Dark
Light
Dark
Light

Gadis Kretek: Perpaduan yang Pas antara Cinta dan Konflik Sosial

Gadis Kretek: Perpaduan yang Pas antara Cinta dan Konflik Sosial

Gadis Kretek adalah novel fiksi sejarah karya Ratih Kumala yang pertama kali terbit pada Maret 2012. Novel ini diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dan telah dialihbahasakan ke dalam beberapa bahasa asing, diantaranya Inggris, Mesir, dan Jerman.

Dengan judul yang sama, kisah dalam novel Gadis Kretek itu kini dijadikan serial di platform Netflix. Sebelumnya, pada awal bulan Oktober lalu, serial Gadis Kretek sudah tayang lebih dulu di Busan International Film Festival (BIFF). Penayangan tersebut merupakan debut internasional Gadis Kretek sebelum resmi dirilis Netflix pada 2 November 2023. 

Dalam lima episode, drama romantis yang berpusat pada sebuah keluarga yang memperoleh sebagian besar kekayaannya dengan membuat rokok kretek yang terkenal di Indonesia ini disutradarai dua sineas Kamila Andini dan Ifa Isfansyah. Serial ini menceritakan tentang rumitnya kisah cinta zaman dulu, perjalanan para tokoh dalam mengungkap rahasia, dan sejarah kretek di Indonesia. 

Serial ini dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo sebagai karakter yang fokus utamanya adalah menciptakan formula yang sempurna untuk rokok kretek. Serial ini juga dibintangi oleh Putri Marino, Ario Bayu, dan Arya Salok.

Serial Gadis Kretek dimulai dengan sosok laki-laki lanjut usia bernama Soeraja yang terbaring lemas di atas tempat tidurnya karena sakit keras. Dalam keadaan memejamkan mata sembari menanti ajal, pemilik perusahaan Kretek Jagad Radja itu tiba-tiba terbangun dan memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya. Ia meneriakkan nama Jeng Yah. Soeraja kemudian meminta tolong anak lakinya, Lebas (Arya Saloka), yang senantiasa menemaninya untuk mencari seorang wanita bernama Jeng Yah.

Berlatar di dua zaman, yakni tahun 1960-an dan tahun 2000-an awal, serial Gadis Kretek mengajak penonton untuk menyaksikan dunia tahun 60-an. Kala itu, di sebuah kota M, hidup seorang pengusaha kretek bernama Idroes (Rukman Rosadi) yang memiliki dua anak perempuan, Dasiyah (Dian Sastrowardoyo) dan Rukayah (Tissa Biani). Karena ayahnya seorang pengusaha kretek, Dasiyah, atau yang juga dikenal dengan Jeng Yah, pun menjadi tertarik dengan dunia kretek.

Jeng Yah bercita-cita menciptakan kretek dengan kualitas terbaik. Sebab ia tahu racikan saus kretek yang sempurna. Jeng Yah ingin membuktikan kepada orang-orang keistimewaan kretek hasil racikannya. Sayangnya, impian Jeng Yah tidak dapat terwujud karena saat itu wanita masih dipandang rendah oleh laki-laki. Sehingga, wanita tidak diperbolehkan terlibat dalam pembuatan saus kretek.

Suatu hari, ketika tengah berada di pasar bersama ayahnya, Jeng Yah melihat seorang pemuda yang berkelahi. Ia kemudian meminta ayahnya untuk membantu lelaki tersebut. Bernama Soeraja (Ario Bayu), laki-laki itu kemudian dipekerjakan di perusahaan kretek ayah Jeng Yah. Setelah saling mengenal, Soeraja atau Raja dan Jeng Yah pun jatuh cinta. Sayang seribu sayang, keduanya tidak berakhir bersama. Tidak hanya cita-citanya yang pupus, kisah cinta Jeng Yah pun demikian. Orang tua Jeng Yah berencana menikahkan Jeng Yah dengan laki-laki lain bernama Seno (Ibnu Jamil).

Pada tahun 2000-an awal, ketiga anak Soeraja, Lebas, Karim (Dimas Aditya), dan Dimas (Winky Wiryawan) menyusuri seluruh penjuru tanah Jawa untuk memenuhi permintaan ayah mereka, yaitu menemukan Jeng Yah. Sembari melakukan pencarian, mereka mencari tahu sejarah berdirinya perusahaan kretek Jagad Radja. Dan dari perjalanan tersebutlah Lebas, Karim, dan Dimas kemudian mengungkap sejumlah fakta dan rahasia alasan perusahaan ayah mereka menjadi perusahaan kretek nomor satu di Indonesia pada masa itu.

Pembuatan Serial Gadis Kretek

Gadis Kretek merupakan serial Netflix yang diproduksi oleh BASE Entertainment dan Fourcolurs Films. Serial yang mengisahkan tentang kehidupan di tahun 60-an dan tahun 2000-an awal ini membutuhkan puluhan lokasi untuk membangun suasana yang sesuai dengan masa-masa itu. Sebanyak 100 set dibangun oleh tim produksi di 20 lokasi yang berbeda-beda di Jawa tengah dan Jawa timur, seperti rumah tradisional di Solo dan kota tua di Surabaya.

Terkait dengan hal tersebut, Ifa Isfansyah, salah satu sutradara serial Gadis Kretek mengaku merasa tertantang. Kisah dalam dua waktu yang terpaut cukup jauh dikaitkan satu sama lain dan dikemas sedemikian rupa agar mudah dipahami oleh para penonton.

“Salah satu tantangan untuk mengadaptasi ini ketika membuat dua era ini menjadi satu keterkaitan dan kesinambungan dalam cerita," ungkap Ifa pada konferensi pers Rabu (1/11/2023).

Pembuatan serial yang merujuk pada novel dengan jumlah halaman sebanyak 247 halaman ini sudah berlangsung sejak tahun 2022 lalu. Tantangan dalam pembuatan serial Gadis Kretek tidak hanya dilalui oleh sutradara tapi juga pemeran-pemeran serial tersebut, seperti Dian Sastro. Untuk mendalami perannya, Dian Sastro tidak bersosialisasi selama enam bulan lamanya.

"Karakter Jeng Yah sangat jauh sekali dari diri saya yang sebenarnya sehingga saya mendapat tantangan besar sekaligus kesempatan untuk eksplor. Cara bicara karakter ini, gestur tubuh, tempo, jalannya, semua beda sama saya. Jauh dari karakter saya pribadi," katanya seperti dikutip dari kapanlagi.com.

Sebagai seseorang yang suka menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya, Dian bahkan berhenti melakukan kegiatan tersebut demi mendalami peran Jeng Yah yang jarang berinteraksi dengan orang-orang. Selain itu, Dian juga dihadapkan pada hal-hal yang tidak ia sukai agar dapat bertingkah laku layaknya perempuan zaman dahulu yang tidak dapat bergerak bebas. Bahkan, ia harus menanggalkan pendengaran pada musik-musik kontemporer.

“Saya juga berhenti mendengar musik modern dan hanya mendengarkan gamelan dan musik klasik. Di sini saya jadi belajar banget bahwa sebagai aktor we serve the character. Kami harus ikhlas dan pasrah menyerahkan diri ke dalam karakter,” kata Diansastro.

Dian merasa sangat bersyukur ketika waktu proses produksi telah tiba. Sebab, katanya, pendalaman tokoh Jeng Yah membuatnya depresi.

Fakta Seputar Novel Gadis Kretek

Gadis Kretek merupakan serial adaptasi novel dengan judul yang sama terbitan 2012. Ditulis oleh Ratih Kumala, Gadis Kretek merupakan kisah yang terinspirasi dari kisah keluarganya sendiri. Penuturan nama dan keluarganya tentang kisah sang kakek yang memliki pabrik kretek di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, dan kisah-kisah lainnya, ia tuangkan ke dalam novel berjudul Gadis Kretek itu. Dikarenakan kakeknya sudah meninggal, dan perusahaan kreteknya pun sudah bangkrut sebelum Ratih lahir, ia pun mempersembahkan novel Gadis Kretek untuk kakeknya dan anaknya yang bernama Badriyah.

Novel Gadis Kretek tidak hanya menceritakan tentang rumitnya kisah cinta zaman dulu, tapi juga menceritakan tentang kehidupan masyarakat yang begitu terikat dengan eksistensi kretek. Kisah Gadis Kretek juga tidak hanya bercerita tentang pabrik kretek dan proses produksinya, tapi juga bercerita tentang kretek sebagai bagian dari budaya Indonesia.

Selama proses penulisan novel, Ratih mengaku bahwa dirinya melakukan riset selama empat tahun. Ia bahkan turun langsung ke sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur demi penelitiannya itu. Setelah risetnya selesai dan berbagai proses telah dilalui, novel Gadis Kretek pun berhasil rampung pada 2012 dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Perjalanan panjang yang ditempuh Ratih tidak berakhir sia-sia. Di tahun yang sama, karyanya mendapatkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2012. Sebagai informasi, Kusala Sastra Khatulistiwa adalah sebuah ajang penghargaan bagi dunia kesusastraan Indonesia yang didirikan oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki pada tahun 2001.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo