Arina.id - Dalam banyak budaya dan tradisi, kewajiban anak kepada orang tua sering kali ditekankan, terutama tentang menghormati dan berbakti kepada mereka. Namun, penting juga untuk diingat bahwa hubungan antara orang tua dan anak adalah hubungan dua arah. Tidak hanya anak yang bisa durhaka kepada orang tua, tetapi orang tua juga memiliki tanggung jawab moral dan agama untuk memperlakukan anak dengan baik. Jika orang tua gagal memenuhi kewajiban ini, mereka pun dapat dianggap durhaka kepada anaknya.
Pengertian Durhaka Orang Tua pada Anak
Durhaka orang tua kepada anak terjadi ketika mereka melakukan tindakan atau memperlihatkan sikap yang melanggar hak-hak anak. Dalam Islam, anak memiliki hak-hak tertentu yang harus dipenuhi oleh orang tua, seperti kasih sayang, pendidikan, perlindungan, dan pemeliharaan. Ketika hak-hak ini diabaikan atau dilanggar, orang tua telah melakukan kedurhakaan terhadap anak.
Sebagaimana dalam riwayat Sahabat Umar bin Khattab, terdapat kisah seorang anak yang kabarnya durhaka kepada orang tua, namun ternyata hal itu bermula dari kedurhakaan orang tua terhadap anak tersebut. Kisah ini pernah diceritakan oleh seorang ulama mazhab Hanafi, yakni Imam Abu Laits as-Samarqandi.
Bentuk-bentuk Kedurhakaan Orang Tua pada Anak
Berikut adalah beberapa bentuk kedurhakaan yang mungkin dilakukan oleh orang tua terhadap anak:
1. Mengabaikan Kebutuhan Dasar Anak
Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan fisik, emosional, dan spiritual anak. Mengabaikan kebutuhan ini, seperti makanan, pakaian, pendidikan, atau perhatian, adalah bentuk kedurhakaan yang serius.
Rasulullah SAW bersabda tentang kewajiban orangtua terhadap anak yang mesti dipenuhi:
.وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
Artinya: “Laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang perempuan di dalam rumah suaminya adalah pemimpin, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya tersebut.” (HR. Bukhari no. 2409)
2. Menggunakan Kekerasan Fisik atau Verbal
Kekerasan, baik fisik maupun verbal, dapat meninggalkan luka mendalam pada anak. Menghukum anak dengan cara yang tidak manusiawi atau terus-menerus merendahkan mereka dapat merusak harga diri dan kesejahteraan mental anak.
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَجَنَّبِ الْوَجْهَ، وَلَا يَقُلْ قَبَّحَ اللهُ وَجْهَكَ
Artinya: “Jika salah satu dari kalian memukul, maka hindarilah wajah dan janganlah berkata, “Semoga Allah memperburuk wajahmu!” (HR. Ahmad no. 7420)
Hadits ini menegaskan bahwa jikapun kita harus mengambil tindakan tegas dengan memukul anak, pastikan pukulan tersebut tidak menyakitkan, tidak ke area vital dan wajib menghindari kata-kata yang bisa merusak kondisi psikologis anak.
3. Tidak Memberikan Kasih Sayang
Anak membutuhkan cinta dan perhatian dari orang tua. Ketika orang tua bersikap dingin, acuh tak acuh, atau tidak peduli terhadap kebutuhan emosional anak, mereka menciptakan jarak emosional yang dapat berdampak negatif pada perkembangan anak.
Rasulullah SAW pernah memberikan peringatan kepada Sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash tentang kewajibannya sebagai orang tua. Beliau bersabda:
وَإِنَّ لِوَلَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
Artinya: “Sungguh anakmu punya hak yang harus kamu penuhi.” (HR. Muslim no. 1159).
4. Memaksakan Kehendak Tanpa Mempertimbangkan Kebutuhan Anak
Beberapa orang tua memaksakan mimpi atau ambisi pribadi mereka kepada anak tanpa mempertimbangkan bakat, minat, atau keinginan anak. Hal ini bisa membuat anak merasa tertekan dan kehilangan jati diri.
5. Tidak Memberikan Pendidikan yang Baik
Pendidikan adalah hak dasar anak. Jika orang tua mengabaikan pendidikan anak atau tidak memberikan arahan moral dan agama yang baik, mereka gagal menjalankan tanggung jawab mereka.
Allah SWT berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa maksud dari memelihara keluarga dari api neraka adalah memberikan pendidikan agama yang baik kepada keluarga, khususnya anak agar ia bisa terbebas dari siksa neraka.
6. Diskriminasi antar Anak
Orang tua yang memperlakukan anak-anaknya dengan tidak adil, misalnya dengan memberikan perhatian lebih kepada satu anak dan mengabaikan yang lain, dapat menimbulkan rasa sakit hati dan ketidakadilan dalam keluarga.
Dikisahkan bahwa pernah ada seorang lelaki yang sowan kepada Rasulullah SAW dan berkata bahwa ia memiliki harta beberapa dinar. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata agar ia menafkahkannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Saat lelaki tadi menjawab bahwa masih ada kelebihan dinar, Rasulullah lantas bersabda:
تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ
Artinya: “Berikan untuk anakmu.” (HR. Abu Dawud no. 1691)
Rasulullah juga bersabda agar sebagai orangtua senantiasa harus bersikap adil kepada anak-anaknya:
فَاتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ
Artinya: “Bertakwalah kamu kepada Allah, dan berlaku adillah di antara anak-anakmu.” (HR. Bukhari no. 2587).
Dampak Kedurhakaan Orang Tua kepada Anak
Tindakan durhaka orang tua dapat meninggalkan dampak jangka panjang pada anak seperti:
- Trauma Emosional; Anak-anak yang diperlakukan buruk oleh orang tua mungkin mengalami gangguan kecemasan, depresi, atau rendahnya rasa percaya diri.
- Hubungan yang Rusak; Kedurhakaan orang tua dapat menyebabkan renggangnya hubungan antara anak dan orang tua, bahkan hingga dewasa.
- Masalah Sosial; Anak-anak yang mengalami perlakuan buruk sering kali kesulitan membangun hubungan sehat dengan orang lain di masa depan.
Orang tua memiliki peran penting dalam kehidupan anak. Kedurhakaan orang tua terhadap anak adalah pelanggaran terhadap hak-hak yang seharusnya mereka penuhi. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk selalu introspeksi diri dan memastikan bahwa mereka menjalankan tanggung jawab dengan baik. Dengan demikian, hubungan harmonis antara orang tua dan anak dapat terjalin, sesuai dengan nilai-nilai moral dan agama. Wallahu a’lam bish shawab
Editor: Muhammad Faizin


