Setelah 4 Dekade Buntu, Lebanon dan Israel Berunding di Tengah Kekhawatiran Perang

Setelah 4 Dekade Buntu, Lebanon dan Israel Berunding di Tengah Kekhawatiran Perang

Arina.id – Untuk pertama kalinya selama lebih dari empat dekade, perwakilan sipil dari Lebanon dan Israel duduk bersama dalam sesi komite pemantau gencatan senjata yang difasilitasi Amerika Serikat di Naqoura, Lebanon, pada Rabu (3/11/2025).

Langkah bersejarah ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan selatan Lebanon, di mana serangan udara dan bentrokan sporadis terus memicu kekhawatiran akan pecahnya perang besar di kawasan tersebut.

Pertemuan tokoh sipil ini merupakan bagian dari upaya memperluas mandat komite pemantau gencatan senjata 2024—yang awalnya berfokus pada kontak militer antara Israel dan Hizbullah—menjadi forum dialog yang melibatkan unsur-unsur sipil guna meredakan ketegangan jangka panjang.

Meski demikian, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menegaskan bahwa keterlibatan Beirut dalam pertemuan itu tidak boleh dianggap sebagai perundingan menuju normalisasi dengan Israel.

Salam menegaskan bahwa pembahasan yang berlangsung saat ini hanya bertujuan pada tiga hal: penghentian permusuhan, pembebasan sandera asal Lebanon, serta penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon.

“Negosiasi ini bertujuan semata-mata untuk penghentian permusuhan, pembebasan sandera asal Lebanon, dan penarikan penuh Israel dari wilayah Lebanon,” kata Salam dikutip laman Aljazeera.

Ia menambahkan bahwa Beirut tetap berkomitmen pada Inisiatif Perdamaian Arab 2002, yang menetapkan normalisasi penuh hubungan dengan Israel hanya jika negara tersebut menarik diri dari wilayah-wilayah yang didudukinya sejak 1967, dan Lebanon tidak memiliki niat untuk menyimpang dari kerangka tersebut atau mencapai kesepakatan damai terpisah di luar konsensus Arab yang telah disepakati dua dekade lalu.

Pertemuan Tiga Jam di Garis Biru

Untuk pertama kalinya, utusan sipil dari kedua negara diizinkan bergabung dalam pertemuan yang biasanya terbatas pada pejabat militer. Langkah ini dinilai dapat mendorong proses dialog yang lebih luas dan berkelanjutan. 

“Partisipasi utusan sipil dapat membantu meredakan ketegangan,” ujar Salam. Ia merujuk pada serangan udara Israel baru-baru ini di Beirut dan wilayah sekitarnya, yang menjadi indikator jelas bahwa eskalasi udara di kawasan sedang meningkat.

Sesi pertemuan berlangsung sekitar tiga jam di sepanjang Garis Biru, perbatasan yang ditetapkan PBB setelah Israel menarik pasukannya dari Lebanon pada tahun 2000. Wilayah ini telah lama menjadi titik rawan konflik, terutama sejak pecahnya perang besar pada 2006 antara Israel dan Hizbullah.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis seusai pertemuan, komite mengapresiasi kehadiran utusan sipil sebagai “langkah penting” untuk memperluas proses menjadi dialog sipil maupun militer yang berkelanjutan, serta berharap dapat “menumbuhkan perdamaian” di sepanjang perbatasan yang selama puluhan tahun menjadi kawasan bergejolak.

Dorongan AS dan Kekhawatiran Eskalasi

Amerika Serikat disebut telah berbulan-bulan mendorong pertemuan langsung ini, terutama setelah beberapa serangan udara Israel menghantam ibu kota Lebanon bulan lalu—sebuah insiden yang memicu kekhawatiran internasional tentang kemungkinan pecahnya konflik besar baru yang dapat melibatkan beberapa aktor regional.

Israel mempertahankan kehadiran militer di lima titik strategis di Lebanon selatan, meskipun gencatan senjata 2024 mengharuskannya untuk menarik seluruh pasukan. Serangan udara rutin yang disebut-sebut menargetkan posisi Hizbullah terus memicu ketegangan.

Dalam pengarahan daring kepada wartawan, juru bicara pemerintah Israel, Shosh Bedrosian, menyebut pertemuan tersebut sebagai “perkembangan bersejarah”.

“Pertemuan langsung antara Israel dan Lebanon ini terjadi sebagai hasil dari upaya Perdana Menteri Netanyahu untuk mengubah wajah Timur Tengah. Sebagaimana dikatakan Perdana Menteri, terdapat peluang unik untuk menciptakan perdamaian dengan negara-negara tetangga kami,” kata Bedrosian.

Meski begitu, para analis di kawasan memandang bahwa peluang menuju normalisasi tetap tipis mengingat pengaruh besar Hizbullah di Lebanon serta sikap resmi Beirut yang tetap terikat pada konsensus negara-negara Arab.

Kendati pertemuan terbaru ini dipandang sebagai langkah maju, kondisi di lapangan masih sangat rapuh. Bentrokan terbatas antara Hizbullah dan pasukan Israel terus terjadi hampir setiap pekan, dengan risiko salah kalkulasi yang dapat memicu perang terbuka.
 


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo