Hampir 100 Drone Serang Kediaman Putin Bisa Picu Perang Nuklir, Rusia Tegaskan Bakal Balas Dendam

Hampir 100 Drone Serang Kediaman Putin Bisa Picu Perang Nuklir, Rusia Tegaskan Bakal Balas Dendam

Arina.id - Rusia telah mengancam akan membalas dendam kepada Ukraina setelah menuduh hampir 100 drone terbang dan menargetkan salah satu kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin di wilayah Novgorod barat laut Rusia. 

Properti itu berjarak 360 kilometer (225 mil) sebelah utara Kota Moskow. Serangan pesawat tak berawak tersebut terjadi pada Minggu, 29 Desember 2025, ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencoba menengahi perjanjian damai untuk mengakhiri perang di Ukraina, yang akan memasuki tahun kelima pada Februari ini.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menuduh Ukraina telah melancarkan serangan terhadap kediaman Valdai, salah satu kediaman Putin tersebut. Kepada wartawan, Lavrov mengatakan Ukraina telah meluncurkan 91 drone ke arah kediaman Presiden Rusia. Sistem pertahanan udara menembak jatuh drone dan tidak ada yang terluka dalam insiden tersebut.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan 49 drone ditembak jatuh di wilayah Bryansk, satu ditembak jatuh di wilayah Smolensk dan 41 ditembak jatuh di atas wilayah Novgorod ketika dalam perjalanan.

"Tindakan sembrono seperti itu tidak akan luput dari tanggungjawab," kata Lavrov, seperti dikutip dari Aljazeera. "Target untuk serangan balasan dan waktu implementasinya oleh angkatan bersenjata Rusia telah ditentukan."

Para pejabat Rusia menuduh Ukraina dan presidennya, Volodymyr Zelenskyy, melakukan serangan untuk menggagalkan prospek perjanjian damai. Kepada Zelenskyy, Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menulis di X: "Kiev yang mau mencoba menggagalkan penyelesaian konflik. Dia menginginkan perang. Yah, sekarang setidaknya dia harus tetap bersembunyi selama sisa hidupnya yang tidak berharga."

Ajudan kebijakan luar negeri Kremlin Yury Ushakov mengatakan, serangan itu terjadi pada hari Minggu, tepat setelah pembicaraan damail diadakan di Florida antara Trump dan Zelenskyy untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina.

Sementara itu Pakar militer Rusia, Alexey Leonkov, seperti dilaporkan Sputnik, mengatakan serangan 91 pesawat tak berawak ke kediaman Putin di wilayah Novgorod dianggap sebagai provokasi sangat berbahaya. Menurut dia, serangan terseubt tidak dapat "dilakukan tanpa partisipasi elang Eropa" sebab "Zelensky tidak akan berani merencanakan atau melakukan operasi semacam itu sendiri," kata dia.

Menurut dia, butuh perencanaan yang rumit, dan waktu yang pas saat Zelensky berada di AS untuk pembicaraan dengan Trump. Waktu tersebut dirancang untuk memberi Zelensky alibi, "yang sekarang dia gunakan, mengklaim Ukraina tidak ada hubungannya dengan itu," kata Leonkov.

Provokasi tersebut "bukan hanya serangan terhadap presiden," pengamat itu menekankan. "Itu adalah serangan terhadap pusat kontrol senjata nuklir, karena setiap tempat tinggal tersebut berisi simpul komunikasi di mana kepala negara dapat mengeluarkan perintah untuk menggunakan kekuatan nuklir negara."

"Itu dimaksudkan untuk memprovokasi konflik antara AS dan Rusia," kata Leonkov. "Ini adalah perhitungannya: paling buruk, memprovokasi konflik global; setidaknya, mengganggu proses negosiasi antara AS dan Rusia. Dan jelas bahwa elang Eropa hanya menyukai skenario ini, terutama Inggris."

Zelensky boleh saja sekarang melakukan penyangkalan, namun sebelumnya setidaknya dua minggu sekali sebelumnya Ia sempat menyinggung tentang kematian Putin. Terbaru dalam konferensi pers pada 18 Desember 2025, ketika dia mengatakan "politisi berubah, seseorang hidup, seseorang mati," dan pada malam Natal, ketika dia secara terbuka menyerukan kepada Ukraina untuk mengharapkan kematian Putin.

"Semua ini menunjukkan Zelensky menyadari serangan yang akan datang, tetapi memainkan peran yang ditugaskan – berpura-pura tidak ada hubungannya dengan serangan tersebut, kemudian diam-diam 'mengadvokasi perdamaian'," Leonkov menekankan.

Sambil menganalisis reaksi publik Moskow secara hati-hati, Leonkov mengatakan dua hal yang pasti: pertama, Rusia akan merespons secara tepat, dengan target serta waktu tanggapan telah ditentukan; kedua, respon akan dilakukan sedemikian rupa agar tidak mempengaruhi proses negosiasi antara Rusia dan AS.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo