Jakarta, Arina.id – Akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz, meneruskan uraian terkait tingkat atau level kesadaran manusia yang merujuk buku The Mentor in Me: What to Do and What Not to Do karya William Todd.
Level kesadaran ini berkaitan dengan cara seseorang mengenali diri, menetapkan tujuan, belajar dari pengalaman, dan mengambil keputusan.
Fahruddin Faiz menjelaskan, salah satu tingkat kesadaran adalah kesadaran individual. Pada tahap ini, seseorang mulai mengekspresikan diri dan menunjukkan keunikan yang dimilikinya. Ia tidak hanya memikirkan keinginannya, tetapi juga berusaha mewujudkan versi dirinya sendiri.
“Ini yang saya mau. Ini yang saya inginkan. Ini pilihanku,” kata Fahruddin ketika menjelaskan kesadaran individual Pembahasan tersebut disampaikan dalam tayangan tayangan Ruang Sinau diakses Sabtu (24/10/2026).
Setelah kesadaran individual, terdapat kesadaran disiplin. Menurut Faiz pada tahap ini seseorang tidak sekadar mengekspresikan diri, tetapi juga memiliki target, cita-cita, dan keinginan yang hendak diwujudkan melalui komitmen dan kedisiplinan.
“Orang dengan kesadaran disiplin itu dia punya target, punya cita-cita, punya keinginan, dan dia berkomitmen mewujudkannya secara disiplin,” jelasnya.
Ia menambahkan, kesadaran disiplin melampaui kesadaran individual karena seseorang mulai memiliki tujuan yang jelas dan berupaya mencapainya dengan komitmen penuh.
Namun, kedisiplinan saja tidak cukup apabila seseorang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan keadaan. Karena itu, terdapat kesadaran experience atau kesadaran pengalaman, yakni kemampuan belajar dari pengalaman dan merespons situasi secara fleksibel.
Faiz mencontohkan seseorang yang memiliki target untuk selalu melaksanakan salat di masjid. Komitmen tersebut merupakan hal yang baik. Namun, ketika situasi berubah, seperti saat pandemi yang menyebabkan aktivitas di masjid dibatasi untuk mencegah penyebaran penyakit, seseorang perlu mempertimbangkan kondisi yang sedang dihadapi.
“Orang yang disiplin saja kadang-kadang kalau dia tidak luwes, hidupnya jadi kaku, monoton. Situasi berubah, dia tidak mau berubah,” ujarnya.
Menurut Faiz, kesadaran pengalaman memungkinkan seseorang tetap berpegang pada tujuan, tetapi mampu menyesuaikan cara bertindak dengan keadaan. Dengan demikian, kedisiplinan tidak dijalankan secara kaku, melainkan disertai kemampuan mengambil pelajaran dari pengalaman.
“Dia tidak sekadar disiplin, tetapi juga menargetkan untuk lebih baik terus-menerus dari pengalaman, belajar dari pengalaman,” katanya.
Adapun tingkat kesadaran tertinggi yang dibahas dalam pemaparan tersebut adalah mastery. Fahruddin Faiz menjelaskan, ciri utama kesadaran ini ialah kemampuan bersikap responsif, bukan reaktif. Seseorang tidak terburu-buru bertindak, tetapi terlebih dahulu mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan.
“Responsif, tidak reaktif. Mau melakukan apa pun dipikir dulu,” jelasnya.
Ia mengatakan, pertimbangan tersebut mencakup kenyamanan diri sendiri, kepentingan orang lain, beragam aspirasi, ekspresi diri, target, kedisiplinan, komitmen, pengalaman, hingga situasi baru yang sedang dihadapi.
Setelah mempertimbangkan berbagai hal tersebut, seseorang kemudian menentukan tindakan yang tepat. Menurut Fahruddin, sikap ini menunjukkan kematangan dalam mengambil keputusan karena respons diberikan setelah melalui pemikiran yang mendalam.
“Kalau orang sudah sampai mastery, kesadarannya bukan kesadaran reaktif, tetapi kesadaran responsif. Kalau respons itu diawali dengan berpikir mendalam, baru kemudian dieksekusi,” paparnya.
Faiz mengajak jamaahnya untuk merefleksikan tingkat kesadaran masing-masing. Ia menyinggung bahwa seseorang mungkin masih kesulitan menjaga konsistensi disiplin, mengenali keunikan diri, menentukan tujuan, atau membangun hubungan yang baik dengan orang lain.
Ia juga mengajak peserta untuk mengevaluasi apakah selama ini tindakan mereka lebih banyak didorong oleh pencarian kesenangan atau sudah didasarkan pada pertimbangan yang matang.
“Baik, renungi sendiri, ya. Kalau bisa, kamu naik level kesadaranmu biar hidup kita lebih bernilai. Tambah tinggi level kesadaran kita, tambah bernilai hidup kita, tambah berkualitas,” jelasnya.
Editor:


