Arina.id - Umumnya ketika sakit seseorang diminta untuk bersabar karena kondisi payah fisik memang memerlukan kesabaran. Namun, ada hamba-hamba Allah yang justru bersyukur ketika sakit. Mereka yang bersyukur pada saat sakit tidak hanya dari kalangan para Nabi, tetapi juga ada yang berasal dari orang biasa.
Bagaimana Nabi Muhammad SAW mempraktikkan bersyukur ketika sakit? Apa manfaat bersyukur ketika sakit bagi kesehatan manusia? Bagaimana relevansi bersyukur ketika sakit dengan hasil penelitian ilmiah yang memberikan manfaat untuk pasien penyakit kronis?
Rasulullah adalah Nabi istimewa yang memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Di antara sifat-sifat kemanusiaan yang dimiliki Nabi adalah sakit yang ringan dan tidak membuat orang menjauh darinya. Kaki bengkak merupakan salah satu sakit yang pernah dialami oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana hadits berikut ini:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ». رواه مسلم
Artinya: "Aisyah RA berkata, Rasulullah SAW ketika melaksanakan sholat maka beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak. Aisyah RA bertanya, “Wahai Rasulallah, Apa yang engkau perbuat, sedangkan dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni.” Lalu beliau menjawab, “Wahai Aisyah, bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”. (HR. Muslim).
Hadits ini menyatakan bahwa Rasul dengan sifat manusianya mengalami sakit dengan gejala berupa kaki yang bengkak. Di sisi lain, Beliau mengungkapkan rasa syukur dengan cara memperbanyak sholat meskipun dalam kondisi kedua kakinya membengkak. Hal tersebut menunjukkan ketinggian martabat Beliau yang bisa bersyukur meskipun mengalami hal yang tidak mengenakkan.
Manusia biasa pun bisa meniru Rasulullah dengan cara bersyukur ketika sakit. Dalam Kitab At-Thibbun Nabawi terbitan Daar Ihyaul Ulum Beirut halaman 290, Al-Hafiz Adz-Dzahabi menyampaikan nasihat untuk umat Islam sebagai berikut:
“Seseorang hendaknya memohon kepada Allah agar dikaruniai kesehatan. Namun, jika Allah memberinya sakit maka hal itu harus diterima dengan kesabaran, penerimaan dan rasa syukur.”
Rasa syukur berawal dari kebersihan hati. Orang-orang yang mampu membersihkan hatinya akan diberi pemahaman bahwa apapun yang menimpa dirinya adalah bagian dari karunia Allah. Untuk memberikan motivasi agar seseorang yang sakit mampu bersyukur, maka penyakit harus dianggap sebagai jalan peningkatan derajat seseorang.
Masih di halaman yang sama, Al-Hafiz Adz-Dzahabi mengutip perkataan salah seorang Ulama bernama Al-Haris yang menyampaikan tentang hakikat penyakit sebagai berikut:
“Penderitaan (termasuk rasa sakit) adalah hukuman bagi para pendosa, penyucian bagi mereka yang bertobat kepada Allah dan tanda kehormatan bagi mereka yang suci hatinya”
Ada tips yang diberikan oleh Al-Hafiz Adz-Dzahabi bila seseorang tidak mampu untuk menahan keluhannya saat sakit. Dalam Kitab At-Thibbun Nabawi halaman 292, beliau menyampaikan bahwa sangat manusiawi mengungkapkan rasa sakit yang dialami. Tetapi bila keluhan didahului dengan rasa syukur maka orang itu tetap mendapatkan keutamaan karena dianggap telah bersyukur:
“Seseorang yang sakit hendaknya menghindari rasa takut dan tidak senang, melainkan dia selayaknya mengatakan Alhamdulillah sebelum mengeluhkan apapun. Setelah memuji Allah, maka keluhannya tidak akan dinilai sebagai keluhan lagi.”
Nasihat dari Al-Hafiz Adz-Dzahabi tersebut masih sangat relevan untuk zaman sekarang. Berbagai penyakit kronis yang sulit disembuhkan seakan memaksa pasiennya untuk mengonsumsi obat seumur hidup. Meskipun bosan dan terkadang merasakan gejala penyakit kronisnya, tetapi obat harus tetap diminum agar tidak muncul komplikasi penyakit. Ketaatan dalam minum obat ternyata bisa terwujud dengan rasa syukur yang dipanjatkan pasien kepada Tuhannya.
Salah satu penyakit kronis yang saat ini banyak dialami oleh penduduk dunia adalah penyakit jantung. Penelitian review berjudul “The Impact of Gratitude Interventions on Patients With Cardiovascular Disease: a Systematic Review” yang dilakukan oleh Wang dan Song pada tahun 2023 tentang penyakit jantung mengungkapkan pentingnya rasa syukur untuk memperbaiki kondisi kesehatan pasien yang tercermin dari membaiknya hasil tes laboratorium.
Beberapa keunikan yang muncul dari rasa syukur pada pasien penyakit jantung adalah meningkatnya kepatuhan minum obat. Penelitian yang dilakukan oleh Redwine dan timnya pada tahun 2016 mengungkapkan bahwa pasien-pasien berpenyakit jantung yang mampu bersyukur ternyata mengalami peningkatan kepatuhan minum obat dan self-efficacy sehingga menghambat komplikasi yang mungkin dialaminya.
Pasien-pasien yang mengalami penyakit diabetes melitus atau penyakit gula juga sering harus minum obat dalam jangka panjang. Bila diiringi dengan rasa syukur, maka mereka mengalami kestabilan kadar gula darah yang ditunjukkan dengan nilai HbA1c yang baik. Penelitian tersebut diungkap oleh Krause dan timnya pada tahun 2017 dengan judul “General Feelings of Gratitude, Gratitude to God, and Hemoglobin A1c Exploring Variations by Gender.”
Meskipun pasien-pasien yang terlibat dalam penelitian ini tidak beragama Islam, tetapi rasa syukurnya membuat mereka mendapatkan kesehatan yang lebih baik melalui kesadaran bahwa taat minum obat adalah bagian dari bersyukur. Allah pun memberikan rahmat-Nya sebagai bukti sifat Rahman-Nya kepada semua umat manusia yang sakit tanpa melihat agamanya.
Bagaimana halnya bila konsep syukur itu dilaksanakan oleh umat Islam yang mempunyai ajaran tersebut?
Meskipun tidak mudah, umat Islam dapat menumbuhkan rasa syukur ketika sakit dengan hal-hal yang sederhana. Penerapan rasa syukur pada kondisi sakit adalah menyadari bahwa bagian tubuh yang sakit masih lebih sedikit dibandingkan dengan yang tidak sakit. Kesadaran ini akan membawa seseorang yang sakit untuk lebih tenang dan meningkatkan optimismenya.
Setelah itu, berzikir dengan mengucapkan Alhamdulillah disertai dengan merenungi maknanya tentu merupakan cara praktis untuk mengungkapkan rasa syukur saat sakit. Ucapan hamdalah tersebut cukup ringan dan dapat diucapkan kapanpun dalam berbagai kondisi. Umat Islam sudah biasa melafazkan ucapan Alhamdulillah 33 kali seperti dalam zikir setelah sholat 5 waktu.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya, sebagai manifestasi syukur, adalah tetap berikhtiar dengan berobat kepada ahlinya dan mengonsumsi obat yang telah diresepkan. Oleh karena itu, selayaknya umat Islam menerapkan ajaran syukur ketika sakit agar tidak kalah dari saudara-saudara lainnya yang mengikuti penelitian para ahli sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan ini. Wallahu a’lam bish shawab.
Yuhansyah Nurfauzi
Apoteker dan Peneliti Farmasi. Alumni Madrasah Diniyah Ali Maksum PP Krapyak Yogyakarta, Program Studi S1 Farmasi-Apoteker UGM, Magister Farmasi ITB, dan Doktor Ilmu Farmasi UGM.
Editor: Muhammad Faizin


