Sudah lebih dari 100 tahun televisi menemani keseharian masyarakat di berbagai belahan dunia. Media audio visual yang awalnya hanya bisa menampilkan tayangan monokrom itu, kini mampu mempertunjukkan beragam program menarik penuh warna. Transformasi televisi dari waktu ke waktu berhasil menghipnotis para penontonnya untuk berlama-lama menyaksikan berbagai program yang disajikan.
Namun, sejak perangkat canggih atau yang juga dikenal dengan sebutan media baru (new media), seperti smartphone, laptop, ipad, dan tablet hadir, posisi televisi sebagai media yang diminati mulai tergeser.
Pada tahun 2016 silam, Nielsen, lembaga riset yang berfokus pada penelitian tentang pemasaran dan konsumen televisi serta media lainnya mengungkap, penggunaan smartphone di Indonesia menjadi lebih dominan daripada televisi, terutama oleh khalayak berusia 18-34 tahun.
Lembaga riset itu menjelaskan, sejak tahun 1949, penonton televisi terus bertambah hingga pada puncak popularitasnya, yakni tahun 2009-2010. Namun setelah itu, jumlah peminat televisi berkurang.
Data dari penelitian Nielsen tersebut mendapati penggunaan smartphone, tablet, ipad, atau media lainnya yang terhubung dengan televisi, seperti game konsol, oleh responden berusia 18 hingga 34 tahun, meningkat 25 persen pada Mei 2016. Hal ini menunjukkan bahwa tidak sedikit masyarakat yang mulai tertarik dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan media selain televisi.
Sekalipun menyalakan media konvensional itu, masyarakat tidak menggunakan televisi untuk menikmati program-programnya, melainkan untuk memanfaatkan fitur-fiturnya, seperti bermain game atau menyaksikan tayangan di platform streaming.
Sebagai informasi, riset tersebut merupakan kali pertama Nielsen menyelenggarakan penelitian untuk mengetahui perilaku menonton video masyarakat melalui televisi konvensional, internet, ponsel, dan perangkat canggih lainnya.
Riset itu menemukan bahwa kebiasaan muda-mudi dewasa ini dalam menonton televisi dan mendengarkan radio telah berubah. Aktivitas tersebut kini digantikan oleh penggunaan layanan streaming seperti Netflix atau layanan web seperti YouTube.
"Perilaku generasi muda merupakan prediksi masa depan. Facebook, YouTube, Twitch, Tumblr, snapchat, Reddit, WhatsApp, Instagram, Vine, dan YouNow semua dikatalisasi oleh remaja sebagai pengguna pertama, dan kemudian menyebar ke kelompok usia yang lebih tua," tulis Nielsen.
Dalam penelitian tahun 2019 berjudul Makna Televisi Bagi Generasi Z juga ditemukan bahwa kalangan remaja dan dewasa awal zaman sekarang sudah tidak lagi menganggap televisi sebagai media utama untuk memperoleh informasi ataupun hiburan.
Kendati demikian, mereka masih menonton televisi dalam beberapa kesempatan, hanya saja frekuensinya jauh berkurang. Hal ini dilatarbelakangi oleh sejumlah penyebab, salah satunya adalah minat generasi Baby Boomers dan generasi X yang masih tinggi terhadap aktivitas menonton televisi.
Gap yang begitu jauh antara generasi-generasi terdahulu dengan zaman sekarang menimbulkan adanya perbedaan ketertarikan terkait tayangan televisi yang ditonton. Hal itu menyebabkan muda-mudi dewasa ini lebih memilih untuk mengalah dan mencari sarana hiburan atau informasi yang lain. Adapun sarana yang mereka tuju adalah perangkat new media seperti smartphone.
Muda-mudi, terutama generasi Z, tumbuh dan berkembang di lingkungan yang serba cepat. Kehadiran smartphone dan perangkat sejenisnya dengan segala kelebihan dan kecanggihan yang dimiliki, membuat kalangan remaja dan dewasa awal tidak lagi melirik media tua televisi.
Kemudian di tahun 2022, sebuah penelitian bertajuk Faktor Penurunan Minat Masyarakat dalam Menonton Televisi menemukan bahwa masyarakat dengan rentang usia 18-40 tahun cenderung menghabiskan waktu luang mereka dengan menggunakan telepon selulernya daripada menonton televisi.
Sementara masyarakat berusia 40-70 tahun lebih banyak menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama keluarga. Penelitian-penelitian dalam beberapa tahun ke belakang tersebut semakin menguatkan bahwa ketertarikan muda-mudi zaman sekarang terhadap aktivitas menonton televisi semakin menurun.
Imam Brotoseno, Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Televisi Republik Indonesia (TVRI) dalam sebuah kesempatan pada bulan April lalu juga mengatakan, televisi telah kehilangan penontonnya sebanyak delapan persen (8%) dalam tiga tahun terakhir. Ia menjelaskan, hal itu disebabkan oleh teknologi yang semakin canggih sehingga mampu menggiring khalayak untuk menikmati saluran digital yang bisa diakses melalui smartphone dengan memanfaatkan internet dan layanan berlangganan.
"Sesuai dengan perubahan digital yang terjadi saat ini, perkembangan televisi tidak lagi seperti yang kita alami seperti pada masa lalu. Suatu saat sekitar 10 hingga 20 tahun ke depan besar kemungkinan masyarakat tidak ada lagi yang menonton melalui televisi," tuturnya pada Rabu (5/4/2023).
Lebih Suka Berselancar di Internet
Tahun lalu, tepatnya April 2022, Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei yang mengungkap bahwa internet menjadi media yang paling sering digunakan oleh masyarakat Indonesia daripada media-media lainnya seperti televisi, koran, dan sejenisnya. Sebanyak 733 responden berusia lebih dari 17 tahun yang memiliki smartphone dengan akses internet dilibatkan dalam survei tersebut.
Adapun data hasil survei tersaji adalah pengguna media internet berupa media sosial, berita online, dsb (55.3%), televisi (36.1%), radio (1.7%), koran (1.1%), majalah (0.1%), tidak tahu/tidak jawab (5.6%).
Data ini menunjukkan bahwa minat muda-mudi terhadap internet cukup tinggi, yakni sebanyak 55.3%. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengakses internet daripada menonton televisi, mendengar radio, dan membaca koran atau majalah.
Angka tersebut kemudian disusul dengan persentase televisi sebesar 36.1%, berselisih hampir 20% dengan internet, tepatnya sebesar 19.2%. Temuan ini juga memperlihatkan bahwa minat masyarakat terhadap media selain internet dan televisi sangat kecil.
Data sosio demografi pengguna internet dan televisi oleh Indikator Politik Indonesia pun menyatakan, sebagian besar pengguna internet adalah generasi Z (75.5%) dan generasi Y (57.4%), yakni responden berusia 10–41 tahun pada 2022.
Sementara generasi Baby Boomers (38.5%) dan generasi X (41%), yaitu responden berusia 42–76 tahun pada 2022 lebih banyak menonton televisi daripada mengakses internet, yakni dengan persentase 42.8% dan 51%.
Layanan Streaming Lebih Menarik
Hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan bahwa memperoleh hiburan merupakan tujuan utama responden mengakses internet. Dengan gawai mungil di genggaman mereka, masyarakat tidak perlu lagi berdiam diri di depan televisi untuk menonton kartun atau menyaksikan siaran pertandingan olahraga.
Sebanyak 47% responden yang memilih internet sebagai media yang paling sering digunakan mengatakan, hampir setiap hari mereka mengunjungi platform YouTube untuk melakukan streaming.
Seiring berjalannya waktu, posisi televisi sebagai media utama bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dan hiburan semakin tersingkirkan. Faktor-faktor seperti kualitas tayangan yang menurun dan terkesan kurang mendidik membuat masyarakat enggan kembali menyalakan televisi mereka.
Di samping itu, layanan streaming dalam negeri dan luar negeri menyajikan tayangan yang lebih bervariasi dan dapat disesuaikan dengan keinginan khalayak. Hal ini menyebabkan eksistensi televisi terdorong semakin jauh ke belakang.
Dilansir Medium, layanan streaming pertama kali tersedia pada tahun 1994, akan tetapi baru dikenal oleh masyarakat pada tahun 2020, yakni saat masa pandemi Covid-19. Sifatnya yang video on demand atau tayangan berdasarkan keinginan pelanggan berhasil menarik minat masyarakat untuk beralih dari ke layanan streaming.
Hal ini dikarenakan sifat televisi terkesan kaku dan pilihan tayangannya terbatas. Kini, media konvensional itu hanya digunakan oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah lantaran keterbatasan akomodasi untuk membayar layanan streaming online berbayar.
Kendati demikian, sejumlah negara di Asia Tenggara masih menjadikan televisi sebagai media hiburan utama mereka. Filipina menduduki peringkat pertama sebagai negara yang paling banyak menonton televisi dengan jumlah penonton sebanyak 120 juta penonton, sementara posisi terakhir ditempati oleh Vietnam dengan jumlah penonton sebanyak 82 juta penonton.
Untuk penggunaan layanan streaming, jumlah pelanggan Indonesia mencapai 60 juta pelanggan. Adapun yang terbanyak adalah pelanggan layanan streaming di Thailand, yakni 94 juta pelanggan. Hal ini membuktikan bahwa arus perkembangan zaman membuat masyarakat meninggalkan teknologi-teknologi terdahulu dan beralih ke teknologi-teknologi yang lebih maju, seperti layanan streaming.
Berbagai kemudahan yang disediakan layanan streaming, membuat masyarakat, terutama muda-mudi merasa tidak keberatan merogoh kocek untuk membayar fasilitas tersebut setiap bulannya.
Editor: Muhammad Faizin


