Arina.id - Juru Kementerian Luar Neggeri Qatar Majed al-Ansari mengatakan negaranya tidak akan menoleransi serangan Israel di Kota Doha dengan dalih apapun. Dalam unggahan di akun X, Majed menuding Zionis berusaha merusak keamanan negara.
Ia juga mengatakan serangan kriminal tersebut merupakan pelanggaran terhadap seluruh hukum internasional dan ancaman serius bagi keamanan warga Qatar maupun para penduduk yang tinggal di dalamnya.
"Tidak akan pernah menoleransi perilaku sembrono, Israel yang berusaha merusak keamanan dan kedaulatan negara," tulis Majed melalui media X, Selasa 09 September 2025.
Negara Qatar mengutuk keras serangan pengecut Israel yang menargetkan bangunan tempat tinggal beberapa anggota Biro Politik Hamas di ibu kota Qatar, Doha.
"Serangan kriminal ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap semua hukum dan norma internasional, dan menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan dan keselamatan warga Qatar dan penduduk di Qatar," jelasnya.
Kementerian menegaskan bahwa pasukan keamanan, pertahanan sipil, dan otoritas terkait segera mulai menangani insiden tersebut dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menahan dampaknya dan memastikan keselamatan penduduk dan daerah sekitarnya.
Sebelumnya, upaya pembunuhan terhadap para petinggi Hamas di Qatar terjadi menjelang tercapainya kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan gencatan senjata antara Israel dan Hamas akan terjadi dalam waktu dekat.
Namun sebelum gencatan situasinya justru memanas setelah Israel melancarkan serangan udara yang diklaim menyasar pimpinan gerakan perlawanan Islam Hamas.
Sejumlah gambar yang beredar di media sosial memperlihatkan asap hitam mengepul dari sebuah SPBU Legtifya di Doha. Tepat di sebelah SPBU tersebut terdapat kompleks perumahan kecil yang sejak awal konflik Gaza dijaga ketat pasukan emiri Qatar selama 24 jam.
Seorang pejabat senior Israel menyebut serangan itu diarahkan kepada sejumlah tokoh tinggi Hamas, termasuk Khalil al-Hayya, Kepala Biro Politik Hamas yang diasingkan sekaligus negosiator utama kelompok tersebut.
Namun, menurut laporan Al-Jazeera, target sebenarnya adalah delegasi Hamas yang tengah menggelar pertemuan di Doha guna membahas proposal Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait rencana gencatan senjata di Jalur Gaza.
Tak lama setelah rangkaian ledakan terjadi, militer Israel (IDF) dan badan intelijen Shin Bet mengeluarkan pernyataan bahwa yang mereka targetkan "para pemimpin operasi organisasi teroris, yang bertanggung jawab langsung atas pertempuran brutal 7 Oktober, dan mengorkestrasi dan mengatur perang melawan Negara Israel."
Editor:


