Dark
Light
Dark
Light

Mewaspadai Anxiety Disorder: Serangan Mental yang Berakhir Bunuh Diri

Mewaspadai Anxiety Disorder: Serangan Mental yang Berakhir Bunuh Diri

Isu kesehatan mental sejatinya tidak kalah penting dengan penyakit yang menyerang kesehatan fisik. Tidak hanya penyakit pada raga yang dapat menyebabkan kematian, gangguan jiwa juga dapat meningkatkan angka kematian melalui bunuh diri. Faktanya, data terbaru Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri mengungkap, sepanjang periode Januari hingga Oktober 2023 ditemukan 971 kasus bunuh diri di Indonesia.

Belakangan ini topik tentang kesehatan mental mulai cukup sering diperbincangkan, terutama oleh kalangan muda-mudi. Hal itu dikarenakan gangguan tersebut dialami oleh diri mereka sendiri. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya zaman, ada banyak hal baru yang memicu anak muda rentan tertekan dan terkena gangguan mental. Penyebabnya beragam, mulai dari permasalahan dalam keluarga hingga stres yang berkecamuk dalam diri sendiri.

Berkaitan dengan hal tersebut, di penghujung tahun 2022 The Conversation bersama University of Queensland dan Johns Hopkins Bloomber School of Public Health melakukan penelitian berjudul Indonesia-National Adolescent mental Health Survey (I-NAMHS). Penelitian ini mengukur jumlah kasus gangguan mental yang dialami oleh remaja berusia 10-17 tahun di Indonesia. Ditemukan, satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental sementara satu dari dua puluh remaja Indonesia memiliki gangguan mental. Angka tersebut mungkin terlihat sedikit, akan tetapi jika merujuk pada jumlah remaja sebagai penduduk Indonesia, maka angka tersebut setara dengan 15,5 juta dan 2,45 juta remaja.

Adapun gangguan mental dengan persentase paling tinggi yang diindap anak muda dewasa ini adalah gangguan kecemasan sebanyak 3,7%. Memang, rasa cemas berlebih merupakan gangguan yang umum diderita oleh masyarakat. Walaupun demikian, gangguan ini tidak bisa dianggap remeh. Faktanya, psikolog Terri Barrera dan Peter Norton dari Universitas of Houston dalam penelitian mereka mengungkap, orang yang tidak terkena gangguan kecemasan memiliki kualitas hidup yang lebih baik daripada orang yang menderita gangguan kecemasan.

Ada berbagai macam faktor yang dapat membuat seseorang merasa cemas atau takut berlebih, mulai dari faktor genetik hingga faktor lingkungan. Faktor-faktor tersebutlah yang kemudian membuat seseorang tidak mampu mengatur stresnya hingga mengakibatkan kecemasan berlebihan. Dalam penelitian I-NAMHS, ditemukan empat faktor yang menyebabkan remaja Indonesia terkena gangguan mental, yaitu permasalahan dengan keluarga (83,9%), dengan teman sebaya (62,1%), permasalahan sekolah atau pekerjaan (58,1%), kecemasan pribadi (46,0%).

Gangguan Kecemasan di Kalangan Remaja

Setiap orang sangat mungkin mengalami kecemasan, termasuk anak remaja. Perasaan khawatir, gelisah, dan takut yang muncul ketika sesuatu mengancam rasa aman dan nyaman dalam diri merupakan emosi yang alami. Namun hal tersebut menjadi tidak sehat apabila rasa cemas muncul secara berlebihan. Bahkan, tidak jarang rasa cemas itu menyebabkan aktivitas sehari-hari jadi terganggu. Rasa cemas berlebih ini disebut dengan gangguan kecemasan (anxiety disorder).

Dilansir dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization), rasa cemas berlebih yang dialami oleh penderita gangguan kecemasan disertai dengan ketegangan fisik serta gejala perilaku dan gejala kognitif lainnya. Perasaan ini sulit dikendalikan, dan jika ditindaklanjuti akan menyebabkan tekanan yang signifikan serta dapat berlangsung lama. Dalam beberapa kasus, gangguan kecemasan yang semakin parah menyebabkan kepanikan dan fobia.

Mengutip American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, gangguan kecemasan acap kali dialami oleh para remaja. Di lingkungan sosial, beberapa remaja yang merasa cemas cenderung terlalu emosional sehingga menarik diri. Kemungkinannya, mereka terlalu sibuk mengkhwatirkan sesuatu yang tidak realistis mengenai kompetensi sosial. Setelah "menamatkan" masa kanak-kanaknya, para remaja mulai berpikir tentang sesuatu yang belum pernah mereka pikirkan sebelumnya, seperti tentang perubahan bentuk tubuh mereka hingga penerimaan di masyarakat.

Berikut ini gejala-gejala yang mengindikasikan seseorang mengalami gangguan kecemasan, sebagaimana disebutkan oleh WHO:

  1. Kesulitan berkonsentrasi atau kesulitan mengambil keputusan
  2. Mudah tersinggung, tegang atau gelisah
  3. Mengalami mual atau gangguan perut
  4. Jantung berdegup kencang
  5. Berkeringat dan gemetar
  6. Kesulitan tidur
  7. Merasa bahwa akan datang bahaya atau malapetaka.

Sama halnya dengan gangguan kesehatan lain, gangguan kecemasan juga diakibatkan oleh interaksi kompleks antara faktor sosial, psikologis, dan biologis. Bahkan, Gangguan kecemasan meningkatkan risiko depresi dan gangguan penggunaan narkoba serta risiko pikiran dan perilaku untuk bunuh diri. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, termasuk pengetahuan orang tua terkait upaya pencegahan dan penanganan serta program berbasis sekolah untuk meningkatkan pembelajaran sosial dan emosional yang dapat membangun penanggulangan positif pada anak-anak dan remaja.

Cara Mengatasi Rasa Cemas Berlebih

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menangani rasa cemas yang berlebih, salah satunya adalah keterlibatan orang tua. Alih-alih mengabaikannya, orang tua dapat mengajarkan anak remajanya untuk memahami dan merespons bagaimana cara mengatasi rasa cemas yang muncul secara berlebihan. Selain itu, orang tua juga dapat mengedukasi anak remaja tentang hal-hal yang alami terjadi di masa remaja. Secara perlahan, mereka akan semakin mandiri dan mampu mengatasi stres dan rasa cemasnya.

Namun, apabila rasa cemas dinilai sudah sangat mengganggu keseharian dan sudah berlangsung lebih dari enam bulan, maka penindakan harus dilakukan oleh ahlinya, yakni psikiater anak. Seperti gangguan mental lainnya, gangguan kecemasan umumnya memerlukan kombinasi intervensi pengobatan. Perawatan untuk gangguan kecemasan dimulai dengan evaluasi gejala, informasi terkait hubungan keluarga dan hubungan sosial, serta tingkat gangguan yang dialami remaja.

Tidak hanya itu, penanganan gangguan kecemasan juga berkaitan dengan pernyakit fisik atau penyakit lain yang dapat mendasari munculnya gejala kecemasan. Sebab, rasa cemas itu mungkin muncul dari obat yang diminum pasien. Dengan begitu, obat tersebut perlu ditinjau. Selain itu, kafein berlebih juga dapat menjadi penyebab seseorang menjadi cemas dan gelisah. Dalam hal ini, tenaga profesional mungkin akan memperhatikan pola makan penderita gangguan kecemasan.

Faktor biologis, psikologis, keluarga, dan faktor sosial lainnya juga mungkin menyebabkan anak remaja mengalami kecemasan berlebih sehingga perlu dikonsultasikan. Dalam kebanyakan kasus, pengobatan gangguan kecemasan berfokus pada pengurangan gejala kecemasan, menghilangkan tekanan, mencegah komplikasi pada gangguan kecemasan, dan meminimalisir dampak terhadap kehidupan penderita di lingkungan sosial dan sekolah.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo