Arina.id - Manusia hidup di dunia bukan diciptakan sebagai makhluk penyendiri, akan tetapi sebagai makhluk sosial yang gotong royong. Apalagi dalam ajaran Islam juga diajarkan untuk menolong, saling membantu, membutuhkan orang lain. Misalnya, zakat, haji, sedekah.
Seperti yang kita ketahui bahwa dalam ajaran Islam terdapat anjuran untuk mencari teman, sahabat yang baik, agar bisa memotivasi melakukan perbuatan baik dan bermanfaat bagi kehidupannya.
Harus diakui, mencari dan memilih teman yang baik bukanlah perkara mudah, akan tetapi tanpa adanya usaha untuk mencari teman baik, maka mustahil akan menemukannya. Dalam salah satu hadits disebutkan:
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
Artinya: "Dari Abu Musa, dari Nabi Muhammad, beliau bersabda: Perumpamaan teman yang baik dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi, ada kalanya penjual minyak wangi itu akan menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu mendapatkan aroma wanginya. Sedangkan pandai besi ada kalanya (percikan apinya) akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan aroma tidak sedap darinya." (HR. Al-Bukhari 5108)
Penjelasan hadits ini dalam kitab Manar Al-Qari karya Hamzah Qasim diuraikan sebagai berikut:
والمعنى: أن النبي صلى الله عليه وسلم شبه الجليس الصالح في دينه وخلقه بمن يحمل معه مسكاً، وشبه جليس السوء بمن ينفخ كيراً وهو آلة من الجلد ينفخ بها الحداد على النار
Artinya: "Nabi Muhammad mengibaratkan teman baik (agama dan akhlaknya) dengan orang yang membawa minyak misik yang harum. Sedangkan teman buruk diumpamakan dengan pandai besi yang dapat memercikkan api."
Berteman atau bersahabat merupakan bentuk interaksi sosial yang bisa mempengaruhi keadaan seseorang. Maksudnya jika pertemaannya itu benar, maka akan banyak manfaat berupa ilmu, hikmah yang didapat. Namun, jika salah mencari teman, maka kesalahan itu juga akan mengenainya.
Banyak orang yang terjerumus kemaksiatan karena pengaruh teman yang salah. Misalkan, seseorang bergaul dengan koruptor, maka dia akan tertular mengikuti perbuatan korup, sehingga dia akan mudah terjerat berbagai permasalahan. Begitu pula orang yang berkawan dengan pengguna narkoba, maka mudah terpengaruh untuk menjadi pemakai barang terlarang.
Oleh karena itu Ibn Athaillah mengatakan dalam kitab Al-Hikam:
لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ
Artinya: "Jangan berteman (bergaul) dengan orang yang tingkah lakunya tidak membangkitkanmu (untuk meraih ridha Allah) dan ucapannya tidak menunjukkanmu kepada Allah."
Merujuk pada perkataan Ibnu Ataillah ini, sudah seharusnya kita waspada dan hati-hati dalam memilih teman. Sebab salah memilih teman dapat menentukan keberlangsungan kehidupan sosial seseorang. Bila tepat memilih, maka akan baik, dan bila tidak tepat, maka akan menyusahkan.
Jenis pertemanan menurut hemat penulis, ada yang sifatnya kenal secara sengaja, seperti kenal seseorang di pesawat, bus, kereta, fasilitas umum, dan diperkenalkan oleh orang lain. Ada pula pertemanan yang kenal sejak lama, misalnya kenal sejak di kampung halaman, sejak masa sekolah, masa kecil dan lainnya.
Ada juga pertemanan yang bersifat kepentingan profesional seperti untuk bisnis, proyek, dan lainnya. Ada lagi, pertemanan yang dipertemukan sebab satu profesi dan kesamaan hobi.
Beberapa jenis pertemanan ini sebaiknya menjadi pertimbangan untuk memilih teman yang suka berbuat baik dan professional. Hindari pertemanan dengan orang yang suka memancing permasalahan, permusuhan, mengajak berbuat keburukan, sebab ia akan mempengaruhi sekelilingnya untuk berbuat buruk. Jenis pertemanan ini juga dapat diterapkan untuk memilih pasangan hidup maupun mitra kerja. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


