Dark
Light
Dark
Light

3 Sikap Sombong yang Diperbolehkan dalam Islam

3 Sikap Sombong yang Diperbolehkan dalam Islam

Dalam agama Islam, sombong merupakan akhlak yang tercela. Pasalnya dengan sikap sombong, seorang hamba yang hina dina sejatinya sedang memosisikan dirinya setara Tuhan sang Maha Mulia dan tiada cela. Sebagaiman firman Allah SWT dalam Surat Al-Isra’ ayat 37-38:

وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا * كُلُّ ذٰلِكَ كَانَ سَيِّئُهٗ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوْهًا 

Artinya: “Janganlah kau berjalan di bumi ini dengan sombong karena sungguh kau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung. Semua itu kejahatannya sangat dibenci di sisi Tuhanmu.”

Namun, dalam hal tertentu, ternyata ada beberapa sikap sombong yang diperbolehkan dan mendapat apresiasi agama. Lalu bagaimanakah sombong yang mendapat apresiasi agama itu?

imam Abu Sa’id Al-Khadimi dalam kitabnya Bariqah Mahmudiyyah juz 2, hal. 186 menjelaskan tiga contoh kesombongan yang mendapat apresiasi agama: 

1. Sombong kepada orang yang sombong. 

Dalam sebuah hadits diterangkan bahwa bersikap angkuh kepada mereka yang angkuh adalah bagian dari sedekah. Alasannya, kalau saja terus merendah di hadapan orang-orang congkak, maka mereka akan semakin berlarut-larut dalam gelap kecongkaannya. Namun, bila dibenturkan dengan kecongkaan yang lebih besar, mereka akan sadar bahwa dirinya tak sesempurna yang dipikirkan.

Lagi pula, membiarkan mereka larut lebih jauh dalam kecongkaan, adalah satu kezaliman besar. Imam Abu Hanifah berpandangan:

أَظْلَمُ الظَّالِمِينَ مَنْ تَوَاضَعَ لِمَنْ لَا يَلْتَفِتُ إلَيْهِ وَقِيلَ قَدْ يَكُونُ التَّكَبُّرُ لِتَنْبِيهِ الْمُتَكَبِّرِ لَا لِرِفْعَةِ النَّفْسِ فَيَكُونُ مَحْمُودًا كَالتَّكَبُّرِ عَلَى الْجُهَلَاءِ وَالْأَغْنِيَاءِ

Artinya: “Orang yang paling zalim adalah mereka yang tetap merendah bahkan kepada orang yang berpaling congkak darinya. Mengingat, seperti yang pernah dikatakan bahwa sikap sombong itu tak mesti karena tinggi hati, tapi kadang dalam maksud untuk mengingatkan yang lain. Kalau demikian, sombong kepada orang yang congkak jelas terpuji. Seperti bersikap sombong di hadapan orang-orang bodoh yang keras kepala dan para hartawan kaya raya yang membusung dada.”

2. Sombong di tengah kecamuk perang

Tujuannya, yaitu menggentarkan hati dan memporak-porandakan kekuatan pasukan lawan. Ini merupakan taktik psikologis dalam peperangan di mana sikap sombong dan percaya diri digunakan sebagai senjata untuk melemahkan mental lawan.

Dengan menunjukkan kekuatan dan keyakinan yang luar biasa, pasukan dapat membuat musuh merasa gentar dan kehilangan semangat juang. Taktik ini sering kali efektif dalam memporak-porandakan struktur pertahanan dan moral lawan, membuat mereka lebih rentan terhadap serangan yang sebenarnya. 

3. Bersikap tinggi hati saat bersedekah.

Maksud tinggi hati di sini adalah mengungkapkan bahwa dirinya tidak membutuhkan materi yang akan disedekahkan, dan sang penerima lah yang paling membutuhkan hal itu. Ini bertujuan agar si penerima tanpa berat hati mengambil materi yang diberikan kepadanya. Dengan begitu, si penerima tentu sangat bahagia luar biasa, kebutuhannya terpenuhi tanpa goresan rasa ketidaknyamanan di hatinya.  

Beda lagi ceritanya, bila bersedekah dengan penuh ketawadukan. Misalnya mengatakan, ‘Saya termasuk orang yang tak terlalu kaya, punya banyak kebutuhan juga seperti jenengan, tapi tidak masalah, saya akan sedekahkan ini ke jenengan, mohon diterima’. Tawaduk dalam hal ini tidak dibenarkan. Karena berpotensi besar akan menyinggung perasaan si penerima dan tentu akan berat menerima pemberian tersebut.

Sahabat Jabir ra pernah meriwayatkan sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

فَأَمَّا الْخُيَلَاءُ الَّتِي يُحِبُّ اللَّهُ تَعَالَى فَاخْتِيَالُ الرَّجُلِ نَفْسَهُ عِنْدَ الْقِتَالِ وَاخْتِيَالُهُ عِنْدَ الصَّدَقَة 

Artinya: “Kesombongan yang dicintai Allah SWT adalah sikap sombong seorang muslim di tengah medan perang dan ekspresi besar hatinya saat memberi sedekah.”


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo