Dalam mazhab Syafi’i, hukum mandi sebelum sholat Jumat adalah sunnah. Imam Nawawi dalam kitabnya, al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Jilid IV, halaman 404 menjelaskan bahwa menurut mazhab Syafi’i, mandi sebelum sholat Jumat tidak wajib. Hal ini berarti bahwa meninggalkan mandi tersebut tidak dianggap berdosa dan statusnya sama dengan amalan-amalan sunnah lainnya.
Pendapat ini juga diikuti oleh Imam Malik, Abu Hanifah, Ahmad, dan mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generasi setelah mereka. Mereka semua sepakat bahwa mandi sebelum Jumat adalah tindakan yang dianjurkan, tetapi bukan kewajiban yang jika ditinggalkan akan mengakibatkan dosa.
( فرع ) في مذاهب العلماء في غسل الجمعة مذهبنا أنه سنة ليس بواجب يعصي بتركه بل له حكم سائر المندوبات ، وبهذا قال مالك وأبو حنيفة وأحمد وجماهير العلماء من الصحابة والتابعين ومن بعدهم ، وقال بعض أهل الظاهر : هو فرض وحكاه ابن المنذر عن أبي هريرة رضي الله عنه وحكاه الخطابي وغيره عن الحسن البصري وعن رواية عن مالك ،
Artinya: “(Cabang) Dalam mazhab para ulama tentang mandi Jumat, mazhab kami [Syafi’i], mengatakan bahwa itu adalah sunnah, bukan wajib yang berdosa jika ditinggalkan, melainkan memiliki hukum sebagaimana amalan-amalan sunnah lainnya. Dan inilah pendapat Malik, Abu Hanifah, Ahmad, dan mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan setelah mereka. Sebagian ulama Zhahiriyyah mengatakan bahwa mandi Jumat adalah wajib, dan Ibnu Mundzir meriwayatkannya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, serta Khatthabi dan lainnya meriwayatkannya dari Hasan Al-Basri dan dari satu riwayat dari Malik.” [Imam Nawawi, al-Majmu' Syarah al-Muhadzab, Jilid IV, halaman 404]
Meski mandi sebelum Jumat hukumnya adalah sunnah, tetapi mandi ini memiliki rahasia yang sangat besar. Untuk itu, Syekh Abdul Qadir Jailani dalam kitab Kitab Al-Ghunyah Li Thalibi Thariq al-Haq, Jilid II, halaman 100 menjelaskan, seorang Muslim sudah selayaknya tidak meninggal mandi sebelum Jumat.
فغسل الجمعة مستحب عند أكثر الفقهاء، وواجب عند داود، فلا ينبغي أن يتركه من يأتي الجمعة
Artinya: “Mandi Jumat disunahkan menurut sebagian besar ulama, dan wajib menurut Daud, sehingga sebaiknya tidak ditinggalkan oleh orang yang datang ke Jumat,” [Syekh Abdul Qadir Jailani, Al-Ghunyah Li Thalibi Thariq al-Haq, Jilid II, halaman 100]
Lebih lanjut, Syekh Abdul Qadir Jailani, dalam kitab al-Ghunyah, menerangkan ada 3 alasan kenapa mandi Jumat seyogianya tidak ditinggalkan. Hal ini juga sekaligus menjadi keutamaan mandi Jumat.
1. Mendapat Pahala Besar
Orang yang mandi pada hari Jumat akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Dalam tradisi Islam, mandi Jumat dianggap sebagai salah satu amalan yang sangat dianjurkan. Hal ini dilandaskan pada hadits yang menyebutkan bahwa mandi Jumat merupakan suatu bentuk persiapan spiritual yang mempersiapkan seseorang untuk menunaikan sholat Jumat dengan keadaan yang suci dan bersih.
Dengan mandi Jumat, umat Islam akan meraih pahala yang melimpah dari Allah swt sebagai bentuk penghargaan atas ketaatan dan kesungguhan dalam menjalankan ibadah.
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah berikut:
روى عن أبى صالح عن أبى هريرة -رضي الله عنه -أن النبي -صلى الله عليه وسلم -قال: “من اغتسل يوم الجمعة ثم راح في الساعة الأولى فكأنما فرب بدنة، ومن راح في الساعة الثانية فكأنما قرب بقرة، ومن راح في الساعة الثالثة فكأنما قرب كبشًا أقرن، ومن راح في الساعة الرابعة فكأنما قرب دجاجة، ومن راح في الساعة الخامسة فكأنما قرب بيضة، فإذا خرج الإمام حضرت الملائكة يستمعون الذكر
Artinya: "Diriwayatkan dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa mandi pada hari Jumat kemudian pergi pada jam pertama, maka seakan-akan ia telah berkurban seekor unta. Dan barangsiapa pergi pada jam kedua, maka seakan-akan ia telah berkurban seekor sapi. Dan barangsiapa pergi pada jam ketiga, maka seakan-akan ia telah berkurban seekor kambing jantan yang bertanduk. Dan barangsiapa pergi pada jam keempat, maka seakan-akan ia telah berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa pergi pada jam kelima, maka seakan-akan ia telah berkurban sebutir telur. Ketika imam keluar (untuk berkhutbah), malaikat hadir mendengarkan dzikir (khutbah).”
2. Diampuni Dosanya
Orang yang mandi Jumat akan diampuni dosanya. Syekh Abdul Qadir Jailani, menjelaskan dalam kitab al-Ghunyah, dengan mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, di mana Rasulullah saw bersabda:
وعن نافع عن ابن عمر -رضي الله عنهما -قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم -: “اغتسل في كل يوم جمعة أخرجه الله تعالى من ذنوبه ثم قيل له: استأنف العمل
Artinya: “Dari Nafi’, dari Ibnu Umar ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa mandi pada setiap hari Jumat, Allah Ta’ala akan mengeluarkannya dari dosa-dosanya, kemudian dikatakan kepadanya: Mulailah amalmu dari awal.” (HR. Tirmidzi)
Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani, mandi Jumat bukan hanya membersihkan diri secara fisik, tetapi juga membersihkan diri secara spiritual. Mandi Jumat menjadi simbol penyucian diri dari dosa dan kesalahan yang telah diperbuat selama seminggu. Dengan mandi Jumat, seorang Muslim diharapkan dapat memulai kembali lembaran baru dengan hati yang bersih dan penuh semangat untuk berbuat kebaikan.
3. Setara Pahala Puasa Setahun
Syekh Abdul Qadir Jailani menjelaskan bahwa pahala mandi sebelum sholat Jumat sangat besar, bahkan setara dengan pahala puasa selama setahun dan malamnya ditambah dengan sholat malam. Beliau merujuk pada hadits Rasulullah saw yang menyatakan bahwa barangsiapa yang mandi, kemudian berwudhu, lalu berangkat ke masjid pada pagi hari dan mendekati imam tanpa melalaikan sholat, maka setiap langkah yang diambilnya akan diberikan pahala seperti berpuasa selama setahun dan sholat malamnya.
وروى عن رسول الله -صلى الله عليه وسلم -أنه قال: ”من غسل واغتسل وغدا وابتكر ودنا من الإمام ولم يلغ، كان له بكل خطوة صيام سنة وقيامها”.
Artinya: “Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang mandi, kemudian berwudhu, kemudian berangkat pagi-pagi, dan mendekati imam, dan tidak melalaikan sholat, maka baginya untuk setiap langkahnya pahala puasa setahun dan pahala salat malamnya.”
Hadits ini menegaskan pentingnya mandi sebelum sholat Jumat sebagai bagian dari persiapan ibadah yang tidak hanya membersihkan jasmani, tetapi juga mendatangkan pahala yang luar biasa besar, menunjukkan betapa mulianya hari Jumat dan betapa besar rahmat Allah swt kepada hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Secara keseluruhan, keutamaan mandi hari Jumat menurut pandangan Syekh Abdul Qadir Jailani mencakup aspek spiritual dan personal. Mandi pada hari Jumat bukan hanya sekadar kewajiban ritual, tetapi juga merupakan peluang untuk membersihkan jiwa, mendapatkan berkah Allah swt, mempersiapkan diri untuk hari yang penuh berkah, dan memperkuat hubungan sosial dalam kaum Muslim yang hadir sholat Jumat.
Editor: Muhammad Faizin


