Para K-Popers tengah dihebohkan dengan film Indonesia berjudul Tanah Air Kedua. Film yang diadaptasi dari kisah nyata ini menceritakan tentang seorang pemuda Korea bernama Yang Chil Seong atau Komarudin yang berjuang demi Indonesia.
Kabarnya, film Tanah Air Kedua akan dibintangi oleh aktor Korea, Kim Bum sebagai Yang Chil Seong alias Komarudin dan Maudy Ayunda sebagai istri Komarudin. Informasi ini pertama kali diumumkan oleh akun instagram @infogarut melalui unggahannya yang mengumumkan bahwa Kim Bum dan Maudy Ayunda akan melangsungkan proses syuting bulan depan.
Disebutkan dalam makalah Profile Yang Chil Seong: Pahlawan Kemerdekaan Indonesia Asal Korea Selatan oleh Sabila Dwi Yusrina, Yang Chil Seong merupakan salah seorang pemuda Korea yang dipilih untuk menjadi tentara Jepang. Saat tengah menjajah Korea, Jepang memanfaatkan pemuda Korea dengan membuat kebijakan wajib militer guna mendukung pihak Jepang dalam perang Pasifik.
Yang Chil Seong termasuk diantara puluhan ribu anak muda Korea yang masuk dalam daftar wajib militer. Laki-laki kelahiran Wanjoo, Joella 29 Mei 1919 ini direkrut jadi prajurit Jepang ketika berusia 23 tahun.
Latar Belakang Yang Chil Seong ke Indonesia
Alih-alih dijadikan sebagai prajurit, Yang Chil Seong beserta pemuda Korea lainnya justru dikirim ke negara-negara Asia Tenggara. Ketika itu Jepang sedang melakukan ekspansi besar-besaran ke kawasan Asia Tenggara. Dan, para pemuda Korea diperintahkan untuk menjaga tawanan-tawanan Jepang yang merupakan tentara-tentara Sekutu.
Ada sekitar 300.000 tawanan, dan jumlahnya terus bertambah sehingga membuat Jepang kewalahan mengurusnya. Dengan pertimbangan, jika dibebaskan khawatir akan terjadi pemberontakan. Sementara jika dieksekusi mati, jumlahnya terlalalu banyak. Atas dasar dilema inilah Jepang membohongi warga Korea dan berhasil mengumpulkan sebanyak 3.223 pemuda sebagai penjaga tawanan.
Setelah dilatih, Yang Chil Seong dan beberapa penjaga tawanan lainnya ditugaskan untuk menjaga para tawanan di Pulau Jawa, tepatnya di Kota Bandung. Saat sedang bertugas, Yang Chil Seong bertemu dengan Lience Wenas, wanita pribumi yang sering menjenguk kakaknya yang seorang tawanan Jepang. Yang Chil Seong jatuh hati pada wanita itu dan mereka pun akhirnya sering bertemu. Setelah beberapa kali pertemuan, keduanya memutuskan untuk menikah.
Tak lama berselang setelah ia menikahi Lience, Jepang dinyatakan kalah oleh Sekutu pada 15 Agustus 1945. Dua hari setelahnya, Indonesia menyatakan kemerdekaan diri. Hal ini menjadi kabar gembira bagi Yang Chil Seong serta para penjaga tawanan lainnya karena terbebas dari Jepang. Di sisi lain, para pemuda Korea khawatir dianggap sebagai penjahat perang oleh Sekutu.
Sebagaimana disebutkan dalam Perjanjian Postdam, yang menjadi syarat bahwa Perang Dunia Kedua telah berakhir adalah "Penjahat perang harus dihukum". Dengan demikian, seluruh pasukan Jepang dan Jerman, mulai pangkat tertinggi hingga terendah dinyatakan sebagai penjahat perang dan akan dihukum. Sekutu kemudian membuat kebijakan untuk mencari para penjahat perang yang telah menyiksa para penjaga tawanan. Walau tidak ikut berperang, para pemuda Korea juga terancam dihukum karena menyiksa para tawanan dan tercatat sebanyak 35.756 tawanan meninggal.
Dalam Profile Yang Chil Seong: Pahlawan Kemerdekaan Indonesia Asal Korea Selatan berdasarkan siaran dokumentar oleh MBC Jeonjoo, Yang Chil Seong bersama dengan sembilan pemuda Korea lainnya melarikan diri pada 10 Februari 1946. Ia merasa telah memiliki rasa solidaritas yang kuat dengan rakyat Indonesia sehingga tidak dapat kembali ke kampung halamannya di Korea. Yang Chil Seong pun memutuskan untuk bergabung dengan Pasukan Pangeran Papak (PPP), pasukan gerilyawan di Garut.
Menjadi Anggota Pasukan Pangeran Papak
Yang Chil Seong bersama dengan lima pemuda Korea lainnya adalah tawanan Pasukan Pangeran Papak. Akan tetapi, Mayor Kosasih, Pemimpin PPP tidak ingin membunuh mereka karena rasa kemanusiaan serta berpikir bahwa suatu saat para tawanan bisa saja bermanfaat untuk Pasukannya.
Kelima tawanan dibawa ke markas mereka di wilayah Kecamatan Wanaraja, Garut. Melihat secara langsung bagaimana pribumi berjuang melawan sekutu, membuat kelima tawanan bersimpati. Mereka kemudian memutuskan menghadap Mayor Kosasih untuk menyatakan diri bergabung dengan PPP dan memeluk agama Islam.
Para tawanan dibawa ke hadapan Raden Djajadiwangsa, tokoh ulama senior sekaligus penasihat PPP untuk dibimbing mengucap dua kalimat syahadat serta ikrar demi membela Indonesia bersama PPP. Adapun nama Yanagawa Shichisei alias Yang Chil Seong berubah menjadi Komarudin. Komarudin bersama dua pemuda Korea lainnya ditugaskan menjadi pelatif PPP, sementara sisanya bertugas menjadi pasukan tim kesehatan.
Berjuang Demi Indonesia
Setelah resmi menjadi anggota PPP, Komarudin melakukan berbagai operasi, mulai dari penyerangan, sabotase, penghadangan di wilayah Wanaraja hingga gerilya di rel kereta api yang menyambungkan Bandung dan Yogyakarta. Komarudin bersama dengan anggota PPP lainnya bergerilya melawan tentara sekutu dari Yogyakarta yang hendak masuk ke Bandung. Mereka juga turut beroperasi dalam pelucutan senjata di kota Bandung dan sekitarnya.
Berdasarkan kisah yang dituturkan oleh para pahlawan yang pada saat itu masih hidup, Komarudin adalah pejuang yang dapat mewujudkan hal yang tidak mungkin terjadi, terutama saat invasi penyerangan yang ia lakukan di stasiun Cibatu. Peristiwa itu berhasil membuat rakyat Indonesia yang semula takut menjadi berani serta turut berperang bersama Komarudin, sebagaimana tertulis dalam Profile Yang Chil Seong: Pahlawan Kemerdekaan Indonesia Asal Korea Selatan.
Tidak hanya itu, ada satu aksi PPP yang sangat berkesan, yaitu saat operasi peledakan jembatan Cimanuk. Jembatan ini adalah jembatan yang menghubungkan Wanaraja dengan Garut. Di tahun 1947, PPP berhasil mendapatkan informasi mengenai pasukan Belanda yang berencana menyerang Wanaraja. Pemimpin PPP kemudian memutuskan untuk menjalankan operasi peledakan jembatan Cimanuk.
Operasi peledakan berlangsung pada malam hari oleh satu tim kecil PPP yang bergerak menuju jembatan Cimanuk. Mereka kemudian membuat formasi untuk mengawasi wilayah di sekitar jembatan Cimanuk. Sedangkan Komarudin, yang merupakan ahli perakit bom memasang peledak di beberapa titik di bawah jembatan Cimanuk. Setelah pemasangan yang dilakukan Komarudin selesai, bom pun diledakkan. Hancurnya jembatan Cimanuk berhasil menggagalkan rencana Belanda untuk menyerang Wanaraja.
Editor: Kendi Setiawan


