Arina.id - Sering kali seseorang terbangun ketika matahari sudah terbit sehingga waktu sholat Subuh telah berlalu. Dalam kondisi demikian, kewajiban sholat tidak serta-merta gugur, melainkan tetap harus ditunaikan dengan cara mengqadhanya.
Lantas, ketika sholat Subuh dikerjakan pada siang hari sebagai qadha dan terlihat oleh orang lain, apakah tetap disunnahkan membaca qunut sebagaimana sholat Subuh pada waktunya? Apakah boleh seseorang qunut dengan tidak mengangkat tangan dan membaca redaksi pendek agar tidak jadi bahan ciniran orang lain?
Pada dasarnya, hukum membaca doa qunut di waktu sholat Subuh adalah sunnah. Kesunnahan ini termasuk dalam kategori sunnah ab’ād, yakni kesunnahan dalam sholat yang jika ditinggalkan akan memunculkan kesunnahan melakukan sujud sahwi, yakni sujud dua kali sebelum melakukan salam.
Sebagaimana catatan berikut:
وسنن الصلاة نوعان: نوع أبعاض: يُجبر تركها بسجود السهو. وهيئات لا تُجبر بسجود السهو. فأما ما يُجبر فخمسة، وهي الأبعاض: القنوت، والقيام للقنوت، والتشهد الأول، والقعود للتشهد الأول، والصلاة على النبي – صلى الله عليه وسلم – في التشهد الأول.
Artinya: "Sunnah dalam sholat ada dua, yaitu ‘Ab’ād (jika ditinggalkan maka boleh dilengkapi dengan sujud sahwi), dan Ha’iāt (jika ditinggalkan tidak bisa dilengkapi dengan sujud sahwi). Ab’ād ada lima, yaitu: qunut, berdiri untuk qunut, tasyāhud awal, membaca shalawat kepada Nabi SAW di tasyahud awal." (Ahmad bin Muhammad al-Maḥāmili, Al-Lubāb fil Fiqhi al-Syafi’i, [Madinah Munawwarah: Darul Bukhari], hal. 100.).
Ketentuan ini memperbolehkan seseorang untuk tidak melaksanakan qunut ketika sholat Subuh. Sholat yang dilakukan tetap sah meskipun dia dianjurkan untuk melaksanakan sujud sahwi di penghujung sholatnya sebelum mengakhiri dengan salam. Sujud sahwi sendiri hukumnya sunnah da boleh untuk tidak dilakukan.
Seseorang yang melaksanakan qadha sholat Subuh boleh saja tidak melaksanakan qunut dan juga tidak sujud sahwi demi menyembunyikan apa yang dia lakukan ketika dilakukan di hadapan pasang mata orang. Hal ini agar tidak menjadi bahan pergunjingan orang lain atas aib pribadi.
Menutup aib pribadi agar tidak menjadi bahan gunjingan orang lain merupakan hal yang sangat dianjurkan oleh fiqih Islam. Seseorang ketika mengalami hadats dalam kondisi sholat disunnahkan untuk memegang hidungnya dan meninggalkan sholat. Hal ini dilakukan agar orang lain mengira hidungnya berdarah sehingga harus membatalkan sholat.
Anjuran itu sebagaimana catatan Sa’īd Muhammad Bā’Ali berikut:
ويسن لمن أحدث في صلاته أو قبلها قرب إقامتها أن يأخذ بأنفه، ولينصرف؛ ستراً على نفسه، ولئلا يخوض الناس فيه.
Artinya: "Disunnahkan bagi orang yang berhadats ketika sholat atau sebelum sholat dan mendekati iqamah untuk memegang hidungnya dan meninggalkan tempat, demi melindungi aib pribadinya, agar tidak dicibir oleh orang lain." (Sa’īd Muhammad Bā’Ali al-Ḥadrami, Muqaddimah Ḥardamiyah, [Jeddah: Darul Minhaj, 2004], hal. 252.).
Sa’īd Muhammad Bā’Ali juga menganalogikan ketentuan itu khusus untuk kasus qadha sholat Subuh. Dia melanjutkan catatannya sebagai berikut:
ويؤخذ منه أنه يسن ستر كل ما يوقع الناس فيه، كما لو نام عن صلاة الصبح فتوضأ بعد طلوع الشمس .. فيوهم أنه يصلي الضحى.
Artinya: "Dari ketentuan itu disimpulkan bahwa sunnah menyembunyikan segala hal yang bisa menimbulkan cibiran orang, seperti ketika tertidur dan tidak melakukan sholat Subuh, lalu wudhu setelah terbit matahari, dan dia melakukan sholat yang orang mengira sholat itu adalah sholat Dhuha."
Catatan tersebut bukan berarti seorang pelaku qadha subuh tidak boleh melaksanakan doa qunut. Dia bisa saja berqunut dengan tanpa mengangkat kedua tangan, sebab kesunnahan mengangkat kedua tangan tersebut masih menjadi perkhilafan antar para ulama. Sebagaimana catatan Qāḍi Husain berikut:
وهل يسن رفع اليدين في القنوت؟ كان الشيخ القفال: رحمه الله يحكي عن ابي زيد المروزي رحمه الله أنه كان يقول: السنة أن يرفع يديه في دعاء القنوت، ويمسح بها وجهه، لأنه دعاء، وكان رحمه الله يقول: لا يسن عندي رفع اليدين فيه، ولا مسح الوجه بهما، لأنه دعاء في الصلاة، والأدعية المشروعة في الصلاة لا يسن فيها رفع اليدين
Artinya: "Apakah disunnahkan mengangkat kedua tangan ketika qunut? Syaikh al-Qaffāl mengutip Abu Zaid al-Marwazi, dia berkata sunnah mengangkat kedua tangan untuk doa qunut dan mengusapkan ke wajah, sebab itu adalah doa. Akan tetapi, menurut al-Qaffāl pribadi tidak sunnah, juga tidak mengusap wajah, sebab qunut adalah doa dalam sholat, dan setiap doa yang disyariatkan dalam sholat tidak disunnahkan mengangkat kedua tangan." (Al-Qāḍi Husain al-Marwarużi, Al-Ta’līqāt ala Mukhtaṣar al-Muzani, [Makkah Mukarramah: Maktabah Nizar Musthafa al-Baaz],
Jika pelaku qadha Subuh masih belum merasa aman ketika membaca qunut dengan tanpa mengangkat tangan, karena dirasa dicurigai oleh orang di sekitarnya sebab berdiri i’tidāl terlalu lama, maka opsi terakhir adalah merubah redaksi qunut dengan bacaan yang paling pendek.
Redaksi qunut yang sering dibaca oleh masyarakat muslim adalah redaksi yang paling afdhal dan ma’ṡur dari Rasulullah SAW. Akan tetapi, menurut pada ulama ambang batas minimal kesunnahan qunut adalah dengan membaca ayat yang mengandung doa atau doa selain ayat yang mengangung pujian kepada Allah SAW.
Sebagaimana catatan Sa’īd Muhammad Bā’Ali berikut:
ويحصل أصل سنته بآية فيها دعاء إن قصده وحده؛ لكراهة القراءة في غير القيام، وبدعاء ولو بدنيوي وغير مأثور. ويشترط في بدله كونه دعاء، قال (م ر): وثناء، كـ (اللهم اغفر لي يا غفور).
Artinya: "Asal kesunnahan qunut dapat diwujudkan dengan membaca ayat yang mengandung doa jika seseorang hanya membaca ayat itu saja, sebab makruh membaca ayat di selain posisi berdiri. Juga dengan doa meskipun doa duniawi dan bukan doa yang ma’ṡur. Jika menggunakan gantinya, maka disyaratkan doa yang mengandung pujian kepada Allah sebagaimana menurut al-Ramli, seperti doa “Allahumma igfir ly ya Gafūr”." (hal. 229).
Pelaku qadha Subuh bisa mengganti redaksi qunutnya dengan membaca surat al-Mu’minun ayat 118 dengan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai pelengkap. Berikut redaksinya:
رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰحِمِيْنَ ࣖ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Walhasil, qunut merupakan kesunnahan dalam sholat, begitu juga mengangkat kedua tangan saat membacanya. Seseorang yang melakukan qadha Subuh bisa berqunut atau tidak jika melakukannya di depan pasang mata orang lain. Namun lebih baik menyembunyikan qunutnya dengan menggunakan redaksi singkat tanpa mengangkat tangan agar tidak menjadi bahan cibiran orang lain. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin


