Bulan Rabiul Awal memiliki makna yang sangat istimewa dalam Islam, terutama atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal telah menjadi tradisi yang mengakar di Nusantara.
Perayaan ini tidak hanya dilangsungkan selama satu hari, namun seringkali hingga berhari-hari bahkan satu bulan penuh sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas kehadiran Rasulullah SAW, suri teladan dan rahmat bagi seluruh umat manusia.
Berdasarkan pendapat para ulama yang dikumpulkan dari pelbagai referensi, berikut 8 keutamaan yang dapat diperoleh ketika menghadiri peringatan Maulid Nabi.
1. Meraih Kebahagiaan dengan Penuh Keimanan
Tatkala duduk bersama dalam acara Maulid Nabi di dalamnya dituturkan kisah perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan Islam, kesabaran beliau menghadapi cobaan, dan kasih sayangnya kepada umat. Dengan mendengarkan kisah-kisah tersebut, hati menjadi semakin tergugah untuk meneladani akhlak beliau, keimanan pun semakin menguat lantaran merasa semakin dekat dengan Rasulullah.
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Junaid Al-Baghdadi (wafat 297 H) yang dikutip dalam sebuah kitab:
مَنْ حَضَرَ مَوْلِدَ الْنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَظَّمَ قَدْرَهُ فَقَدْ فَازَ بِالْإِيْمَانِ
Artinya: “Barangsiapa yang menghadiri perayaan Maulid Nabi SAW serta memuliakan kedudukannya, maka dia telah memperoleh kebahagiaan dengan penuh keimanan.” (Abu Bakar bin Syatha Muhammad Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah At-Thalibin [Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah], vol. 3, h. 608)
2. Dikelilingi oleh Limpahan Rahmat dan Malaikat
Ketika seseorang turut serta dalam Maulid Nabi Muhammad SAW, maka para malaikat akan mengelilingi tempat di mana perayaan Maulid berlangsung, memohonkan doa dan rahmat terhadap seluruh orang yang menghadirinya.
Selain itu, rahmat Allah SWT akan melimpah menyebar di antara mereka menjadikan acara tersebut penuh dengan keberkahan dan ketenangan. Berkaitan dengan hal ini, Syekh Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 911 H) dalam kitabnya yang berjudul Al-Wasail Syarh Asy-Syamail menegaskan:
مَا مِنْ بَيْتٍ أَوْ مَسْجِدٍ أَوْ مَحْلَةٍ قُرِئَ فِيْهِ مَوْلِدُ الْنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَفَّتْ الْمَلَائِكَةُ ذَلِكَ الْبَيْتِ أَوِ الْمَسْجِدِ أَوِ الْمَحْلَةِ وَصَلَّتْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَهْلِ ذَلِكَ الْمَكَانِ وَعَمَّهُمُ اللهُ تَعَالَى بِالْرَّحْمَةِ وَالْرِّضْوَانِ
Artinya: “Tidaklah suatu rumah, masjid, atau lingkungan tempat dibacakan Maulid Nabi SAW kecuali para malaikat akan mengelilingi rumah, masjid, atau lingkungan tersebut. Para malaikat akan senantiasa bershalawat atas penghuni tempat itu dan Allah SWT akan melimpahkan rahmat serta keridhaan-Nya kepada mereka.” (Abu Bakar bin Syatha Muhammad Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah At-Thalibin [Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah], vol. 3, h. 608)
3. Dijauhkan Dari Segala Marabahaya dan Bencana
Peringatan Maulid Nabi, memiliki banyak keutamaan dan bernilai keberkahan. Salah satunya adalah perlindungan dari segala malapetaka dan bencana. Mereka yang menghadiri perayaan ini dengan niat yang tulus dan penuh kecintaan kepada Nabi SAW akan dijauhkan dari berbagai bentuk kesulitan, bahaya, dan bencana.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitabnya:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ قُرِئَ فِيْ بَيْتِهِ مَوْلِدُ الْنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا رَفَعَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْقَحْطُ وَالْوَبَاءُ وَالْحَرْقُ وَالْغَرْقُ وَالْآفَاتُ وَالْبَلِيَاتُ وَالْبُغْضُ وَالْحَسَدُ وَعَيْنُ الْسُّوْءِ وَالْلُّصُوْصِ عَنْ أَهْلِ ذَلِكَ الْبَيْتِ فَإِذَا مَاتَ هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ جَوَابَ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ وَيَكُوْنُ فِيْ مَقْعَدِ صِدْقٍ عَنْ مَلِيْكٍ مُقْتَدِرٍ
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim yang membaca Maulid Nabi SAW di rumahnya kecuali Allah SWT akan mengangkat kekeringan, wabah, kebakaran, tenggelam, bencana, kesulitan, kebencian, iri hati, pandangan buruk, dan pencuri dari penduduk rumah tersebut. Dan apabila dia meninggal dunia, Allah akan memudahkan jawabannya terhadap pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, serta dia akan berada di tempat yang mulia di sisi Raja yang Maha Kuasa.” (Abu Bakar bin Syatha Muhammad Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah At-Thalibin [Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah], vol. 3, h. 608)
4 Kelak Akan Dikumpulkan Bersama Golongan Orang-Orang Mulia
Pada Hari Kiamat, Allah akan mengumpulkan mereka yang mencintai dan memuliakan Nabi Muhammad SAW dengan cara menyiapkan makanan, menghidangkan suguhan, dan berpartisipasi untuk mensukseskan perayaan Maulid Nabi ke dalam golongan yang mulia. Mereka akan bersama para Nabi dan menduduki tempat yang tinggi di surga. Ini merupakan suatu kehormatan yang agung, mencerminkan penghargaan terhadap mereka yang mencintai Rasulullah SAW.
Syekh Ma’ruf Al-Karkhi (wafat 200 H) menyatakan:
مَنْ هَيَّأَ طَعَامًا لِأَجْلِ قِرَاءَةِ مَوْلِدِ الْنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَمَعَ اخْوَانًا وَأَوْقَدَ سِرَاجًا وَلَبِسَ جَدِيْدًا وَتَبَخَّرَ وَتَعَطَّرَ تَعْظِيِمًا لِمَوْلِدِ الْنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَشَّرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الْفِرْقَةِ الْأُوْلَى مِنَ الْنَّبِيِّيْنَ وَكَانَ فِيْ أَعْلَى عِلِّيِّيْنَ
Artinya: “Barangsiapa yang menyiapkan makanan untuk membaca Maulid Nabi SAW, mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan lampu, mengenakan pakaian baru, serta menggunakan parfum dan wewangian sebagai bentuk penghormatan terhadap kelahiran Nabi SAW, maka Allah akan mengumpulkannya pada hari kiamat bersama golongan pertama dari para nabi dan dia akan berada di tempat yang tertinggi di surga.” (Abu Bakar bin Syatha Muhammad Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah At-Thalibin [Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah], vol. 3, h. 608)
5. Laksana Menghadiri Taman Surga
Menghadiri acara Maulid Nabi, bagaikan memasuki salah satu taman surga di dunia. Ketika seseorang menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, maka ia tidak hanya merayakan momentum penting melainkan juga memasuki suasana yang dipenuhi dengan rahmat dan keberkahan.
Syekh Sari As-Saqathi (wafat 251 H) berkata:
مَنْ قَصَدَ مَوْضِعًا يُقْرَأُ فِيْهِ مَوْلِدُ الْنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَصَدَ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ لِأَنَّهُ مَا قَصَدَ ذَلِكَ الْمَوْضِعِ إِلَّا لِمَحَبَّةِ الْنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّنِيْ كَانَ مَعِيْ فِيْ الْجَنَّةِ
Artinya: “Barangsiapa yang menuju suatu tempat untuk membaca Maulid Nabi SAW maka dia menuju salah satu taman dari pada pertamanan surga, karena dia tidak pergi ke tempat itu kecuali karena cintanya kepada Nabi Dan Nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang mencintai-Ku, maka dia akan bersamaku di surga.” (Abu Bakar bin Syatha Muhammad Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah At-Thalibin [Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah], vol. 3, h. 608)
6. Bersedekah untuk Peringatan Maulid Amalan yang Agung
Mendermakan sebagian harta untuk peringatan Maulid Nabi merupakan amal yang sangat mulia. Pada Hari Kiamat, kelak orang yang beramal dengan niat tulus untuk memuliakan Maulid Nabi akan diberikan kedudukan yang sangat mulia. Sebagai balasan atas sedekah yang dilakukannya, mereka akan mendapatkan kehormatan untuk menemani Sahabat Abu Bakar di surga.
Sayyidina Abu Bakar RA pernah berkata:
مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلَى قِرَاءَةِ مَوْلِدِ الْنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَفِيْقِيْ فِيْ الْجَنَّةِ
Artinya: “Barangsiapa membelanjakan satu dirham (uang emas) untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di surga.”
Dengan beramal untuk perayaan Maulid, seseorang dianggap telah berpartisipasi dalam peristiwa bersejarah umat Islam yang penuh dengan keberkahan dan kemenangan, seperti halnya Perang Badar dan Hunain.
Dengan demikian, setiap dirham yang dikeluarkan untuk acara Maulid Nabi SAW tidak hanya berfungsi sebagai dukungan materi semata, akan tetapi juga sebagai wasilah untuk mendulang pahala yang setara dengan keikutsertaan dalam momen bersejarah umat Islam.
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Sayyidina Utsman RA:
مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلَى قِرَاءَةِ مَوْلِدِ الْنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَأَنَّمَا شَهِدَ غَزْوَةَ بَدْرٍ وَحُنَيْنٍ
Artinya: “Barangsiapa membelanjakan satu dirham (uang emas) untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka seakan-akan ia ikut-serta menyaksikan perang Badar dan Hunain.” (Ahmad bin Ali Ibn Hajar Al-Haitami, An-Ni’mah Al-Kubra Ala Al-‘Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam [Istanbul: Maktabah Al-Haqiqah], h. 6)
Bahkan, Imam Hasan Al-Basri (wafat 110 H) dalam merayakan Maulid Nabi tidak hanya merasa bahagia, namun juga siap untuk memberikan segala sesuatu yang dimilikinya demi kecintaan dan penghormatannya terhadap Rasulullah SAW:
وَدِدْتُ لَوْ كَانَ لِيْ مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقْتُهُ عَلَى قِرَاءَةِ مَوْلِدِ الْنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya: “Aku senang sekali seandainya aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud, niscaya akan aku belanjakan untuk kepentingan memperingati Maulid Nabi SAW.” (Abu Bakar bin Syatha Muhammad Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah At-Thalibin [Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah], vol. 3, h. 608)
7. Masuk Surga Tanpa Hisab
Saat seseorang dengan sepenuh hati menghadiri perayaan Maulid Nabi dan mengagungkannya. Maka Allah SWT niscaya akan memberikan kemuliaan dan ampunan. Termasuk dalam bentuk ampunan ini adalah jaminan untuk masuk surga tanpa melalui proses hisab, atau perhitungan amal. Sayyidina Ali RA berkata:
مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدِ الْنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ سَبَبًا لِقِرَاءَتِهِ لَا يَخْرُجُ مِنَ الْدُّنْيَا إِلَّا بِالْإِيْمَانِ وَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابْ
Artinya: “Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, dan hal itu menjadi sebab dilaksanakannya pembacaan maulid Nabi, maka tidaklah ia keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan dimasukkan ke dalam surga dengan tanpa hisab.” (Ahmad bin Ali Ibn Hajar Al-Haitami, An-Ni’mah Al-Kubra Ala Al-‘Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam [Istanbul: Maktabah Al-Haqiqah], h. 6)
8. Meraih Keberkahan dan Diampuni Dosanya
Makanan dan minuman yang disajikan dalam perayaan Maulid Nabi tidak hanya menjadi hidangan fisik semata namun juga bernilai keberkahan. Allah akan mengampuni orang yang memakannya, memasukkan ke dalam hatinya cahaya dan rahmat, mengeluarkan dari hatinya sifat dengki dan penyakit hati, serta hati tersebut tidak akan mati. Imam Fakhruddin Ar-Razi (wafat 606 H) mengemukakan:
مَا مِنْ شَخْصٍ قَرَأَ مَوْلِدَ الْنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْحٍ أَوْ بُرٍّ أَوْ شَيْئٍ آخَرَ مِنَ الْمَأْكُوْلَاتِ إِلَّا ظَهَرَتْ فِيْهِ الْبَرَكَةُ وَفِيْ كُلِّ شَيْئٍ وَصَلَ إِلَيْهِ مِنْ ذَلِكَ الْمَأْكُوْلِ فَإِنَّهُ يَضْطَرِبُ وَلَا يَسْتَقِرُّ حَتَّى يَغْفِرَ اللهُ لِآكِلِهِ وَإِنْ قُرِئَ مَوْلِدُ الْنَّبِيِّ عَلَى مَاءٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْ ذَلِكَ الْمَاءِ دَخَلَ قَلْبَهُ أَلْفُ نُوْرٍ وَرَحْمَةٍ وَخَرَجَ مِنْهُ أَلْفَ غِلٍّ وَعِلَّةٍ وَلَا يَمُوْتُ ذَلِكَ الْقَلْبُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبِ
Artinya: “Tidaklah seseorang yang membacakan Maulid Nabi SAW ke atas garam atau gandum atau makanan yang lain, melainkan akan tampak keberkahan padanya, dan setiap sesuatu yang sampai kepadanya (dimasuki) dari makanan tersebut, maka akan bergoncang dan terus menerus demikian hingga Allah mengampuni orang yang memakannya. Dan sekiranya dibacakan maulid Nabi ke atas air maka orang yang meminum seteguk dari air tersebut akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, akan keluar daripadanya seribu sifat dengki dan penyakit dan tidak akan mati hati tersebut pada hari dimatikannya hati.” (Ahmad bin Ali Ibn Hajar Al-Haitami, An-Ni’mah Al-Kubra Ala Al-‘Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam [Istanbul: Maktabah Al-Haqiqah], h. 6)
Demikian uraian mengenai 8 keutamaan menghadiri peringatan Maulid Nabi, yang disusun berdasarkan pendapat para ulama dan dikumpulkan dari pelbagai referensi. Banyak kalangan ulama yang telah memberikan penjelasan seputar keutamaan yang diperoleh dari menghadiri Maulid. Dengan memahami keutamaan-keutamaan ini, hendaknya kita memaknai perayaan Maulid Nabi sebagai momentum yang penuh dengan keutamaan serta keberkahan. Wallahu A'lam bis shawab.
A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.
Editor: Muhammad Faizin


