Banyak orang yang selama bertahun-tahun merasa canggung secara sosial, tanpa mereka sadari dan tanpa mereka tahu apa solusinya. Percakapan mereka dengan orang lain, terasa seperti permainan yang penuh tekanan, dan membuat mereka merasa terpuruk.
Namun, tahukan Anda ada beberapa kebiasaan dalam berbicara yang dapat mengubah orang-orang tersebut. Kebiasaan ini bukan hanya membantu mereka “bertahan” dalam interaksi sosial, tetapi sekaligu membuat mereka berkembang di dalamnya.
Dengan kebiasaan tersebut, mereka dapat ngobrol lebih tenang dan penuh percaya diri.
Berikut adalah 6 kebiasaan yang mengubah kecanggungan jadi kenyamanan dalam berbiacara menurut laman Geediting.com. Siapa tahu, kebiasaan ini juga bisa membawa perubahan besar untuk Anda.
1. Menerima Keheningan
Sering kali, rasa canggung dalam bersosialisasi terjadi karena ketakutan terhadap keheningan. Kita bisa memilih bicara ngalor-ngidul hanya untuk mengisi jeda hening dalam percakapan.
Sadarilah bahwa keheningan bukanlah musuh. Keheningan justru bisa menjadi alat komunikasi yang sangat kuat jika digunakan dengan tepat.
Kita bisa belajar menerima keheningan, alih-alih merasa takut. Ini adalah salah satu kebiasaan yang paling dasar yang mengubah cara kita berbicara. Keheningan memberi waktu untuk berpikir sebelum merespons. Bahkan, secara mengejutkan, juga memberi ruang bagi lawan bicara untuk terbuka, menjadikan percakapan lebih dalam dan tidak sepihak.
Jadi, daripada terus-terusan mengisi jeda dengan kata-kata, cobalah terima keheningan. Mungkin awalnya terasa canggung, tapi lama-kelamaan Anda akan menyadari kekuatannya dalam membangun interaksi sosial yang lebih bermakna.
Poin utama dari langkah ini adalah bahwa kita tidak perlu mengisi setiap detik dengan omongan. Kadang, kata-kata paling bermakna muncul justru setelah sebuah jeda.
2. Mendengarkan Secara Aktif
Mungkin sebelumnya kita berpikir menjadi pembicara yang baik berarti harus bisa berbicara dengan fasih dan punya banyak hal menarik untuk dibagikan. Tetapi setelah mengenal kebiasaan mendengarkan secara aktif, kita sadar bahwa hal itu salah besar.
Mendengarkan aktif bukan sekadar mendengar kata-kata yang diucapkan. Ini tentang memahami sudut pandang, perasaan, dan pikiran lawan bicara.
Kita bisa berlatih saat berbincang dengan seseorang yang baru kita kenal, kita memilih untuk benar-benar mendengarkan. Kita memperhatikan bukan hanya apa yang dikatakan lawan bicara, tetapi juga bagaimana dia mengatakannya—bahasa tubuhnya, ekspresinya, emosi di balik kata-katanya.
Kita perlu juga merespons dengan tulus dan empati. Ini akan berdampak sangat baik: oorang tersebut mulai terbuka lebih banyak, dan percakapan menjadi sangat berarti. Percakapan itu tidak hanya membuat kita merasa lebih nyaman, tapi juga membekas bagi dia.
Mendengarkan aktif mengubah percakapan saya dari sekadar basa-basi menjadi interaksi yang bermakna. Kita akan merasa lebih terhubung dengan orang lain dan rasa canggung saya pun berkurang drastis.
3. Ajukan Pertanyaan Terbuka
Jenis pertanyaan yang kita ajukan bisa menentukan apakah percakapan akan menarik atau justru buntu. Oleh karena itu kita harus mencoba mengajukan pertanyaan terbuka.
Pertanyaan terbuka adalah senjata rahasia di sini. Tidak seperti pertanyaan tertutup yang hanya dijawab “ya” atau “tidak”, pertanyaan terbuka mengundang orang untuk berbagi lebih banyak tentang pemikiran, perasaan, dan pengalaman mereka.
Tahukah Anda bahwa psikolog sering menggunakan pertanyaan terbuka dalam terapi? Karena jenis pertanyaan ini mendorong refleksi dan penemuan diri.
Alih-alih bertanya, “Kamu suka filmnya?” cobalah bertanya, “Apa pendapatmu tentang film itu?” Pergeseran kecil dalam cara bertanya ini bisa memperkaya percakapan dan membuat interaksi sosial terasa lebih natural dan menyenangkan.
4. Meniru Bahasa Tubuh Lawan Bicara Secara Alami (Mirroring)
Bahasa tubuh memainkan peran penting dalam cara kita berkomunikasi dan membangun koneksi dengan orang lain. Salah satu kebiasaan yang dapat membantu mengatasi rasa canggung adalah dengan mirroring, atau mencerminkan bahasa tubuh lawan bicara.
Mirroring berarti meniru gerakan, ekspresi wajah, atau postur tubuh lawan bicara secara halus. Ini merupakan cara non-verbal untuk menunjukkan bahwa kita memahami dan sejalan dengan mereka. Namun penting untuk melakukannya secara alami dan tidak berlebihan. Tujuannya adalah menciptakan rasa nyaman dan kebersamaan—bukan membuat orang merasa ditiru.
Setelah menerapkan kebiasaan ini, kita dapat merasakan peningkatan besar dalam interaksi sosial. Orang-orang akan lebih rileks saat berbicara dengan kita dan percakapan pun mengalir lebih lancar.
5. Jadilah Diri Sendiri
Sebagian besar dari kita mungkin beranggapan bahwa untuk disukai orang lain, kita harus sama seperti mereka. Artinya, kita menjadi orang lain. Kita kemudian mati-matian berusaha tampil seperti yang kita kira orang lain inginkan. Kenyataannya, itu hanya membuat kita semakin gelisah dan canggung.
Kita harus mengubah pandangan bahwa keaslian atau apa adanya itulah yang dapat menciptakan koneksi. Saat kita mulai jujur menjadi diri sendiri dalam percakapan, kita tidak hanya merasa lebih tenang, tetapi orang-orang juga jadi lebih tertarik.
Kita dapat mulai mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan jujur, meskipun berbeda dari orang lain. Kita juga belajar untuk terbuka tentang ketakutan dan kerentanan, alih-alih menyembunyikannya.
Pendekatan yang autentik ini membuat percakapan terasa nyata dan berarti. Kita bisa menjalin hubungan yang lebih dalam dan meninggalkan rasa canggung jauh di belakang.
6. Melatih Empati
Kebiasaan terakhir yang benar-benar mengubah kehidupan sosial adalah melatih empati. Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain, melihat dunia dari sudut pandang mereka.
Saat kita menjalani percakapan dengan empati, kita menciptakan ruang aman bagi orang lain untuk mengekspresikan diri. Kita menunjukkan bahwa kita peduli pada perasaan dan pengalaman mereka.
Melatih empati tidak hanya membuat kita menjadi pendengar yang lebih baik, tapi juga komunikator yang lebih efektif. Percakapan jadi lebih bermakna dan tidak lagi terasa menegangkan, benar-benar mengubah cara kita bersosialisasi.
Editor: Kendi Setiawan


