Dark
Light
Dark
Light

3 Etika Pelajar saat Mencari Ilmu dalam Kitab Taisir Al-Khalaq

3 Etika Pelajar saat Mencari Ilmu dalam Kitab Taisir Al-Khalaq

Arina.id - Taisir Al-Khalaq merupakan kitab karya Syekh Hafidz Hasan Al-Mas’udi (wafat 1375 H) ulama Al-Azhar Asy-Syarif, Kairo Mesir yang berisi ringkasan ajaran akhlak (etika dan moral) bagi pelajar tingkat dasar. Kitab yang banyak dikaji di pondok pesantren ini menguraikan nilai-nilai moral baik mencakup hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesama manusia, dan dengan Allah SWT. Kitab ini juga menekankan pentingnya penerapan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. 

Dalam karyanya, Syekh Hafidz mengemukakan 3 etika yang harus dipenuhi yaitu adab atas dirinya sendiri, guru, dan teman-temannya. Ketiga aspek ini merupakan landasan moral yang membentuk kepribadian seorang penuntut ilmu agar tumbuh sebagai pribadi beradab dan berilmu.

1. Etika Pelajar terhadap Dirinya Sendiri

Etika seorang pelajar terhadap dirinya sendiri menempati posisi yang sangat penting sebab menjadi dasar bagi pembentukan karakter dan integritas moral. Syekh Hafidz Hasan Al-Mas‘udi menjelaskan bahwa seorang pelajar harus menjauhkan diri dari sifat ‘ujub (bangga diri secara berlebihan) yang dapat menghalangi keberkahan ilmu. 

Sebaliknya, ia harus menghiasi dirinya dengan sifat tawadhu’ (rendah hati) dan shidq (kejujuran) agar disukai, dihormati, serta dipercaya oleh orang lain. Kejujuran bukan hanya dalam perkataan, namun juga dalam menjaga amanah ilmu yang telah diterimanya. Seorang pelajar tidak sepatutnya memberikan jawaban atau pendapat pada hal yang belum diketahuinya dengan benar, karena hal tersebut mencerminkan ketidakjujuran intelektual dan menodai kehormatan ilmu.

Selain itu, pelajar harus menjaga kewibawaan lahiriah melalui sikap tenang dan sopan dalam berjalan, tidak banyak menoleh, serta menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan. Sikap ini melatih disiplin diri dan menunjukkan kematangan moral dalam mengendalikan perilaku. 

لِلْمُتَعَلِّمِ آدَابٌ فِي نَفْسِهِ، وَآدَابٌ مَعَ أُسْتَاذِهِ، وَآدَابٌ مَعَ إِخْوَانِهِ. أَمَّا آدَابُهُ فِي نَفْسِهِ فَكَثِيرَةٌ، مِنْهَا: تَرْكُ الْعُجْبِ، وَمِنْهَا: التَّوَاضُعُ وَالصِّدْقُ لِيَكُونَ مَحْبُوبًا مَوْثُوقًا بِهِ، وَمِنْهَا: أَنْ يَكُونَ وَقُورًا فِي مِشْيَتِهِ، غَاضًّا طَرْفَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَى الْمُحَرَّمَاتِ، وَأَنْ يَكُونَ أَمِينًا عَلَى مَا أُوتِيَ مِنَ الْعِلْمِ، فَلَا يُجِيبُ بِغَيْرِ مَا يَعْرِفُ

Artinya: “Murid atau pelajar itu mempunyai adab yang berkaitan dengan dirinya sendiri, adab dengan guru dan adab dengan teman-temannya. Adapun adab murid yang berhubungan dengan dirinya sendiri ada banyak, antara lain: Meninggalkan sifat ujub, tawadhu’ atau ramah, jujur supaya disenangi dan dapat dipercaya, tenang, berwibawa, tidak banyak menoleh ketika berjalan dan tidak memandang hal-hal yang dilarang agama, jujur dengan Ilmu pengetahuan yang dimiliki. Maksudnya, tidak menjawab persoalan yang belum dia ketahui.” (Taisir Al-Khalaq Fi Ilmi Al-Akhlaq [Khartoum: Dar As-Sudaniyyah Lil Kutub], h. 5)

Oleh karena itu, etika terhadap diri sendiri dalam pandangan Syekh Hafidz bukan hanya perihal kesopanan lahiriah semata, tetapi juga meliputi pembinaan sikap batin, kejujuran ilmiah, dan pengendalian diri sebagai cermin dari adab seorang penuntut ilmu sejati.

2. Etika Pelajar terhadap Gurunya

Hubungan antara murid dan guru merupakan salah satu pilar utama dalam etika keilmuan Islam. Seorang pelajar tidak hanya dituntut untuk mempelajari ilmu secara serius, melainkan untuk memuliakan sosok guru sebagai pembimbing spiritual dan intelektual. Guru dianggap memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan kedua orang tua, lantaran orang tua mendidik jasmani saja, sementara guru membina dan menyempurnakan ruh serta akal budi.

Etika yang harus dijaga oleh pelajar terhadap gurunya mencakup sikap batin dan lahiriah. Secara batiniah, pelajar harus meyakini keutamaan gurunya serta menumbuhkan rasa hormat dan penghargaan mendalam terhadap peran dan jasa sang guru.

Secara lahiriah, hal ini diwujudkan dalam perilaku sopan ketika berada di hadapan guru seperti halnya duduk dengan penuh adab, mendengarkan pelajaran dengan seksama, serta menjauhi sikap yang dapat menyinggung perasaan guru, seperti bergurau secara berlebihan atau membanding-bandingkan guru dengan guru lain di hadapannya. 

Syekh Hafidz selanjutnya menekankan perihal pentingnya keberanian intelektual dalam bingkai kesantunan. Seorang pelajar tidak boleh malu untuk bertanya tentang hal yang belum dipahaminya, karena rasa malu yang berlebihan justru dapat menghambat pencapaian ilmu itu sendiri:

وَأَمَّا آدَابُهُ مَعَ أُسْتَاذِهِ فَمِنْهَا: أَنْ يَعْتَقِدَ أَنَّ فَضْلَهُ أَكْبَرُ مِنْ فَضْلِ وَالِدَيْهِ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ يُرَبِّي رُوحَهُ. وَمِنْهَا: الْخُضُوعُ أَمَامَهُ، وَالْجُلُوسُ فِي دَرْسِهِ بِالْأَدَبِ، وَحُسْنُ الْإِصْغَاءِ إِلَى مَا يَقُولُهُ. وَمِنْهَا: تَرْكُ الْمِزَاحِ، وَأَلَّا يَمْدَحَ غَيْرَهُ مِنَ الْعُلَمَاءِ بِحَضْرَتِهِ مَخَافَةَ أَنْ يَفْهَمَ أُسْتَاذُهُ أَنَّهُ يَذُمُّهُ. وَمِنْهَا: أَلَّا يَصُدَّهُ الْحَيَاءُ عَنِ السُّؤَالِ عَمَّا لَا يَعْرِفُ

Artinya: “Etika murid terhadap gurunya, antara lain: Berkeyakinan, bahwa kemuliaan gurunya melebihi kemuliaan kedua orang tuanya sendiri. Sebab, beliaulah yang mendidik jiwanya. Tunduk ketika di hadapan guru. Duduk dengan sikap sopan, ketika sedang menerima pelajaran dari guru dan mendengarkannya dengan baik. Tidak bergurau. Tidak mengunggul-unggulkan guru lain di hadapan gurunya, agar beliau tidak tersinggung. Tidak malu bertanya kepada guru tentang persoalan maupun materi yang belum dipahaminya.” (Taisir Al-Khalaq Fi Ilmi Al-Akhlaq [Khartoum: Dar As-Sudaniyyah Lil Kutub], h. 6)

Dalam konteks ini, etika pelajar kepada gurunya tidak berarti meniadakan daya kritis tetapi menempatkan etika dan penghormatan sebagai bingkai dalam setiap interaksi ilmiah. Sehingga, relasi antara murid dan guru yang dilandasi adab dan keikhlasan akan melahirkan keberkahan dan membentuk generasi yang berilmu sekaligus berakhlaqul karimah.

3. Etika Pelajar terhadap Temannya

Etika terhadap sesama pelajar menjadi fondasi penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang penuh kasih sayang, dan saling menghargai. Hubungan yang baik antar pelajar tidak hanya dapat memperkuat solidaritas, tetapi bisa menjadi media efektif dalam meningkatkan semangat belajar dan menghindarkan dari konflik yang dapat merusak atmosfer akademik.

Syekh Hafidz mengungkapkan bahwa pelajar hendaknya selalu menghormati teman-temannya dan menjauhkan diri dari perilaku merendahkan, menghina, atau merasa lebih unggul dibandingkan yang lain. Kesombongan intelektual merupakan penghalang utama bagi tumbuhnya ukhuwah dan keberkahan ilmu.

Dalam hal ini, pelajar juga dilarang mengejek atau menertawakan teman yang mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran. Sebaliknya, ia dianjurkan untuk membantu dan menumbuhkan semangat belajar bersama.

Disamping itu, Syaikhul Azhar tersebut memperingatkan agar seorang pelajar tidak merasa senang ketika melihat temannya ditegur atau dicela oleh guru. Lantaran, sikap seperti ini menunjukkan kerapuhan moral dan dapat menimbulkan rasa benci serta permusuhan di antara sesama pelajar:

وَأَمَّا آدَابُهُ مَعَ إِخْوَانِهِ، فَمِنْهَا: احْتِرَامُهُمْ، وَتَرْكُ احْتِقَارِ وَاحِدٍ مِنْهُمْ، وَتَرْكُ الِاسْتِعْلَاءِ عَلَيْهِمْ، وَمِنْهَا: أَلَّا يَسْخَرَ مِنْ بُطْءِ الْفَهْمِ مِنْهُمْ، وَأَلَّا يَفْرَحَ إِذَا وَبَّخَ الْأُسْتَاذُ بَعْضَ الْقَاصِرِينَ، فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابِ الْبُغْضِ وَالْعَدَاوَةِ

Artinya: “Adapun etika murid terhadap sesama temannya, antara lain: menghormati mereka, tidak melecehkan mereka, tidak sombong terhadap mereka, tidak menghina rekan belajar karena kelambatannya dalam memahami pelajaran, dan tidak merasa senang apabila guru mencemooh salah seorang dari mereka yang bebal, sebab, sikap yang demikian menyebabkan terjadi permusuhan.” (Taisir Al-Khalaq Fi Ilmi Al-Akhlaq [Khartoum: Dar As-Sudaniyyah Lil Kutub], h. 6)

Karenanya, etika dalam berinteraksi sesama teman sejawat harus dilandasi oleh sikap empati, kasih sayang, dan rasa kebersamaan. Dengan demikian, etika pelajar terhadap temannya bukan hanya bentuk sopan santun sosial, melainkan bagian dari upaya membangun komunitas ilmiah yang beradab, saling menghormati, dan berorientasi pada kemajuan bersama.

Melalui tiga pilar utama etika terhadap diri sendiri, guru, dan teman sesama ini, kitab Taisir Al-Khalaq fi Ilmi Al-Akhlaq menegaskan bahwa menuntut ilmu harus disertai dengan pembinaan moral dan spiritual. Maka, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat dijadikan landasan utama dalam pembentukan budaya akademik yang lebih beradab, humanis, dan berorientasi pada keberkahan ilmu.

Dalam kerangka ini, keberhasilan seorang pelajar bukan diukur dari keluasan ilmunya, melainkan pula dari ketulusan niat, kesopanan perilaku, dan kemuliaan akhlaknya dalam menjalani proses pembelajaran. Wallahu a’lam bish shawab


$data['detail']->authorKontri->kontri

A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo