Dark
Light
Dark
Light

Gagal Lolos UTBK? Yuk, Bangkit dan Temukan Jalan Baru!

Gagal Lolos UTBK? Yuk, Bangkit dan Temukan Jalan Baru!

Kata gagal paling banyak muncul dalam kolom pencarian seputar ujian tulis berbasis komputer (UTBK). Pada Rabu, 28 Mei 2025 panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2025 resmi mengumumkan hasil UTBK. Media sosial dipenuhi ucapan selamat atas kelulusan tapi juga meluap motivasi semangat bagi para pendaftar yang dicap “gagal”.

Sebenarnya kata gagal terlalu mengerikan untuk dipakai. Kata itu memiliki bobot negatif terlalu berat. Pendaftar yang sudah berupaya maksimal tidak semestinya diberi cap yang makin menarik mereka dalam kubangan rasa sedih.

Bukan gagal, kita bisa menggantinya dengan kata lain misalnya tertunda atau mesti memilih jalan yang lebih cocok. Pengganti itu lebih lembut diterima telinga dan hati. Bahasa bisa mempengaruhi cara pandang atau persepsi kita pada hidup. Terlalu banyak mengoleksi kata bermuatan negatif tidak hanya membuat stres tapi juga melemahkan semangat.

Haemin Sunim lewat bukunya bersampul hijau penuh bunga-bunga putih menuliskan sebuah cara pandang. Ada satu pepatah Buddhis yang menyatakan bahwa semua orang terlihat seperti buddha di mata Sang Buddha dan semua orang akan terlihat seperti babi di mata seekor babi. Kata-kata ini menunjukkan berjalannya kehidupan tergantung bagaimana cara kita memandang. 

Kembali ke pengumuman UTBK. Jika hasil menunjukkan berkebalikan dengan yang kita harapkan, silakan bersedih. Itu ekspresi yang sangat wajar dan mesti dilepaskan. Setelah itu, mari melakukan negosiasi dalam situasi ini. Percayalah, kehidupan punya seribu pintu terbuka jika satu pintu tertutup.

Pertama, apresiasi diri. Berani mencoba mengikuti tes UTBK hingga akhir sudah merupakan pencapaian yang perlu dibanggakan. Secara tidak langsung mental kita mendapat asupan untuk tumbuh menghadapi situasi penuh ketidakpastian. Tubuh bisa menyimpan ilmu dan pengalaman yang akan sangat berguna di tes berikutnya hingga hal-hal kecil dalam hidup.

Kedua, tidak melakukan penolakan. Peluklah perasaan yang muncul seperti sedih, kecewa, marah, dan putus asa. Jangan menghindarinya dengan melakukan aktivitas toxic. Sambut emosi itu dengan mengurai perasaan yang muncul. Kita bisa melakukannya lewat aktivitas journaling atau bercerita dengan orang dekat yang punya rasa empati. 

Ketiga, memilih opsi tes lain. Jika keinginan masuk di PTN yang dituju masih tetap meluap,  kita bisa mencoba jalur ujian mandiri. Namun perlu dipersiapkan biaya lebih karena jalur ini biasanya menarik tarif lebih tinggi dari jalur SNBT. Jika memang memungkinkan, jalur ini sangat perlu untuk dicoba.

Hal yang perlu untuk dipersiapkan jika memilih tes mandiri adalah rutin mengecek jadwal dan persyaratan kampus yang dituju. Pelajari secara detail sistem seleksi dan skema pembayarannya. Jangan lupa untuk memikirkan kembali jurusan yang dipilih, jangan biarkan hanya karena fomo atau bukan minat sesungguhnya. Kuliah selama delapan semester merupakan perjalanan amat lama yang bisa menjadi penentu bagaimana masa depan terbentuk.

Selain lewat jalur mandiri, kita bisa memikirkan opsi mendaftar ke perguruan tinggi swasta (PTS). Dimulai dari mengumpulkan informasi seputar akreditasi, program studi, mekanisme pembayaran, skema beasiswa, dan kualitas dosen pengajar. 

Keempat, menunda. Gap year atau mengambil jeda setahun setelah lulus sekolah bisa menjadi pilihan. Ini bukan opsi pelarian atau ajang liburan. Kita bisa memanfaatkan waktu selama dua belas bulan untuk menyusun rencana ke depan dengan lebih matang. Justru biasanya ketika ada jarak waktu cukup jauh kita bisa lebih jelas melihat apa yang sebenarnya ingin kita tuju. 

Bukan tidak mungkin, PTN atau jurusan yang sebelumnya dipilih bisa berubah karena bertambahnya data tentang apa yang sebenarnya cocok bagi kita. Menambah pengetahuan, relasi, dan pengalaman baru bisa membuat kita lebih jelas melihat pandangan untuk ke depan. 

Apa yang bisa dilakukan selama gap year? Kita bisa bekerja dulu untuk menambah perspektif dalam melihat kehidupan secara nyata tidak hanya teori. Bekerja akan memberi kita banyak peristiwa yang sebelumnya tidak pernah didapatkan di sekolah. Bekerja juga bisa melatih rasa tanggung jawab, keterampilan komunikasi, mengatur waktu, dan bekerja dalam tim. 

Selain itu, memperdalam keterampilan juga bisa menjadi pilihan terbaik. Belajar bukan hanya milik orang-orang dengan status mahasiswa. Siapa pun bisa belajar dengan memanfaatkan segala modal yang dimiliki baik berbentuk uang, relasi, atau teknologi. Keterampilan yang bisa kita perdalam misalnya design grafis, bahasa asing, editing video, photographer, dan lainnya. 

Kemampuan melatih keterampilan berbahasa asing bisa jadi pilihan prioritas karena akan sangat berguna di lingkungan kampus. Akses beasiswa, perlombaan, pertukaran pelajar, hingga proses pembelajaran di kelas sangat perlu kemampuan berbahasa asing. Jadi coba untuk pertimbangin kebutuhan apa yang kira-kira kita perlukan di masa depan. 

Belum berkesempatan lolos UTBK tahun ini bukan akhir dalam hidup. Ini justru bisa jadi peluang untuk melatih mental, kedisiplinan, dan komitmen kita dalam hidup. Bunga tulip bisa mekar di musim semi. Bunga pansy bisa mekar di musim dingin. Bunga matahari bisa mekar di musim panas. Percayalah, segala hal punya waktu dan jalannya masing-masing.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo