Tempat-tempat kuno dan bersejarah di Palestina setiap tahunnya selalu dipadati oleh para pengunjung dari berbagai belahan dunia. Mereka datang dengan beragam alasan. Namun sejak konflik Israel-Hamas Palestina 7 Oktober silam, destinasi wisata di kedua negara itu mati.
Bagi banyak orang, wilayah Palestin memiliki makna keagamaan. Terutama bagi umat Kristiani yang secara rutin melakukan ziarah ke tempat-tempat suci seperti tanah kelahiran Yesus di Bethlehem dan sejumlah biara di Lembah Kidron. Sementara bagi para pecinta sejarah, salah satu kota tertua di dunia yang terletak di Palestin, yakni Jericho, juga menjadi destinasi wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi.
Sayangnya, wilayah-wilayah yang biasanya dipenuhi oleh para pelancong itu justru kini menjadi tempat yang paling tidak aman bagi wisatawan. Sebab, saat ini Palestina tengah bersitegang dengan "negara tetangganya", Israel. Hal tersebut menyebabkan terjadinya kerusuhan sipil, hujan roket, dan penculikan orang asing.
Pertempuran yang terjadi antara Israel dan kelompok militan Hamas memberikan dampak signifikan, termasuk pada sektor pariwisata, baik dalam negeri maupun luar negeri. “Bisnis terhenti sejak perang dimulai,” kata salah seorang pemandu wisata di Palestina, Essa Abu Dawoud seperti dikutip dari Reuters.
“Jalan-jalan terputus, tidak ada yang datang,” tambahnya.
Konflik yang terus meningkat menyebabkan sejumlah hotel di seluruh Israel dan wilayah Palestina -yang diduduki Israel di Gaza dan Tepi Barat- kosong. Sekitar enam perusahaan menghentikan perjalanan ke tujuan-tujuan utama seperti Yerusalem dan Tel Aviv. Dua operator tur juga membatalkan perjalanannya hingga tahun depan.
InterContinental Hotels (IHG.L) mengatakan dua hotelnya, Six Senses Shaharut dan Hotel Indigo Tel Aviv – Diamond District untuk sementara waktu ditutup. Sehingga, tidak sedikit pengunjung yang melakukan pembatalan. Namun ada pula pelanggan-pelanggan yang memindahkan pemesanannya ke akhir tahun.
Pantai-pantai di Israel juga tidak lagi menjadi tujuan kapal-kapal pesiar dan maskapai penerbangan memutuskan berhenti terbang dari dan ke Israel. Di sisi lain, pemerintah berupaya keras memulangkan warganya yang “terjebak” di sana.
EasyJet (EZJ.L) menyampaikan bahwa pihaknya telah membatalkan semua paket penerbangan ke Tel Aviv dengan jadwal keberangkatan 22 Oktober. Sementara itu, Virgin Atlantic Holidays mengizinkan para pengunjung melakukan pemesanan ulang untuk tanggal berikutnya atau mendapatkan pengembalian dana jika mereka bepergian sebelum 18 Oktober.
Eksodus pengunjung asing merupakan pukulan besar bagi industri pariwisata Israel. Sebab, sektor ini menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar negara ketika dalam masa pemulihan dari pandemi Covid-19. Sebanyak 2,8% PDB berasal dari sektor pariwisata dan sekitar 3,5% dari total lapangan kerja. Biro Pusat Statistik Israel juga mengungkap bahwa sekitar tiga juta wisatawan berbondong-bondong ke Israel pada sembilan bulan pertama tahun ini.
"Kami mengandalkan pariwisata untuk hidup. Kami mengalami krisis Covid dan kami masih dalam tahap pemulihan dan perlahan-lahan menunggu para wisatawan kembali," ucap Khader Hussein, penjual suvenir di Betlehem, tempat kelahiran tradisional Yesus.
“Sekarang sektor pariwisata sudah mati,” imbuhnya.
Konflik Berkelanjutan
Sehari setelah Hamas melancarkan serangannya ke Israel, Kementerian Pariwisata Israel menyampaikan agar kegiatan tur dihentikan dan wisatawan diminta untuk tetap tinggal di hotel atau di kapal pesiar. Para pengunjung diperbolehkan berkeliling hanya jika hal tersebut diperlukan, katanya pada Rabu (18/10/2023) seperti dikutip dari Reuters.
Namun, di hari yang sama, pemerintah Amerika Serikat justru menaikkan peringatan untuk perjalanan ke Israel dan Tepi Barat menjadi Level 3. Begitu juga dengan Inggris yang melarang semua perjalanan ke Israel dan wilayah Palestina, kecuali untuk perjalanan penting.
Elias al-Arja, ketua Asosiasi Hotel Arab, mengungkap bahwa selama minggu kedua Oktober, sebagian besar hotel di Tepi Barat digunakan untuk membantu para pengunjung melarikan diri. Hal ini mengakibatkan sekitar 90% hotel di Tepi Barat menjadi kosong.
Demikian dengan Dan Hotels (DANH.TA) dan Isrotel, kedua penginapan tersebut juga menyediakan kamar bagi wisatawan yang melarikan diri dari perbatasan Gaza dan menawarkan diskon 50% untuk penduduk lokal. Sementara itu, kelompok wisata Authentic Israel meminta kepada para pelanggannya yang membatalkan pemesanan mereka agar menyumbangkan $150 guna mendukung para staf yang mengalami krisis.
Operator tur Australia, Intrepid Travel telah membatalkan tur ke Israel dan wilayah Palestina hingga akhir tahun ini. Sedangkan perusahaan AS, Odysseys Unlimited memutuskan untuk menunda perjalanannya ke Israel hingga tahun depan. Pihaknya mengatakan akan melanjutkan tur di Mesir dan Yordania, akan tetapi mereka memberikan pilihan kepada para pengunjung untuk pindah ke tanggal berikutnya atau pindah ke tujuan lain.
Dampak terhadap Sektor Pariwisata Sejumlah Negara
Dilansir Le Monde, piramida Mesir, kapal pesiar dan kuil Nil, serta gurun Yordania baru saja mengalami kebangkitan pariwisata pasca dilanda pandemi Covid-19. Namun, sejak terjadinya pertempuran di antara Israel dan Palestina, dua destinasi wisata yang berlokasi sangat dekat dengan Jalur Gaza itu dengan segera ditutup
“Sederhana sekali,” rangkum Raouf Ben Slimane, pendiri Thalasso no. 1 dan Ôvoyages.
“Selama sekitar 10 hari terakhir, seiring dengan meningkatnya krisis, kami telah melihat pembatalan dan yang terpenting, penurunan nyata dalam pemesanan (sebesar 80% dibandingkan tahun 2022 pada periode yang sama) untuk kedua negara yang berdekatan dengan zona konflik,” ujarnya.
Ia mengungkap bahwa dari 335.000 pelanggan tahunan, 10.000 diantaranya melakukan perjalanan ke Mesir dan Yordania.
“Wisatawan belum berbondong-bondong mengunjungi destinasi-destinasi tersebut selama lebih dari dua minggu,” ucap Stéphane Nicolas, direktur pengembangan jaringan Selectour.
Juga mengalami penurunan pemesanan di bulan Oktober, Guillaume Linton, CEO operator tur Asia Voyages mengungkap bahwa selama tiga minggu terakhir pemesanannya menurun sebanyak 60% jika dibandingkan dengan pemesanan pada bulan September.
“Tentu saja, kami tidak memperkirakan Jordan akan sukses besar tahun ini,” katanya.
Editor: Muhammad Zunus


