Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian meningkat setelah Iran, pada Selasa malam, 1 Oktober 2024, meluncurkan ratusan rudal balistik hipersonik ke Israel dan banyak di antaranya berhasil menjebol sistem pertahanan udara Iron Dome milik negeri Zionis.
Israel belum membalas serangan rudal-rudal Iran yang sejumlah di antaranya menghantam salah satu pangkalan udara mereka, tetapi negara itu berjanji mengganjar Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, beberapa jam setelah serangan Iran, menyatakan: "Iran melakukan kesalahan besar malam ini dan mereka akan membayar harganya".
Israel diaporkan tengah mempertimbangkan serangan balasan yang signifikan terhadap kilang minyak Iran dan para pejabat negeri Zionis sedang berkonsultasi dengan Amerika Serikat untuk merencanakan respons militer. Israel, menurut sejumlah analis, juga menargetkan fasilitas program nuklir Iran.
Presiden Amerika Serikat Joe Biden sempat menyatakan tidak akan mendukung rencana Israel untuk menyerang lapangan minyak atau fasilitas nuklir Iran. Tetapi, esok harinya, Jumat, Biden mengakui bahwa dia dan Netanyahu sedang membahas opsi tersebut.
Pada hari yang sama, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei menghadiri salat Jumat dan menyampaikan khutbah di Masjid Agung Mosalla di Teheran, sesuatu yang jarang dilakukan oleh sang ayatollah. Berbicara di hadapan jemaah salat Jumat itu, sambil sesekali memegang senjata laras panjang, menyatakan rezimnya tidak akan mundur melawan Israel.
Eskalasi di Timur Tengah meningkat tidak hanya karena invasi Israel di Gaza dan kemudian di Lebanon, ditambah serangan rudal-rudal balistik Iran, tetapi juga ditambah gempuran rudal kelompok militan Houthi di Yaman ke Israel. AS mengonfirmasi bahwa mereka menyerang sekitar 15 sasaran di wilayah Yaman yang dikuasai Houthi pada Jumat, termasuk Hodeida dan ibu kota Yaman, Sanaa.
Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran dilaporkan meluncurkan rudal-rudal ke Israel tengah dan menembaki kapal perang AS di Laut Merah dalam beberapa hari terakhir.
Apa rencana Israel?
Joe Biden, pada Jumat, bahwa Israel belum memutuskan bagaimana untuk menanggapi serangan rudal Iran terhadap negaranya. Dia mengingatkan bahwa Israel harus mempertimbangkan untuk tidak menyerang lapangan minyak Iran.
"Israel belum menyimpulkan apa yang akan mereka lakukan sehubungan dengan serangan itu. Hal itu sedang didiskusikan," kata Biden kepada wartawan dalam konferensi pers di Gedung Putih.
“Jika saya berada di posisi mereka," kata Biden, merujuk pada Israel, "saya akan memikirkan alternatif lain selain menyerang lapangan minyak.”
Ketika ditanya seberapa yakin dia bahwa perang antara Israel dengan Iran, yang bisa memicu perang besar di Timur Tengah, bisa dicegah, Biden tampak terdiam sejenak sebelum memberikan jawaban kepada wartawan.
"Seberapa yakin Anda bahwa hujan tidak akan turun? Lihat, saya tidak mempercayai akan terjadi perang besar-besaran. Saya pikir kita bisa menghindarinya," kata Biden saat berbicara kepada wartawan.
Klaim Biden tentang keputusan Israel berbeda dengan dinamika di antara kedua negara itu sebagaimana laporan Politico. Biden, menurut media itu mengutip dua pejabat Gedung Putih yang tidak disebutkan namanya dua hari sebelumnya, dilaporkan mulai frustrasi dengan Israel karena tidak mampu memengaruhi perilaku militer negara Zionis tersebut.
Benjamin Netanyahu, menurut laporan Politco, tak bisa "diatur" dan terus mengabaikan nasihat AS. Bahkan panggilan telepon antara Biden dan Netanyahu "makin berubah menjadi adu mulut", kemudian Biden mulai marah karena pengaruhnya mulai menyusut.
Menurut media tersebut, dinamika ini menggambarkan "pengakuan" bahwa Biden mungkin tidak dapat mencegah "perang regional" di Timur Tengah. Situasi itu telah memaksa Biden untuk puas dengan "membatasi respons Israel daripada mencegahnya sepenuhnya".
Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon mengatakan bahwa Israel memiliki banyak pilihan dan cara untuk membalas dendam terhadap Iran. "Kami memiliki banyak pilihan [dan cara untuk membalas] jadi [terserah] pada kami untuk memutuskan di mana dan kapan kami ingin menyerang. Mereka (itu lemah]. Dan mereka tahu itu," katanya dikutip dari Middle East Eye, Jumat.
"Kami harus menjadikannya respons yang diperhitungkan karena [sebenarnya] kami tidak ingin perang penuh dengan Iran. Dan percayalah, mereka juga tidak ingin melihatnya," kata Danon.
Israel mungkin akan menyerang fasilitas nuklir Iran, kata mantan perdana menteri (PM) Israel Ehud Barak dengan yakin. Dalam sebuah keterangan yang dikutip Guardian, Barak, yang pernah menjabat menteri pertahanan dan kepala staf Angkatan Darat, mengatakan bahwa model respons Israel dapat dilihat dalam serangan udara terhadap fasilitas minyak, pembangkit listrik, dan dermaga yang dikuasai Houthi di pelabuhan Hodeidah, Yaman.
Merujuk apa yang dilakukan Israel kepada Houthi, Barak mengatakan tindakan serupa bisa dilakukan militer negaranya kepada Iran. Itu mungkin serangan besar-besaran, dan itu bisa diulang lebih dari sekali," katanya.
Barak juga menyebut bahwa ada tekanan dalam pemerintahan Netanyahu untuk melakukan sedikitnya serangan simbolis terhadap Iran, salah satunya terhadap fasilitas nuklir. Serangan itu dapat menyebabkan kerusakan tertentu tapi, katanya, itu akan sepadan dengan yang telah dilakukan Iran kepada Israel.
"Jadi mungkin akan ada upaya untuk menyerang target terkait nuklir tertentu," ujar Barak.
Barak yakin bahwa respons militer Israel akan signifikan, tapi ia berpendapat bahwa perang regional masih bisa dihindari oleh Netanyahu. Israel, menurutnya, dapat menggalang dukungan Arab bagi pemerintahan Palestina usai perang di Gaza untuk menggantikan Hamas.
Ada beberapa alternatif opsi bagi Israel, menurut Barak, untuk membatasi konflik agar tidak meluas menjadi berskala penuh ke seluruh Timur Tengah. Masalahnya, dia menekankan, "Netanyahu menolak segala jenis diskusi tentang apa yang kita sebut 'hari berikutnya'".
Iran tidak akan menunda atau tergesa-gesa
Ali Khamenei, sang pemimpin tertinggi Iran, ketika berbicara di hadapan massa jemaah salat Jumat di di Teheran, melihat kemungkinan terjadinya perang regional adalah nyata. Karena itulah ia menyerukan agar umat Islam bersatu.
Iran, dalam satu dekade terakhir, dinilai menerapkan kebijakan isolasionis di seluruh kawasan Timur Tengah. Tetapi Khamenei dianggap berusaha untuk memperbaiki hal itu.
Dilansir Reuters, Khamenei mengatakan bahwa Iran tidak akan "menunda-nunda atau bertindak tergesa-gesa dalam melaksanakan tugasnya" dalam menghadapi Israel, dan menegaskan serangan rudal ke Israel adalah "legal dan sah".
Iran meluncurkan serangan rudal terhadap Israel sebagai pembalasan atas serangan Israel yang menewaskan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah di Beirut pada hari Jumat pekan lalu dan pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran pada Juli. Iran menyalahkan Israel atas pembunuhan Haniyeh tetapi para pejabat Israel belum mengaku bertanggung jawab.
Khamenei menyerukan kepada umat Islam untuk tetap bersatu dan menikmati kekuatan Allah yang tak terbatas. Ia juga mengatakan bahwa menciptakan perpecahan adalah kebijakan para musuh. Menurut Al-Qur'an, jika umat Islam bersatu, mereka bisa mengalahkan musuh, kata Pemimpin Besar Revolusi Islam.
"Musuh bangsa Iran," katanya, "adalah musuh bangsa Irak, musuh bangsa Lebanon adalah musuh yang sama, musuh bangsa Mesir adalah musuh yang sama, musuh kita semua adalah sama."
Penyebab utama perang, ketidakamanan dan keterbelakangan di wilayah ini adalah "keberadaan rezim Zionis" dan kehadiran pemerintah yang mengklaim mencari perdamaian dan ketenangan di wilayah tersebut, kata Khamenei.
Isyarat bahwa Iran tak gentar dengan ancaman Israel diungkapkan dengan tegas oleh Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigadir Jenderal Ali Fadavi. Militer Iran, katanya, bakal menargetkan infrastruktur energi Israel dalam serangan berikutnya. Pembangkit listrik dan kilang gas Israel dapat diserang apabila Iran diserang oleh negeri Zionis tersebut.
"Iran adalah negara yang besar dan luas serta memiliki banyak pusat ekonomi, sementara Israel memiliki tiga pembangkit listrik dan beberapa kilang. Kami dapat menargetkan semuanya sekaligus," kata Fadavi, dilansir CNN.
Fadavi mengungkapkan bahwa Iran akan menargetkan semua lokasi energi jika Israel membuat "kesalahan", dengan melakukan serangan balasan atas rentetan rudal Iran.
Di ibu kota Lebanon, Beirut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga memperingatkan akan "respons keras" jika Israel menyerang. Dia mengatakan sejauh ini negaranya hanya menyerang lokasi keamanan dan militer Israel.
Komentarnya menggemakan pernyataan sebelumnya dari Ali Khamenei bahwa serangan Iran terhadap Israel pada Selasa malam itu adalah "hukuman paling ringan" dan bahwa Iran akan menyerang Israel lagi "jika diperlukan".
AS tak berdaya terhadap Israel
Media The Guardian, dalam analisisnya, menyebut bahwa serangan Iran terhadap Israel telah menggugurkan klaim Joe Biden bahwa AS telah menghentikan perluasan eskalasi di Timur Tengah. AS juga dilaporkan telah memberi isyarat kepada Teheran bahwa jika terjadi serangan Iran kedua, AS tidak akan dan tidak dapat menjadi pengaruh yang dapat menahan.
"Secara politis, pemerintahan Biden tidak dapat dianggap mengikat tangan Israel dalam menghadapi serangan Iran terhadap kota-kota Israel. Rezim Iran (khususnya IRGC) merasakan tekanan untuk menunjukkan kepada proksi dan sekutu regionalnya, dari Hizbullah hingga Houthi di Yaman," tulis The Guardian.
Sementara itu, Netanyahu memiliki keleluasaan yang lebih besar. Dengan rudal Iran di atas Tel Aviv, jauh lebih sulit bagi Washington untuk mencoba memengaruhi tindakannya, dan jauh lebih sulit bagi lawan perdana menteri untuk menyerukan pemecatannya.
Perang penghancuran Israel terhadap musuh-musuh regionalnya, pertama Hamas dan kemudian Hizbullah, memperkuat argumen bagi Iran bahwa hanya senjata nuklir yang dapat menjaga negara itu. Di Isreal, jika argumen itu yang dominan di Iran, akan memicu seruan di negeri Zionis untuk perang pencegahan.
Kawasan Timur Tengah, pada masa-masa berbahaya seperti ini, berharap AS dapat menahan atau meredakan eskalasi. "Namun, orang yang saat ini menduduki Ruang Oval adalah presiden yang tidak berdaya yang telah diabaikan hingga dipermalukan dalam beberapa bulan terakhir oleh sekutu terdekat AS di Timur Tengah," tulis The Guardian.
Apa pun yang akan dilakukan AS, Israel, dan Iran, situasi yang terjadi sekarang telah sedemikian rumit dan konflik telah meluas. Karena itu, seperti diperingatkan oleh Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares, pada Rabu, dunia "berada di ambang perang regional total" di Timur Tengah sehingga perlu upaya pencegahan segera.
"Kita menghadapi masa eskalasi perang yang tidak terpikirkan setahun lalu. Ini sangat serius," kata Albares kepada radio Spanyol Onda Cero. "Kita berada di ambang perang regional total dan kita harus menghindarinya dengan segala cara."
Spanyol, katanya, telah melakukan upaya sejak Oktober lalu guna mencegah situasi tersebut. Dia menekankan, Timur Tengah tidak memerlukan lebih banyak senjata; mereka memerlukan perdamaian, dialog, "dan saya tidak percaya pada gagasan bahwa perang adalah satu-satunya solusi di Timur Tengah".
"Solusinya adalah berdirinya negara Palestina, hidup berdampingan secara damai dengan Israel," kata Albares.
Editor:


