Tanggal 27 Januari 2025 kemarin, Aditya Mahat Prakarsa genap berusia 29 tahun. Tak ada perayaan khusus di hari jadinya, selain ucapan selamat dari sang istri, ibu dan para saudara. Baginya, hari lahir memang harus diistimewakan, namun tidak harus dengan peringatan yang meriah.
Di malam ulang tahun, biasanya Aditya melakukan refleksi diri, meninjau kembali apa yang telah dilakukan—khususnya setahun terakhir— sampai pada pencapaiannya saat ini. Jalan hidupnya tergolong mulus dan lempang. Mendapat pekerjaan mentereng di bidang IT, bahkan ketika masih dalam masa studinya di Universitas Gadjah Mada Yogjakarta. Kini Aditya dan istri juga tinggal di kota pelajar itu.
Namun ia teringat dengan tradisi buyutnya di kampung, yang selalu menggelar syukuran di hari jadinya. Eyang Karti, sang buyut, bahkan selalu membuat tumpeng nasi kuning pada ritual ‘wetonan’ (memperingati hari kelahiran berdasarkan pada hari dan pasaran Jawa), yakni setiap Ahad Pon.
Maka pada Ahad Pon yang jatuh setiap 35 hari sekali itu, Buyut Karti membagikan nasi tumpeng kepada para tetangga. Dengan begitu, ia memperingati hari lahirnya hampir setiap bulan. Maklumlah, ia adalah tetua desa yang juga mengemban tugas menjadi dukun bayi terlatih. Sehingga tradisi ini dipegangnya hingga tutup usia pada umur 105 tahun.
Usia Tak Sekadar Angka
Tradisi perayaan ulang tahun (ultah) sudah ada sejak lama. Dalam konteks budaya kontemporer, ulang tahun sering dirayakan dengan pesta, kue ultah, lilin dan hadiah, bahkan live music yang meriah. Tradisi merayakan ultah juga merambah ke bangku sekolah. Sudah jamak terlihat dari TK hingga SMA, jika ada siswa yang ultah biasanya dirayakan pada jeda jam kelas bersama gurunya. Sementara di sekolah bernuansa islami, sering diselingi dengan doa oleh ustaz atau ustazahnya. Ungkapan selamat ultah pun menjadi happy milad atau baraakallah fii umrik.
Mengapa momen ulang tahun begitu penting bagi sebagian orang? Kita sering mendengar jika usia hanyalah angka. Sebenarnya tak sesimpel itu. Di baliknya, terkandung pesan bahwa usia kita bertambah, tetapi pada saat yang sama kesempatan kita hidup di dunia menjadi berkurang. Dari detik, menit, jam, hari, bulan, hingga tahun, sejatinya kita berjalan dalam hitungan mundur, menuju kehidupan abadi di ujung umur. Setelah seseorang tutup usia, ia seperti almanak usang yang tercampak. Kadang diingat orang terdekat, kadang seperti tak berarti bagi penerus generasi.
"Bagi kami momen ulang tahun adalah saatnya untuk bersyukur atas kehidupan yang diberikan Allah. Tidak hanya sebatas umur yang bertambah, tetapi juga kesempatan untuk menghargai kesehatan, persahabatan, dan cinta dari orang-orang di sekeliling," ungkap Aditya kepada Arina.id.
Ajang Muhasabah Diri
Bertambahnya usia juga mengandung makna bahwa tanggung jawab terhadap hidup semakin besar. Karena itu, hari kelahiran bisa dijadikan momentum atau titik balik untuk menata ulang kehidupannya, untuk muhasabah diri, meninjau kembali perjalanan hidup yang telah dilalui.
"Menurut saya lebih menjadi titik refleksi bagi perjalanan hidup yang telah dilalui. Walau sebenarnya tidak harus di hari ulang tahun untuk bermuhasabah, karena kapanpun kita harus mawas diri, mengingat hal-hal yang sudah baik dan masih kurang dalam diri, kita agar ke depan menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkap Raharjo, seorang ASN yang kini berusia 50 tahun.
Terima Kasih Tak Cuma ke Bestie
Lain lain pandangan yang disampaikan Resi (25 tahun), gadis yang kini sedang bahagia karena baru saja diterima CPNS. Menurut Resi, saat dirinya menginjak usia seperempat abad, ia tidak saja berterima kasih kepada orang-orang yang telah berkontribusi mengantarkan keberhasilannya. Tetapi juga kepada orang-orang yang selama ini kerap nyinyir dan mengganggu hidupnya, sehingga dia bisa menjadi pribadi yang tangguh dan berkarakter.
“Kalau orang tua, saudara dan besti pastinya sangat menyayangiku. Tapi, andai tidak ada rintangan dari orang-orang yang menyakiti, mungkin aku hanya jadi anak manja, pribadi cengeng yang penakut dan baperan,” ungkapnya. Untuk itulah ia justru mengingat hari lahir orang-orang tersebut. Tiba saatnya mereka ulang tahun, Resi akan mengucapkan selamat dan mendoakannya. Jiwa besar yang ditunjukkan Resi merupakan wujud kedewasaan seseorang seiring dengan bertambahnya usia.
Menjadi Manusia Baru
Tiap-tiap orang mungkin memiliki ritual unik dalam merayakan ulang tahun. Mulai dari tradisi temurun hingga inovasi baru seiring perubahan zaman. Perayaan ini mengikat orang-orang dalam hubungan sosial yang erat. Bagi mereka yang berkecukupan materi, doa dan dukungan moral yang dipanjatkan dari sanak saudara dan kolega yang diundang justru jauh lebih bermakna.
Sejalan dengan tren di zaman digital, perayaan ulang menjadi ajang untuk merayakan hubungan kehidupan secara daring. Ucapan selamat ulang tahun dan hadiah bisa disampaikan melalui medsos, atau lewat aplikasi perpesanan. Menjalin hubungan dalam dunia maya menjadi hal yang semakin lumrah dan memudahkan seseorang merayakan HUT-nya bersama teman-teman yang tidak bisa hadir secara fisik. Mungkin saja di era yang akan datang, perayaan ulang tahun akan berubah lagi dalam bentuk dan makna yang menyesuaikan zamannya.
Perayaan ulang tahun akan selalu menjadi sesuatu yang istimewa bagi orang-orang di seluruh dunia. Yang pasti, umur terus merambah, waktu tak bisa diberhentikan oleh siapapun. Setiap manusia akan kembali dihadapkan pada satu pertanyaan: apa yang ingin kita capai di akhir hidup kita nanti? Jadi, sejatinya tradisi merayakan ulang tahun bukanlah sekadar perayaan kehidupan. Tidak hanya merayakan waktu yang telah berlalu, tetapi juga menyambut masa depan dengan spirit sebagai ‘manusia baru’, yakni manusia yang semakin baik, dalam tata hubungan dengan sesama maupun dengan sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena, hanya kepada-Nya lah kita semua akan kembali. Selamat uang tahun kepada semua orang yang merayakannya.
Editor: Kendi Setiawan


