Dark
Light
Dark
Light

Viral, Daycare Siksa Balita: Islam Anjurkan Muliakan Anak-anak

Viral, Daycare Siksa Balita: Islam Anjurkan Muliakan Anak-anak

Belakangan tengah viral di media sosial, kejadian tragis menimpa seorang balita berusia dua tahun di Depok, Jawa Barat. Balita tersebut mengalami penganiayaan oleh seorang perempuan berinisial MI, yang juga pemilik daycare Wensel School Indonesia di Harjamukti, Depok.

Berdasarkan keterangan, orang tua balita tersebut mengungkapkan bahwa anak mereka ditendang dan ditusuk oleh MI. Kejadian penganiayaan ini terjadi pada awal Juni 2024, namun baru terungkap sebulan kemudian oleh orangtua korban. MI kini telah ditangkap oleh pihak berwajib.

Cara Rasulullah Memperlakukan Anak-anak

Sejatinya, Islam merupakan agama yang sangat menekankan pentingnya memuliakan dan menghargai anak-anak. Dalam ajaran Islam, anak-anak merupakan anugerah dan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dan dipelihara dengan penuh kasih sayang dan perhatian. 

Rasulullah SAW selalu menunjukkan contoh bagaimana memperlakukan anak-anak dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Nabi sering kali bermain dan bercanda dengan anak-anak, serta selalu menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan dan kesejahteraan mereka.

Selanjutnya, Rasulullah SAW juga memperlihatkan perhatian dan kasih sayang yang besar kepada anak-anak sahabatnya. Ketika beliau melihat anak-anak bermain di jalan, beliau tidak pernah mengabaikan mereka. Sebaliknya, beliau sering bergabung dengan mereka, menyapa, dan bermain bersama. 

Salah satu contoh nyata adalah ketika Rasulullah sering bermain dan bergurau dengan cucunya, Hasan dan Husain, anak dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah. Nabi sering membiarkan mereka naik ke punggungnya saat beliau sedang sujud dalam sholat, dan tidak tergesa-gesa untuk bangun hingga mereka puas bermain.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan Imam Ahmad;

كُنَّا نُصَلِّي مع النبي صلى الله عليه وسلم العشاء، فإذا سجد وثب الحسن والحسين على ظهره، فإذا رفع رأسه أخذهما بيده من خلفه أخذاً رفيقاً، فيضعهما على الأرض، فإذا عاد، عادا حتى قضى صلاته

Artinya; "Kami sedang sholat Isya bersama Nabi SAW, ketika beliau sujud, Hasan dan Husain melompat ke punggungnya. Ketika beliau mengangkat kepalanya, beliau memegang keduanya dengan tangannya dari belakang dengan lembut, lalu meletakkan keduanya di tanah. Ketika beliau kembali sujud, keduanya kembali melompat hingga beliau menyelesaikan sholatnya." [HR. Ahmad]. 

Lebih lanjut, Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai seorang yang sangat menyayangi anak-anak dan selalu mengajarkan umatnya untuk memperlakukan anak-anak dengan baik. Suatu ketika, Nabi menyaksikan seorang laki-laki yang merendahkan dan menjelek-jelekkan anaknya di hadapan beliau. Nabi sangat murka melihat hal tersebut dan segera menegur laki-laki tersebut dengan tegas. 

"Anak adalah darah dagingmu, dan bekal bagi masa depanmu. Dengan kau hina anak-anakmu, sejatinya engkau menghina dirimu sendiri. Anak adalah penolongmu kelak di masa depan. Perlakukan mereka dengan baik, dan bila engkau lakukan maka engkau juga akan memperoleh kebaikan dan pahala," ujar Nabi dengan penuh kebijaksanaan.

Nabi Muhammad SAW selalu menekankan pentingnya memperlakukan anak-anak dengan hormat dan kasih sayang. Beliau menekankan bahwa anak-anak adalah amanah dari Allah dan memiliki peran penting dalam masa depan keluarga. Dengan menghina atau merendahkan anak-anak, seseorang sebenarnya sedang merusak hubungan dan potensi masa depan mereka. Nabi mengajarkan bahwa memperlakukan anak dengan baik bukan hanya akan membawa kebaikan bagi anak itu sendiri, tetapi juga akan mendatangkan pahala dan kebaikan bagi orang tua di dunia dan akhirat.

Salah satu hadits yang mencerminkan ajaran Nabi mengenai hal ini adalah:

اكرموا اولادكم و احسنوا آدبهم يغفرلكم

Artinya; "Muliakan anak-anak kalian dan baguskan budi pekerti mereka, maka dosa kalian akan diampuni." 

Hadits ini menunjukkan betapa besar penghargaan yang diberikan Nabi terhadap anak-anak dan betapa pentingnya membentuk akhlak dan budi pekerti yang baik pada mereka. Dengan memuliakan dan mendidik anak-anak dengan baik, seseorang tidak hanya membangun masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya, tetapi juga memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah SWT.

Larangan Menyakiti Anak-anak dalam Islam

Pada sisi lain, dalam Islam, larangan menyakiti anak-anak merupakan salah satu perintah yang tegas. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 31:

وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُمۡ خَشۡيَةَ إِمۡلَٰقٍ ۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُهُمۡ وَإِيَّاكُمۡ ۚ إِنَّ قَتۡلَهُمۡ كَانَ خِطۡـًٔا كَبِيرًا

Artinya: "Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan (juga) kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka itu adalah suatu dosa yang besar,".

Profesor Quraish Shihab, dalam kitab Tafsir Al-Misbah, Jilid VII, halaman 456 menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa pada masa jahiliyah, praktik buruk membunuh anak, terutama anak perempuan, sangatlah marak. Alasan utama di balik tindakan keji ini adalah kekhawatiran akan kemiskinan. Namun, Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur'an, khususnya pada Surat Al-Isra ayat 31, bahwa setiap makhluk hidup telah dijamin rezekinya. 

Lebih lanjut, Allah SWT mengingatkan manusia bahwa rezeki adalah sepenuhnya di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun yang mampu menentukan atau menghitung rezeki yang akan diterimanya. Oleh karena itu, kekhawatiran akan kemiskinan yang menjadi alasan utama pembunuhan anak adalah sesuatu yang tidak berdasar. 

Larangan membunuh anak dalam Al-Qur'an ditujukan kepada seluruh umat manusia. Penggunaan bentuk jamak dalam ayat ini menunjukkan bahwa ini bukan hanya masalah individu, melainkan masalah sosial yang harus diatasi bersama. Pembunuhan anak adalah tindakan keji yang berdampak buruk bagi masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, seluruh umat manusia bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya tindakan keji tersebut dan mewujudkan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan demikian, ayat Al-Isra 31 secara tegas melarang pembunuhan anak dengan alasan apapun, termasuk kekhawatiran akan kemiskinan. Allah SWT telah menjamin rezeki setiap makhluk hidup, sehingga tidak ada alasan untuk mengambil nyawa seorang anak. Larangan ini berlaku universal dan menjadi tanggung jawab seluruh umat manusia untuk menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi tumbuh kembang anak.

Sementara itu, Abu Muhammad al-Baghawi, dalam kitab Ma'alim at Tanzil fi Tafsir Al-Qur'an, Jilid III, halaman 131 menjelaskan bahwa Islam melarang untuk menyakiti anak-anak. Pun, Islam dengan tegas melarang tindakan membunuh anak-anak, apapun alasannya. Ketakutan akan kemiskinan yang seringkali menjadi pemicu tindakan tersebut, dibantah dengan tegas oleh Allah SWT. Dia menjamin rezeki bagi setiap makhluk-Nya, termasuk anak-anak yang baru dilahirkan. Larangan ini mengingatkan kita akan kemuliaan nyawa manusia dan pentingnya menjaga keturunan sebagai amanah dari Allah.

Praktik buruk mengubur anak perempuan hidup-hidup yang pernah marak pada masa jahiliyah menjadi bukti nyata betapa rendahnya nilai seorang perempuan pada masa itu. Islam datang membawa revolusi besar dengan menghapus praktik keji ini. Ayat di atas menegaskan bahwa setiap jiwa memiliki hak untuk hidup dan Allah-lah yang akan mengatur rezeki setiap individu. 

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ، فَقْرٍ، نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ، وَذَلِكَ أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَئِدُونَ بَنَاتَهُمْ خَشْيَةَ الْفَاقَةِ فَنُهُوا عَنْهُ، وَأُخْبِرُوا أَنَّ رِزْقَهُمْ وَرِزْقَ أَوْلَادِهِمْ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى، إِنَّ قَتْلَهُمْ كانَ خِطْأً كَبِيراً،

Artinya: "Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kamu. Hal ini disebabkan oleh orang-orang jahiliah yang biasa mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka karena takut kemiskinan, maka mereka dilarang melakukannya. Mereka diberitahu bahwa rezeki mereka dan rezeki anak-anak mereka adalah dari Allah Ta'ala. Sesungguhnya membunuh mereka adalah kesalahan besar."

Pada sisi lain, dalam kitab Tahzib al-Akhlaq wa Thathir al-A'raq, dijelaskan bahwa penghormatan terhadap anak-anak merupakan prinsip mendasar dalam Islam. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa kewajiban orang tua untuk menghormati anak-anak seimbang dengan kewajiban anak untuk menghormati orang tua. 

وقال عليه الصلاة والسلام يلزم الوالدين من عقوق الولد ما يلزم الولد لهما من العقوق 

Artinya: "Nabi Muhammad bersabda kewajiban orang tua tidak boleh bersikap durhaka kepada anak sama seperti anak tidak boleh bersikap durhaka kepada orang tua." Wallahu a'lam bis shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo