Jelang Perundingan Babak II Ukraina-Rusia, Jalan Damai Kian Terang atau Rumit?

Jelang Perundingan Babak II Ukraina-Rusia, Jalan Damai Kian Terang atau Rumit?

Arina.id - Perang Rusia vs Ukraina di Eropa Timur sampai sekarang memang masih terus berkecamuk. Namun kedua negara terus mencari jalan perdamaian meskipun bisa dibilang masih rumit.

Pada 2025 ini,  sebenarnya pertemuan kedua petinggi negara untuk menyepakati perdamaian sudah dilakukan di Istanbul Turki pada 16 Mei lalu. Namun saat itu belum ada kesepakatan yang berarti untuk mengakhiri konflik yang sudah berlangsung kurang lebih tiga tahun tersebut.

Sebagai tindak lanjut rencana perdamaian, dalam waktu dekat di lokasi yang sama bakal digelar pertemuan babak kedua antara kedua negara untuk membahas perdamaian. Dokumen perjanjian saat ini sedang disiapkan oleh masing-masing petinggi di Moskow dan Kiev.

Terkait jalan perdamaian kedua negara ini, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan, kesepakatan yang dicapai Rusia dengan Ukraina dalam pembicaraan di Istanbul beberapa waktu lalu memang sangat "penting", tetapi terobosan cepat yang dapat mengakhiri konflik belum tercapai.

Seperti dikutip dari Sputnik, dalam jumpa pers di Moskow pada Selasa 03 Juni 2025, Peskov menekankan kalau Rusia tidak mengharapkan solusi dan terobosan langsung mengingat kompleksitas masalah. Meskipun begitu pekerjaan terus berlanjut.

Peskov juga mengatakan Rusia menyerahkan kepada Ukraina sebuah memorandum atau dokumen perjanjian yang berisi visi Moskow untuk penyelesaian perang dengan banyak ketentuan, termasuk berbagai opsi. Presiden Rusia Vladimir Putin juga siap menyusun memorandum Bersama dengan Ukraina. 

Akan tetapi Peskov mengatakan kalau Moskow dan Kiev menghadapi kontak yang sulit untuk mengembangkan satu teks memorandum tentang perjanjian damai dan gencatan senjata dan bahwa draf dokumen harus disiapkan oleh kedua belah pihak terlebih dahulu.

"Ini adalah masalah yang akan menjadi agenda dengan satu atau lain cara," kata Peskov, ketika ditanya tentang siapa yang akan menandatangani semua dokumen yang relevan atas nama Ukraina.

"Sekali lagi, izinkan saya menekankan bahwa kami telah berulang kali mengatakan bahwa masalah penyelesaian konflik sangat rumit dan mencakup banyak detail yang kompleks. Semuanya diarahkan untuk menghilangkan penyebab awal konflik dan kemudian mulai bergerak menuju penyelesaian yang berkelanjutan," lanjutnya.

Namun, juru bicara Kremlin tersebut mengisyaratkan bahwa Moskow mungkin berkompromi pada poin-poin tertentu, tetapi topik itu harus didiskusikan secara pribadi selama negosiasi, bukan di depan umum. Ia juga mengatakan pihak Ukraina belum menyampaikan tanggapan resminya terhadap dokumen yang diusulkan Rusia.

Sementara itu, dikutip dari Anadolu, mengenai pertemuan trilateral antara kepala negara Rusia, AS, dan Ukraina, Peskov mengatakan pertemuan tersebut tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat. Presiden Putin telah berulang kali menekankan kesiapannya untuk melakukan kontak tingkat tinggi, sambil menekankan bahwa kontak ini harus merupakan hasil kesepakatan yang akan dikerjakan di tingkat teknis dan ahli. 

"Presiden Putin mendukung gagasan kontak, tetapi dia percaya bahwa kontak tersebut harus dipersiapkan dengan baik. Jika presiden Rusia dan AS memutuskan bahwa percakapan telepon diperlukan, percakapan itu dapat segera diatur, tetapi saat ini, belum ada rencana seperti itu," tambahnya.

Peskov melanjutkan bahwa jalur komunikasi dengan Washington tetap terbuka dan berfungsi, sambil menambahkan: "Kami memiliki saluran dialog dengan pihak Amerika dan terus menggunakan saluran ini untuk komunikasi."

Dia juga mengkritik Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, dengan mengatakan bahwa presiden yang juga mantan komendian tersebut telah berbicara kurang ajar kepada delegasi Rusia. Peskov menilai perilaku tersebut tidak sejalan dengan semangat negosiasi kedua negara.

Dalam agenda pertemuan pembahasan damai babak kedua yang bakal dilakukan Ukraina dan Rusia nanti, salah satu poin yang disepakati adalah pertukaran lebih banyak tawanan perang--dengan fokus pada yang termuda dan paling parah terluka--serta mengembalikan jenazah 12.000 tentara yang telah tewas dalam konflik bersenjata.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo