Jakarta, Arina.id— Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengungkap fakta bahwa santri laki-laki cenderung lebih rentan mengalami kekerasan seksual dibandingkan santri perempuan di lingkungan pesantren.
Penelitian ini diungkap Koordinator Peneliti PPIM UIN Jakarta, Windy Triana dalam bedah buku Menuju Pesantren Ramah Anak dan Menjaga Marwah Pesantren.
Secara komparatif, santri putra (1,90% atau 40.689) lebih rentan mengalami kekerasan seksual dibandingkan santri putri (0,20% atau 3.923).
"Santri putra ditemukan lebih rentan. Ada kondisi di mana bullying dianggap bentuk candaan oleh santri putra, ternyata itu indikasi terjadinya kekerasan seksual," ujarnya di Hotel Ashley Tanah Abang, Selasa (8/7/2025).
Ia menjelaskan salah satu faktor utama kerentanan itu berasal dari ketimpangan sistem perlindungan yang lebih banyak difokuskan pada santri perempuan.
“Proteksi lebih banyak diberikan ke perempuan, mulai dari kamar tidur hingga kamar mandi yang lebih tertutup. Laki-laki dianggap bisa menjaga dirinya sendiri,” ujar Windy.
Minimnya pengawasan dan perlindungan terhadap korban menjadikan kekerasan lebih mudah terjadi, terutama dalam bentuk perundungan seksual yang sering kali dianggap sebagai candaan atau hukuman biasa dari senior.
Survei PPIM juga membagi kerentanan pesantren terhadap kekerasan seksual ke dalam tiga tipologi: ketahanan tinggi, ketahanan moderat, dan ketahanan rendah. Mayoritas pesantren di Indonesia berada pada kategori ketahanan moderat, yang artinya memiliki sistem dasar perlindungan namun belum cukup kuat untuk mencegah kekerasan terjadi.
Dua buku ini hasil penelitian mengenai upaya menciptakan lingkungan pesantren yang aman dan ramah bagi anak di Indonesia.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peran signifikan pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua dan paling berpengaruh di Indonesia, yang kini menaungi lebih dari 4,1 juta santri di hampir 39.000 pesantren di seluruh negeri.
Direktur Riset PPIM UIN Jakarta, Iim Halimatusa’diyah menyatakan buku ini adalah bagian dari upaya bersama untuk memastikan pesantren terus menjadi lembaga luhur yang menjamin pemenuhan hak dan perlindungan anak, sejalan dengan kebijakan Pesantren Ramah Anak yang diinisiasi pemerintah.
Kedua buku ini merupakan hasil dari penelitian kuantitatif dan kualitatif yang komprehensif. Pada tahun 2023, survei nasional telah dilaksanakan di 90 pesantren di 34 provinsi, melibatkan 1.800 santri dan guru.
Penelitian dilanjutkan pada tahun 2024 dengan wawancara mendalam terhadap 170 informan dari 17 pesantren dan 12 lembaga terkait di 13 provinsi.
"Kedua buku ini menyajikan potret komprehensif pesantren di Indonesia. Buku Menuju Pesantren Ramah Anak memetakan realitas implementasi kebijakan Pesantren Ramah Anak (PRA) berdasarkan temuan survei nasional, menggali persepsi, praktik baik, hingga tantangan yang dihadapi komunitas pesantren."
Sementara itu buku Menjaga Marwah Pesantren melakukan analisis mendalam mengenai kerentanan sekaligus ketahanan pesantren dari ancaman kekerasan seksual, serta menawarkan mekanisme pencegahan dan penanganan untuk melindungi marwah lembaga.
Keduanya, kata dia, memberikan panduan utuh bagi upaya mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung bagi para santri.
Peneliti PPIM Haula Noor mengatakan temuan dari penelitian ini santri putra lebih rentan menunjukkan bahwa perlunya perbaikan dari segi struktural dalam pesantren.
"Misalkan dulu dari segi peletakkan kamar, keamanan lebih diketatkan kepada santri putri ternyata data yang kita temukan sekarang ternyata kamar santri putra perlu pengawasan lebih," jelasnya.
Dosen Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Falikul Isbah menambahkan Kementerian Agama yang telah menerbitkan regulasi untuk perlindungan anak di pesantren. Namun, menurutnya, itu belum cukup.
“Kemenag sudah bagus membuat regulasi, tapi yang lebih penting adalah edukasi. Bagaimana cara menyampaikan regulasi ini kepada kiai, santri, dan seluruh unsur pesantren? Dibutuhkan instrumen dan strategi edukasi yang tepat dan menyeluruh,” tegasnya.
Editor:


