MHM Mesir Sampaikan Solidaritas atas Musibah Pesantren Al Khoziny Jawa Timur

MHM Mesir Sampaikan Solidaritas atas Musibah Pesantren Al Khoziny Jawa Timur

Jakarta, Arina.id–Insiden ambruknya bangunan mushola di kompleks Pesantren Al Khoziny Sidoarjo Jawa Timur terus menimbulkan berbagai pihak. Salah satunya Majelis Hukama Muslimin (MHM) di Mesir.

Majelis yang dipimpin Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Prof Ahmed el-Tayeb, menyatakan solidaritasnya kepada Republik Indonesia atas korban bangunan ambruk di Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo.

Dalam rilis yang diterima Arina.id, Kamis (2/10/2025), MHM menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada pimpinan dan rakyat Indonesia, serta kepada keluarga korban dari insiden yang memilukan ini.

Selai itu, MHM juga mendoakan, semoga Allah Swt mengampuni para santri yang meninggal dan menganugerahkan mereka kedamaian abadi di surga. MHM juga mendoakan keluarga dan orang-orang terkasih dari para korban diberikan kesabaran dan penghiburan.

MHM jberharap upaya penyelamatan para santri yang masih terjebak dalam reruntuhan berjalan lancar, dan para korban luka bisa segera pulih.

Sebagaimana diberitakan sebuah mushola yang berada di kompleks pesantren itu dilaporkan ambruk pada Senin (29/09/2025) pukul 15.15 WIB. Saat kejadian, di dalam mushola tersebut terdapat sejumlah santri yang tengah beraktivitas.

Update jumlah korban
Hingga saat ini tim penyelamat terus melakukan evakuasi korban yang berada di reruntuhan bangunan. Laporan Basarnas pada Rabu (1/10/2025) tim penyelamat mengevakuasi lima korban dari reruntuhan gedung asrama putra Pondok Pesantren atau Al Khoziny Buduran, Sidoarjo. Dua orang di antaranya ditemukan tewas, sementara tiga lainnya luka berat.

"Pada pukul 20.47 WIB, kami kembali berhasil mengevakuasi lima korban sejak update terakhir sore tadi," kata Direktur Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo di Sidoarjo, dikutip dari Antara.

Dengan penambahan tersebut, jumlah korban yang telah dievakuasi dari bawah reruntuhan sejak hari pertama hingga hari ini berjumlah 18 orang. Rinciannya, 5 orang meninggal dunia dan 13 korban dinyatakan selamat.

Sementara secara total, jumlah korban luka berat hingga ringan sedikitnya mencapai 100 orang.

Pesantren Al Khoziny berusia seabad lebih
Pondok Pesantren Al Khoziny  terletak di Jalan KHR. Moh. Abbas I/18, Desa Buduran, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Pesantren tersebut, mengutip NU Online Jatim, telah berusia 100 tahun lebih.

Sekretaris NU Care-LAZISNU Jawa Timur, Moch Rofi'i Boenawi dalam tulisan tersebut  mengungkapkan nama Pondok Pesantren Al Khoziny diambil dari nama pendirinya, yaitu KH. Raden Khozin Khoiruddin. Pesantren itu lebih dikenal sebagai Pesantren Buduran, karena terletak di Desa Buduran.

Mengutip naskah jurnal Peranan KH. Abdul Mujib Abbas dalam Mengembangkan Pesantren Al Khoziny Buduran Sidoarjo 1964–2010, halaman 45, Rofi'i menjelaskan Kiai Khozin Sepuh, demikian masyarakat menyebutnya, merupakan menantu KH. Ya’qub dan pernah menjadi pengasuh Pesantren Siwalanpanji pada periode ketiga.

Sejumlah ulama besar yang pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Siwalanpanji adalah:
KH. M. Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang)
KH. Nasir (Bangkalan)
KH. Abd. Wahab Hasbullah (Tambakberas, Jombang)
KH. Umar (Jember)
KH. Nawawi (pendiri Pesantren Ma'had Arriyadl Ringin Agung, Kediri)
KH. Usman Al Ishaqi (Al-Fitrah Kedinding, Surabaya)
KH. Abdul Majid (Bata-Bata, Pamekasan),
KH. Dimyati (Banten)
KH. Ali Mas’ud (Sidoarjo)
KH. As’ad Syamsul Arifin (Situbondo),
dan masih banyak lagi yang lainnya.

Menurut beberapa data yang ditemukan Rofi'i di sejumlah artikel atau jurnal penelitian yang menyebutkan bahwa Pesantren Al Khoziny berdiri antara tahun 1926 atau 1927, meski informasi ini belum dapat dibenarkan sepenuhnya.

"Hal tersebut disampaikan oleh KHR. Abdus Salam Mujib, Pengasuh Pesantren Al Khoziny, dalam acara Haul Masyayikh dan Haflah Rajabiyah ke-80 Pesantren Al Khoziny tahun 2024," lanjut Rofi'i yang juga merupakan alumnus Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran Sidoarjo dan Dosen Institut Al Azhar Menganti Gresik.

"Kiai Salam Mujib menyampaikan bahwa pesantren ini sudah ada sekitar tahun 1920," tulis Rofi'i.

Data itu baru diketahui setelah Kiai Salam Mujib menerima rombongan satu bus dari Yogyakarta beberapa tahun lalu.

Menurut cerita tutur yang disampaikan Kiai Salam Mujib, ketua rombongan sowan ke Pesantren Buduran Sidoarjo untuk ngalap berkah, sebab orang tuanya merupakan santri pertama KHR. Moh. Abbas bin KHR. Khozin Khoiruddin di Pesantren Buduran.

Ketua rombongan yang berusia sekitar 70-an tahun ini menceritakan bahwa orang tuanya terakhir nyantri di Pesantren Buduran, setelah sebelumnya mondok di beberapa pesantren di Pulau Jawa, di antaranya Pesantren Buntet dan beberapa pesantren di Jawa Tengah.

Menurut Kiai Salam Mujib, orang tua dari ketua rombongan tersebut nyantri di Buduran selama sekitar lima tahun pada tahun 1920, saat pesantren ini diasuh oleh Kiai Abbas Buduran. Namun, Kiai Salam Mujib menyayangkan bahwa peristiwa itu tidak terdokumentasikan dengan baik.

"Meski demikian, Kiai Salam Mujib, yang juga Rais PCNU Sidoarjo, berkeyakinan bahwa Pesantren Buduran sudah ada sebelum tahun 1920. Hal ini dikarenakan belum jelas apakah pada tahun 1920 orang tua ketua rombongan tersebut masuk pesantren atau telah menyelesaikan masa mondoknya," lanjutnya.

Jika ditarik dari titik tahun 1920, dengan asumsi santri pertama Kiai Abbas (yakni orang tua ketua rombongan dari Yogyakarta) nyantri selama lima tahun, maka Pesantren Buduran sudah ada pada rentang tahun 1915–1920 M.

Jika Pesantren Al Khoziny sudah berdiri ditandai dengan kehadiran santri pertama Kiai Abbas Khozin pada tahun 1920, maka pesantren yang kini diasuh oleh Kiai Salam Mujib sebagai generasi ketiga, sudah berusia lebih dari satu abad, tepatnya 104 tahun.

Untuk meyakini cerita yang disampaikan Kiai Salam Mujib ini, Rofi'i mencoba mengonfirmasi kepada Dr. Wasid Mansyur, M.Fil., penulis buku Biografi KH. Abdul Mujib Abbas: Teladan Pecinta Ilmu yang Konsisten, 2012.

"Dr. Wasid membenarkan apa yang disampaikan oleh Kiai Salam Mujib. Ia juga pernah mendengar cerita tersebut secara langsung dari Kiai Salam Mujib dan dari beberapa alumni sepuh," sebutnya.

 


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo