Jakarta, Arina.id - Bagi orang Jawa, mendengar kata "ndasmu" sebenarnya biasa saja. Endasmu atau ndasmu berarti "kepalamu". Dalam bahasa Jawa, endas itu ngoko alias kasar. Biasanya digunakan menyebut kepala binatang: endas sapi, endas wedus dan seterusnya. Ada bentuk lebih halus: sirah. Di atasnya lagi ada krama inggil: mustaka atau mustoko.
Dalam beberapa hari terakhir, kata ndasmu menjadi kemelut dan viral. Warganet berisik, latah sekali menyinggung kata ndasmu dalam unggahan-unggahan status media sosial mereka. Gara-garanya tentu merujuk ucapan Presiden Prabowo Subianto saat berpidato dalam Ulang Tahun Partai Gerindra, Senin 17 Februari 2025. Prabowo merespon sejumlah kritik terhadap dirinya dengan satu kata saja: ndasmu..!
Dalam ilmu semantik, bahasa memang dinamis. Ada lapisan elemen-elemen tertentu yang memengaruhi penggunaannya: elemen suasana, waktu, tempat dan gestur atau gerak tubuh. Seperti halnya kata ndasmu yang secara harfiah berarti kepalamu. Hanya saja bagi sebagian besar orang, maknannya menjadi tidak sesederhana itu. Ndasmu bisa membuat orang tertawa, bisa biasa saja, tapi bisa bikin orang tersinggung pula.
Masih ingat dengan Triman atau Tarzan? Komedian Srimulat yang acap kali melempar kata 'ndasmu' saat kewalahan meladeni tingkah kocak Tessy. Penonton menikmatinya, malahan terhibur tertawa lepas ketika mendengar punchline dari Tarzan. Tidak masalah, penonton tahu kalau ndasmu hanya sebatas humor belaka. Nuansanya komedi, humor, bagian dari bentuk kreativitas seni pemain Srimulat.
Lalu ada juga lagu berjudul "Ndasmu" yang dibawakan grup hiphop asal Jogja: D.B.M.P. Dinyanyikan dengan ngerap, lirik satirnya berbahasa Indonesia namun diselingi diksi-diksi berbahasa jawa. Lagu ini sekarang juga ramai disinggung warganet. Tidak ada yang marah dengan lagu tersebut. Publik tahu kalau diksi ndasmu dalam lirik lagu D.B.M.P hanya bagian dari kreativitas bermusik belaka.
Lalu seorang kawan bercerita, setelah sekian lama tidak bertemu dengan teman-teman lamanya akhirnya bisa bereuni. Ia sempat geregetan dengan candaan sahabat di sebelahnya, kemudian terlontarlah kalimat, "hooo...,ndasmu..!" Tetapi tidak ada yang marah. Mereka masih tetap cekakakkan saling melempar cerita kocak pengalaman masing-masing. Semua menyadari kalau diksi ndasmu hanya sebatas candaan.
Lalu bandingkan dengan Prabowo. Jujur saya bingung meresponsnya. Saat presiden bilang ndasmu, para kader Gerindra dan sejumlah tokoh politik, bahkan para ketua umum partai dan menteri yang hadir, terlihat tertawa. Tidak hanya sekali Prabowo melempar kata ndasmu. Saat merespons kritik terhadap kabinet gemuk, dijawab dengan ndasmu. Begitu juga saat menanggapi kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), lagi-lagi direspons dengan ndasmu.
Jadi sebenarnya ungkapan ndasmu dari Prabowo itu sebatas candaan atau umpatan serius? Ada keganjilan di situ. Kenapa para pendukungnya tertawa lepas, namun di luar justru menjadi kemelut. Analisisnya jadi beragam. Misalnya ada yang menyebut kalau "ndasmu" ala Prabowo itu bentuk keputusasaan sebab tidak bisa menjelaskan clear kritik masyarakat. Sederhananya, karena tidak ada argumen lagi maka dengan gampang menyerang balik dengan satu kata nyelekit: ndasmu.
Bisa dimaknai sebagai anti-kritik
Dalam konteks pidato politik, makna terhadap kata atau tata bahasa memang cenderung menjadi lebih kompleks. Seperti disampaikan Pakar linguistik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Makyun Subuki. Menurut dia, penggunaan kata "ndasmu" dalam pidato Prabowo menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kritik kabinet gemuk yang ia bentuk.
"Dia enggak akan menganggap kritik terhadap kabinetnya berguna. Dia akan jalan terus dengan keputusannya soal kabinet gemuk itu," kata Makyun saat diminta memaknai ndasmu dalam bahasa pidato Prabowo.
Makyun menilai aktivitas militer Prabowo di masa lalu mungkin punya pengaruh, tetapi bukan satu-satunya faktor. Ia khawatir pengaruh yang lebih besar nantinya justru datang dari orang-orang di lingkaran kekuasaan. Keengganan dan ketakutan mereka mengkritik Prabowo dari dekat, atau minimal menyampaikan informasi akurat ke dirinya, "akan membiasakan pandangan Prabowo soal efek dari kebijakan yang dia putuskan."
"Dengan begitu, dia (Prabowo) menanggapi sinyal palsu, karena orang-orang di lingkarannya cenderung cari aman," ujar Makyun sambil mengingatkan, pada akhirnya masyarakatlah yang akan dirugikan jika kebijakan Prabowo terkait dengan pembentukan kabinet yang gemuk ternyata tidak efektif.
Selain tidak berjalan dengan baik, pembiayaan untuk banyaknya kementerian juga menjadi beban besar bagi anggaran negara. Seorang Konten Kreator Fathian Hafis, misalnya, menilai pidato Prabowo menunjukkan adanya sesat pikir (logical falacy) sebagaimana yang telah dijabarkan dalam buku How to Win Every Argument: The Use and Abuse of Logic karya Madsen Pirie.
Fathian juga menjelaskan bahwa sesat pikir yang dialami Prabowo yaitu ad hominem versi terbarunya. "Ketika beliau lebih memilih untuk mengeluarkan kata makian, (ndasmu), untuk menunjukkan bahwa dialah yang paling berkuasa," jelas Fathian.
Menurut Fathian biasanya orang terjebak dalam sesat pikir ini, ialah ketika seseorang tidak mampu membalas argumen dari lawan, karena memang sudah tidak terbantahkan atau semuanya adalah fakta. Secara logika, ia menjelaskan, ketika semua orang mengatakan hal yang sama, mulai dari ahli ekonomi hingga ahli hukum tata negara. Maka untuk menanggapinya, orang cenderung akan memaki dan mengeluarkan kata-kata kasar.
"Dia belum sepenuhnya sadar bahwa negara demokrasi dan ketentaraan berbeda. Ketika menjadi presiden akan ada sekelompok orang yang akan selalu menggonggong," ujarnya.
Berdasarkan analisis Fathian, Presiden Prabowo bingung dengan rakyatnya yang tidak bisa di atur, sementara dia terbiasa mengatur orang di lingkungan ketentaraan. Fathian juga mendukung jika rakyat tidak berhenti memberikan kritikan selama itu sifatnya benar, sekalipun Presiden Prabowo masih merasa kalau kekuasaan yang dipegang itu absolute atau mutlak.
Sementara itu menurut Pengamat Politik dari The Strategic Research and Consulting (TSRC) Achmad Choirul Furqon, sebagai presiden, seharusnya Prabowo dapat menerima kritik atau masukan dengan sikap terbuka.
"Saya sangat menyayangkan dengan kapasitas beliau sebagai presiden, harusnya dapat menerima itu sebagai masukan atau saran. Entah nantinya akan ditanggapi dengan kebijakan apapun, itu hak prerogatif Pak Prabowo sebagai Presiden atau leader," ucap Furqon kepada Arina.id.
Furqon juga mengkritik perbandingan kabinet yang dicontohkan Prabow; antara Indonesia dan negara-negara lain, seperti Timor Leste, Eropa, serta beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok. Presiden Prabowo menyebutkan bahwa meskipun negara-negara besar seperti Amerika hanya memiliki 15 kementerian, Rusia 21 kementerian, dan Tiongkok 26 kementerian, Indonesia memiliki kabinet yang jauh lebih besar.
"Parahnya lagi, ini tidak sinkron antara efisiensi di level kementerian hingga ke bawah (daerah), tapi kabinet sangat besar," kata Furqon, menambahkan bahwa besarnya kabinet justru mengundang pertanyaan tentang efektivitasnya.
Lebih lanjut, Furqon menyatakan bahwa masyarakat pada dasarnya dapat menerima kabinet yang besar jika tujuannya jelas dan berjalan efisien. Oleh sebab itu ia menekankan pentingnya logika aparatur negara yang sesuai serta komunikasi publik yang lebih lembut dan efektif.
"Masyarakat tahu, kabinet yang gemuk itu semua untuk mengakomodir berbagai pihak. Asal tupoksinya jelas dan berjalan efisien dengan logika state aparatus yang sesuai, pasti publik bisa menerima, terlebih jika komunikasi publiknya lebih soft," ujarnya.
Dampak pembentukan ”kabinet gemuk” Prabowo serta implikasinya terhadap ruang fiskal pemerintah sudah sejak lama diwanti-wanti oleh berbagai pihak. Pasalnya, Prabowo menambah jumlah kementerian secara signifikan dari 34 kementerian menjadi 48 kementerian yang terdiri dari tujuh kemenko dan 41 kementerian teknis.
Jumlah sumber daya manusia (SDM) yang dipekerjakan di seluruh kementerian dan lembaga pun otomatis betambah. Saat ini saja, setidaknya, jumlah menteri dan wakil membengkak hingga berjumlah total 109 orang. Melonjak signifikan dari 51 menteri dan wakil menteri yang sebelumnya ada di pemerintahan Joko Widodo.
Editor:


