Dark
Light
Dark
Light

Surat Hud: Kronologi Penamaan, Kandungan tiap Ayat dan Kisah Kaum Aad

Surat Hud: Kronologi Penamaan, Kandungan tiap Ayat dan Kisah Kaum Aad

Surat Hud, surat nomor 11 yang ditulis dalam urutan kodifikasi Al-Qur’an setelah surat Yunus. Sama seperti surat sebelumnya, surat ini termasuk dalam kategori surat Makkiyah kecuali tiga ayat yakni ayat ke-12, 17, dan 114. 

Muhammad Amin al-Harari dalam Hadaiqur Ruh war Raihan fi Rawabi Ulumil Qur’an (2021) memerinci Surat Hud terdiri dari 123 ayat, 1.725 kata, dan 9567 huruf. 

Surat ini berbicara tentang beberapa hal sebagaimana yang dicatat oleh al-Zuhaili berikut ini:

  1. Pengukuhan Al-Qur’an diturunkan dari Allah dalam ayat ke-11 hingga ke-14.
  2. Keesaan Allah dalam ayat ke-2 dan ke-7.
  3. Pengukuhan hari kebangkitan dan pembalasan dalam ayat ke-4 dan ke-7.
  4. Menguji manusia untuk mengetahui kebaikan amal mereka dalam ayat ke-7.
  5. Perbandingan antara watak mukmin dan kafir dalam ayat ke-9 sampai ke-11.
  6. Ketergesaan manusia terhadap kebaikan dan kemanfaatan dalam ayat ke-8.
  7. Macam-macam tabiat manusia dalam ayat ke-118 sampai 119.
  8. Kisah-kisah para Nabi sebagai penghibur untuk Nabi Muhammad dari prilaku kafir Quraisy dalam ayat ke-120.
  9. Komentar langsung terhadap kisah-kisah tersebut tentang pelajaran dan nasehat dalam ayat ke-100 dan ke-111.
  10. Perintah konsisten dalam beragama terdapat dalam ayat ke-112.
  11. Tirani penyebab kehancuran dalam ayat ke-113.
  12. Perintah melaksanakan shalat pada waktunya dalam ayat ke-111.
  13. Memerangi kerusakan di bumi sebagai upaya melestarikan ras manusia dari kehancuran dalam ayat ke-116.
  14. Tiada azab untuk suatu umat ketika dalam perdamaian dalam ayat ke-117.
  15. Ancaman azab bagi para pembelot dari kebenaran.
  16. Akhir surat seperti awalnya yakni perintah beribadah kepada Allah, tawakal kepada-Nya, dan ancaman terhadap siksa-Nya. (Wahbah  bin Musthafa al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, [Beirut: Darul Fikr, 2009],  Juz 6, hal. 313-317.). 

Baca Al-Qur'an: Surat Hud

Terdapat satu ayat yang dinasakh dalam surat ini sebagaimana menurut catatan Ahmad bin Muhammad al Nahhas dalam kitab Al-Nasikh wal Mansukh fi Kitabillah al-Aziz wa Ikhtilafil Ulama fi dzalik, (Riyadh: Dar al-Ashimah, 2009, Juz 2, hal 473.) yang meriwayatkan dari Juwaibir, dari al-Dhahhak, dari Ibnu Abbas yakni ayat ke-15, dinasakh dengan surat al-Isra’ ayat 18, sebagai berikut:


مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ 

Artinya: Siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan kepada mereka (balasan) perbuatan mereka di dalamnya dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. (QS. Hud. Ayat 15.)


مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَه فِيْهَا مَا نَشَاۤءُ لِمَنْ نُّرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَه جَهَنَّمَۚ يَصْلٰىهَا مَذْمُوْمًا مَّدْحُوْرًا 

Artinya: Siapa yang menghendaki kehidupan sekarang (duniawi) Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki. Kemudian, Kami sediakan baginya (neraka) Jahanam. Dia akan memasukinya dalam keadaan tercela lagi terusir (dari rahmat Allah). (QS. Al-Isra. Ayat 18.). 

Surat ini dinamakan Hud sudah sejak era Rasulullah masih hidup dengan bukti banyak sekali riwayat hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah menyinggung nama surat ini dalam haditsnya, diantaranya adalah hadits yang dikutip oleh al-Suyuthi berikut:


أخرج الدارمي و أبو داود في مراسيله وأبو الشيخ وابن مردويه والبيهقي في شعب الايمان عن كعب رضي الله عنه قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اقرأوا هود يوم الجمعة

Artinya: Diriwayatkan oleh al-Darimi, dan Abu Dawud dalam Marasilnya, juga Abu Syaikh dan Ibnu Mardawaih, juga al-Baihaqi dalam Syu’b al-Iman, dari Ka’ab ra. Berkata: Berkata Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam: Bacalah surat Hud di hari Jumat. (Abdurrahman al-Suyuthi, Addurrul Mantsur fit Tafsiril Ma’tsur, [Beirut: Darul Fikr, 2011], Juz 4, hal. 396.)

Ibnu Asyur mencatat dalam tafsirnya bahwa penamaan surat ini berdasarkan nama Nabi Hud disebut lima kali dalam surat ini dan Nabi Hud disinggung lebih banyak dalam surat ini dari pada surat lain, dan juga kaum ‘Aad secara eksplisit disebut sebagai kaum Nabi Hud, dan juga sebagaimana surat sebelumnya, surat ini termasuk yang dimulai dengan Alif Lam Ra, dan dinamakan dengan Hud untuk membedakan dengan surat Alif Lam Ra yang lainnya. (Muhammad Tahir bin Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, [Tunisia, Maktabah Dar Tunisia, 1984], juz 11, hal. 311.).

Kisah terkait kaum Aad dalam surat ini tercatat pada ayat ke-50 sampai 60 yang berbicara tentang ajakan Nabi Hud kepada kaum Aad untuk beribadah kepada Allah sedangkan mereka adalah kaum paganis (penyembah patung). Tatkala mereka masih terus dengan kekufuran, Allah mengazab mereka dengan angin tornado yang sangat dingin selama delapan hari tujuh malam.

Kaum Aad ini menurut al-Harari adalah berasal dari nama seseorang yang kemudian dijadikan nama suatu komunitas keturunan, Aad sendiri merupakan keturunan dari Sam bin Nabi Nuh, antara Nabi Hud dengan Nabi Nuh terpaut 800 Tahun dan Nabi Nuh hidup selama 464 Tahun. (Muhammad Amin al-Harari, Hadaiqur Ruh war Raihan fi Rawabi Ulumil Qur’an, [Beirut: Dar Thauqin Najat, 2001], juz 13, hal. 125.).

Al-Razi menyebutkan bahwa Nabi Hud mendakwahi kaum Aad dengan beberapa poin, diantaranya adalah mengajak mereka untuk kembali kepada ajarah tauhid yakni dalam ayat ke-50. Kemudian mengajak mereka untuk memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat yakni dalam ayat ke-51 dan menjanjikan akan diturunkan hujan sebab istighfar dan taubat mereka. ( Muhammad bin Umar al-Razi, Mafatihul Ghayb, [Beirut: Darul Fikr, 1981],  juz 18, hal. 12.).

Akan tetapi kaum Add justru malah membantah ajakan dakwah Nabi Hud dengan empat bantahan yang terkesan menghina dan pembangkangan sebagaimana catatan al-Zuhaili, yakni tuntutan tanda bukti, tidak berhenti dalam prilaku paganisme meskipun mereka memahami bahwa yang berpengaruh baik dan buruk adalah Allah, kemudian tidak membenarkan kerasulan Nabi Hud, dan yang terakhir adalah merusak akal mereka sendiri dan menjadikan mereka gila sebab mempercayai sesembahan mereka. (Wahbah  bin Musthafa al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, [Beirut: Darul Fikr, 2009],  Juz 6, hal. 407.).

Kemudian Nabi Hud secara terang-terangan memisahkan diri dari kaum Aad meskipun Nabi Hud sendiri adalah bagian dari mereka secara kesukuan. Kemudian Allah mengazab mereka dengan angin tornado dan Allah menyelamatkan Nabi Hud beserta orang-orang yang beriman kepadanya dari bencana itu. Wallahu A’lam Bisshawab
 


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo