Arina.id - Kenapa banyak jenderal dan ilmuan Iran meninggal dalam serangan awal Israel? Apakah kebetulan terkena bom atau sengaja menjadi target Zionis? Profesor Seyed Mohammad Marandi, akademisi sekaligus pengamat politik Universitas Teheran menguak strategi kotor Netanyahu yang menyebabkan banyak jenderal Iran meninggal.
Marandi menyebut serangan-serangan awal Israel ke Iran dimulai dengan tindakan teror yang jelas dengan jejak taktik ala Nazi Jerman. Netanyahu menggunakan strategi Blitzkrieg atau serangan cepat ke jantung kekuatan musuh. Hanya saja caranya lebih biadab, tidak hanya membunuh pejabat, tetapi juga keluarganya.
"Mereka tidak hanya membunuh pejabat militer senior dalam serangan Blitzkrieg mereka, mirip dengan serangan Nazi Jerman, tetapi mereka juga membunuh keluarga, tetangga, dan dalam beberapa kasus mereka membunuh semua orang di dalam gedung," kata Marandi, seperti dikutip dari Sputnik.
Israel juga bermaksud mempermainkan psikologis musuh, dengan ancaman langsung ke pimpinan militer. Mereka sudah didata, lalu dihubungi satu-satu diminta menyerah disertai ancaman pembunuhan. "Mereka (Israel) dilaporkan menelepon 20 jenderal Iran, menuntut video penyerahan diri — atau keluarga mereka akan dibantai," katanya.
Hanya saja tidak satupun dari jenderal-jenderal tersebut menanggapi dan menuruti ancaman Israel. Lalu diam-diam tanpa aba-aba lebih dulu, Israel menerbangkan pesawat dan langsung membidik kediaman atau gedung tempat jenderal-jenderal itu berada, kemudian membombardirnya. Itulah awal mula serangan cepat yang dimulai oleh Israel pada Jumat, 13 Juni 2025.
Padahal, Marandi melanjutkan, di dalam rumah atau gedung tersebut ada keluarga, tetangga, bahkan orang-orang tidak bersalah. Kemudian, Israel juga beroperasi tanpa batasan moral. Negeri Zionis tersebut menganut paham supremasi etnis dan menganggap orang lain sebagai manusia rendah mirip Nazi dulu.
"Rezim [Benjamin] Netanyahu adalah salah satu rezim paling berbahaya dalam sejarah manusia kontemporer. Mereka menganut paham supremasi etnis dan menganggap orang lain sebagai manusia yang lebih rendah."
Berikut ini nama-nama jenderal Iran yang meninggal dibunuh Israel pada awal-awal serangan cepat Israel yang bertujuan menjatuhkan moral Iran agar menyerah.
- Mayor Jenderal Mohammad Bagheri – Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, tewas dalam serangan udara Israel pada 13 Juni 2025
- Mayor Jenderal Hossein Salami – Panglima Tertinggi IRGC, tewas 13 Juni 2025
- Mayor Jenderal Gholam Ali Rashid – Komandan Markas Besar Khatam-al Anbiya, tewas 13 Juni 2025
- Mayor Jenderal Amir Ali Hajizadeh – Kepala Pasukan Dirgantara IRGC (program rudal/drone), tewas 13 Juni 2025
- Brigadir Jenderal Davoud Sheikhian – Komandan Pertahanan Udara IRGC, tewas 13 Juni 2025
- Brigadir Jenderal Gholamreza Mehrabi – Wakil Kepala Intelijen Angkatan Bersenjata, tewas 13 Juni 2025
- Brigadir Jenderal Mehdi Rabbani – Wakil Kepala Operasi, Staf Umum Angkatan Bersenjata, tewas 13 Juni 2025
- Brigadir Jenderal Hassan Mohaqeq – Wakil Kepala Organisasi Intelijen IRGC, tewas pada 15 Juni 2025
- Brigadir Jenderal Mohammad Kazemi – Komandan Intelijen IRGC (diangkat pada 2022), tewas pada 15 Juni 2025
Sementara untuk ilmuan Iran yang tewas selama dua hari,13 hingga 14 Juni 2025 dalam gelombang serangan yang menargetkan infrastruktur dan staf nuklir Teheran yakni:
- Fereydoon Abbasi — ilmuwan nuklir
- Saeed Borji
- Ahmadreza Zolfaghari Daryani
- Abdolhamid Minouchehr
- Mohammad Mehdi Tehranchi
- Seyyed Amir Hossein Faqhi
- Akbar Motlebizadeh
Meskipun begitu, kata Marandi, target Israel dalam perang 12 hari ini tidak ada yang berhasil. Perang psikologinya gagal total sebab Iran melawan hingga terbukalah perlawanan--yang kemudian menyerat Amerika Serikat (AS). "Mereka ingin melakukan perubahan rezim, tetapi mereka gagal total. Serangan ini hanya mengekspos niat tersembunyi mereka ke dunia."
Sampai pada akhirnya gencatan senjata diberlakukan kemarin, Selasa 24 Juni 2025. Israel dan Iran sama-sama menahan tidak saling menyerang setelah sebelumnya muncul kekhawatiran eskalasi perang bakal semakin meluas seiring dengan keterlibatan Washington dalam perang tersebut.
Editor:


