Dark
Light
Dark
Light

Perancis, Sungguh Ironis

Perancis, Sungguh Ironis
Ambisi pebasket Prancis berlaga di Olimpiade hancur karena larangan mengenakan hijab di negeri sendiri

Prestasi Diaba Konate sungguh cemerlang. Di lapangan basket namanya begitu harum. Di ajang bola basket 3x3, pada perhelatan Olimpiade Remaja 2018 di Buenos Aires, Argentina, dia berhasil mempersembahkan medali perak untuk negerinya, Perancis.

Kariernya tampak akan cemerlang. Apalagi, setelah itu dia melanglang buana di Amerika Serikat—yang jadi kiblatnya olahraga itu. Selama enam tahun, selain menimba ilmu dari beasiswa yang diraihnya dia masuk dalam tim kampusnya. Hasilnya, bersama UC Irvine merebut gelar kampiun NCAA untuk pertama kalinya sejak 1995. Harapannya membuncah. Jalan menuju tim nasional Perancis, kian terbuka.

Namun perasaannya campur aduk saat kembali ke negaranya. Tahun lalu Konate, yang kini berusia 23 tahun, pulang untuk liburan musim panas. Dia pun turun berlaga dalam kompetisi basket 3x3. Yang terjadi, dia tidak diizinkan masuk ke lapangan dan dilarang berkompetisi di Perancis. Alasannya, ia memakai jilbab. 

Federasi Bola Basket Perancis (FFBB) pada 2022 secara tegas melarang seragam apa pun, dengan konotasi agama atau politik. Aturan ini merupakan perkembangan dari undang-undang yang kontroversial yang disahkan di Perancis. Rupanya, undang-undang itu secara bertahap telah merambah ke berbagai aspek masyarakat Perancis, termasuk olahraga.

Aturan ini tidak hanya berlaku untuk pemain tetapi juga untuk pelatih dan wasit—secara resmi mengecualikan siapa pun yang mengenakan jilbab olahraga dari ruang kompetisi. “Saya sungguh tidak percaya,” kata Konate, awalnya dia menganggap itu hanya sebuah lelucon.

Walhasil, banyak korban akibat aturan ini. Mereka, perempuan berhijab, tak memiliki kesempatan untuk berlaga di semua ajang yang berada di bawah pengelolaan FFBB. Hanya satu jalan keluarnya bagi mereka yakni melepas hijab saat berlaga di lapangan. 

Salimata Sylla punya nasib serupa dengan Konate. Dia adalah pemain klub Aubervilliers, yang bermain di Liga Basket di negeri itu. Menjelang sebuah pertandingan, pelatih klub menyampaikan pesan yang tak mengenakkannya. Wasit hanya akan mengizinkannya masuk ke lapangan jika dia melepas hijab olahraganya.

Perlakuan dari aturan itu, membuat Sylla yang telah berhijab selama tiga tahun, menganggapnya sangat luar biasa menjengkelkan. Kemarahannya pun meledak.  

Setelah tiga jam perjalanan dari Paris ke utara Perancis, Sylla duduk di bangku cadangan dan hanya menyaksikan teman-temannya bermain. “Mereka berpikir seseorang berjilbab hanya berada di dapur dan tidak boleh melakukan hal lain,"  katanya.

Gerakan menentang aturan ini pun ramai muncul. Amnesty International menyebut aturan ini merupakan pelanggaran hak asasi manusia.  Dampaknya, menghancurkan.

Namun pemerintah Perancis tetap kukuh dengan putusannya. Menteri Olahraga Perancis Amelie Oudea-Castera membenarkan bahwa hijab dilarang untuk semua tim Prancis di Olimpiade. Hal itu diambil berdasarkan prinsip sekularisme Perancis— bahwa masyarakat Perancis harus membuang adat istiadat atau simbol agama apa pun.

David Lappartient, Presiden Komite Olimpiade Perancis, mengatakan Olimpiade Perancis terikat oleh prinsip-prinsip sekular. “Hal ini mungkin terkadang tidak dapat dipahami di negara lain di dunia, namun ini adalah bagian dari DNA kami di Perancis,” tambahnya.

Perancis, sungguh ironis. Padahal, Badan Penyelenggara Olimpiade (IOC) pun bersikap lunak. Mereka, atlet berjilbab dibebaskan bertanding. Pun dengan badan olahraga lainnya, seperti FIFA dan FIBA yang mencabut aturan pemakaian penutup kepala pada atlet wanita. 

Toh putusan telah jatuh dan tak bisa diganggu gugat.  Pelarangan jilbab oleh Perancis menjadi pembicaran dalam Olimpiade kali ini. Untuk mengikuti acara pembukaan, Sounkamba Sylla, seorang sprinter terpaksa mengganti jilbabnya dengan  penutup kepala.

Lebih dari itu, pelarangan ini sejati memberangus hak para atlet untuk tampil. Walhasil atlet seperti Konate dan atlet lainnya, hanya bisa memendam emosi dan juga ambisinya. Keinginannya bermain di Olimpiade di negerinya sendiri, hanyalah angan-angan belaka.  Di pesta olahraga yang digelar di rumahnya sendiri, mereka hanya menjadi penonton. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo