Dark
Light
Dark
Light

Khatib Acungkan Jari saat Doa Khutbah, Bagaimana Hukumnya?

Khatib Acungkan Jari saat Doa Khutbah, Bagaimana Hukumnya?

Arina.id - Saat khatib menyampaikan khutbah Jumat, sering ditemui mereka tidak mengangkat tangan ketika berdoa. Namun ada pula khatib yang berdoa dengan mengacungkan jari telunjuk. Lantas apakah terdapat sebuah tuntunan untuk berdoa dengan gaya tersebut dalam khutbah?

Perlu diketahui bahwa tidak disunahkan bagi khatib untuk mengangkat kedua tangannya ketika membaca doa pada khutbah kedua. Hal ini berdasarkan hadits mauquf yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam sahihnya no. 874 berikut:

عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ . قَالَ: رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ. فَقَالَ: ‌قَبَّحَ ‌اللهُ ‌هَاتَيْنِ ‌الْيَدَيْنِ. لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا. وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ .

Artinya: "Husain bin Abdurrahman berkata “Umarah bin Ru’aibah melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya, dan dia mengatakan “Semoga Allah menjelekkan kedua tangan ini, aku telah melihat Rasulullah tidak pernah berkata dengan tangan beliau melebihi ini”, dan di berisyarat kepada jari telunjuknya”.

Banyak para ulama yang menafsirkan hadits tersebut sebagai bentuk larangan khatib untuk menggerakkan kedua tangannya seperti gaya seorang penceramah untuk mendapatkan perhatian pendengar. Hal ini dijelaskan oleh Husain bin Abdullah al-Tayyibi berikut:

قوله: “رافعاً يديه” يعني عند التكلم كما هو دأب الوعاظ إذا حموا. ويشهد له قوله: وأشار ‌بأصبعه ‌المسبحة. قوله: “أن يقول” أي يشير عند التكلم في الخطبة بأصبعه، يخاطب الناس وينبههم علي الاستماع.

Artinya: "Yang dimaksud “mengangkat kedua tangannya” adalah ketika menyampaikan khutbah seperti gaya para penceramah ketika sedang berapi-api dengan argumentasi dalil “dan berisyarat dengan jari telunjuknya” yang dimaksud dengan “mengucapkan” yakni berisyarat dengan jari telunjuk ketika berkhutbah kepada para orang-orang dan mengingatkan mereka untuk mendegarkan dengan seksama." (Al-Kasyif an Haqaiqis Sunan, [Makkah Mukarrmah:  Nizar Mustafa al-Baaz, 1997], juz 4, hal. 1287.).

Namun, banyak juga para ulama yang menafsirkan hadits ini sebagai larangan mengangkat tangan ketika berdoa para khutbah kedua sebagaimana yang dipertanyakan oleh Syekh Syaraful Hal al-Shidiqi berikut:

وَهَلِ الْمُرَادُ فِي حَدِيثِ عُمَارَةَ بِالرَّفْعِ الْمَذْكُورِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ عِنْدَ الدُّعَاءِ عَلَى الْمِنْبَرِ أَوِ الْمُرَادُ رَفْعُ الْيَدَيْنِ لَا وَقْتَ الدُّعَاءِ بَلْ عِنْدَ التَّكَلُّمِ كَمَا هُوَ دَأْبُ الْوُعَّاظِ وَالْقُصَّاصِ أَنَّهُمْ يُحَرِّكُونَ أَيْدِيَهمْ يَمِينًا وَشِمَالًا يُنَبِّهُونَ السَّامِعِينَ عَلَى الِاسْتِمَاعِ

Artinya: "Apakah yang dikehendaki dari hadits Umarah bin Ru’aibah tentang mengangkat tangan ketika berdoa di atas mimbar atau mengangkat tangan ketika berkhutbah seperti gaya para penceramah dan penutur kisah yakni menggerakkan tangan ke kanan dan ke kiri untuk mengarahkan para pendengar agar lebih memperhatikan mereka?" (Muhammad Asyraf bin Umair al-Adzim Abadi, Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah], juz 3, hal. 318.).

Bahkan Syekh Mahmud Muhammad al-Subuki membid’ahkan orang-orang yang mengangkat tangan ketika berdoa dalam khutbah sebagaimana catatannya berikut ini:

وفي هذا دلالة على عدم مشروعية رفع اليدين على المنبر حال الدعاء في الخطبة وهو بدعة مذمومة

Artinya: "Dari hadits ini menujukkan tidak disyariahkannya mengangkat tangan di atas mimbar ketika berdoa dalam khutbah dan itu merupakan bid’ah yang tercela." (al-Manhal al-Azab al-Maurud Syarh Sunan Imam Abi Dawud, [Kairo: Maktabah al-Istiqamah], juz 6,  hal. 269.).

Akan tetapi perlu diketahui bahwa memang benar mengangkat kedua tangan tidak diperbolehkan bagi khatib ketika berdoa berdasarkan hadits Umarah bin Ru’aibah. Akan tetapi dari hadits itu bisa dipahami bahwa boleh mengangkat jari telunjuk untuk berdoa bahkan untuk memperingatkan para jamaah agar lebih memperhatikan isi khutbah. Abdullah bin Muhammad al-Mubarakfuri menjelaskan sebagai berikut:

ويدل على جواز الإشارة بالإصبع أي السبابة للدعاء أو لتنبيه الناس

Artinya: "Hadits itu menujukkan bolehnya isyarat dengan jari telunjuk untuk berdoa dan untuk mengingatkan para jamaah." (Mir’atul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih, [Benares: Salafiyah University, 1984], juz 4, hal. 511.).

Kebolehan itu diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’ad dalam Sunan Abu Dawud no. 1105. Meskipun hadits itu mengesampingkan gaya berdoa Rasulullah di luar khutbah dengan mengangkat kedua tangan. Berikut haditsnya:

عن سهل بن سعد، قال: ما رأيتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم ‌شاهراً ‌يديه قط يدعو على منبره، ولا على غيرِه، ولكن رأيتُه يقولُ هكذا، وأشارَ بالسَّبَّابة، وعَقَدَ الوُسْطَى بالإبهام

Artinya: "Dari Sahl bin Sa’ad berkata “Aku tidak pernah melihat Rasulullah menampakkan kedua tangannya ketika berdoa baik di atas minbar atau tidak, akan tetapi beliau berkata demikian”, dia berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengan diikat dengan ibu jari."

Walhasil, hukum mengangkat kedua tangan ketika berdoa dalam khutbah adalah makruh bahkan ada yang mengatakan sebagai bid’ah madzmumah berdasarkan hadits Umarah bin Ru’aibah. Berdasarkan hadits itu pula dan hadits Sahl bin Sa’ad, para ulama menyimpulkan bahwa boleh mengangkat jari telunjuk dan mengepalkan jari tengah dengan ibu jari ketika berdoa dalam khutbah. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo