan ketiga bertekad untuk tidak melakukannya lagi. Apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia (hak adami) selain kita melakukan 3 hal diatas kita juga harus mengembalikan hak kepada orang yang telah kita dzalimi atau meminta maaf kepadanya”. (Al Adzkar An Nawawi, [Dar Ibnu Hazm, 2002] halaman 550)
Oleh karena itu, tradisi saling memaafkan saat Idul Fitri sangat penting bagi setiap Muslim. Selain mempererat silaturahmi, saling memaafkan juga menjadi kunci agar kelak dimudahkan masuk surga.
Sebab hari raya yang identik dengan ucapan Minal ‘Aidin wal Faizin memiliki makna bahwa kita kembali menjadi ahli surga. sehingga sangatlah merugi jika setelah berpuasa sebulan penuh, namun masih menyisakan dosa kepada sesama. Sebab, dosa itulah yang dapat menjadi penghalang kita untuk meraih surga. Semoga bermanfaat Minal ‘Aidin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin. Wallahu a'lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


