‘Penyakit X’ dan Upaya Dunia Menghadapi Pandemi Baru

‘Penyakit X’ dan Upaya Dunia Menghadapi Pandemi Baru

“Penyakit  X” belum dikenal tapi memiliki potensi serius sebagai ancaman mikroba bagi manusia di masa mendatang. Belajar dari pandemi COVID-19.

***

Arina.id – Setelah dibuat tak berdaya oleh pandemi Covid-19, kini dunia dipaksa untuk bersiap menghadapi kemunculan virus yang lebih mematikan dan juga berpotensi menjadi wabah besar. Saat ini, virus itu disebut dengan “Penyakit X”.

Setidaknya itulah seruan yang datang dari Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, beberapa waktu lalu. Dalam forum tersebut, para ahli kesehatan global membahas pentingnya perencanaan awal untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi “Penyakit X” yang bisa menjadi pemicu pandemi selanjutnya.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan persiapan itu perlu dilakukan untuk mengurangi dampak buruk yang terjadi seperti pada pandemi sebelumnya. Kita tentu masih ingat betapa wabah virus Covid-19 membuat semua negara kalang kabut. Saat itu, kapasitas sistem medis sangat kurang dan perekonomian mengalami kerugian yang signifikan. Hal itu membuat persiapan dan tanggapan cepat terhadap penyakit X semakin mendesak.

Persiapan akan potensi ancaman kesehatan global ini juga menuntut kerja sama internasional dalam mengidentifikasi, memahami, dan menangani “Penyakit X” ini. Sehingga kelak tak menimbulkan dampak yang lebih parah. Langkah-langkah pencegahan dan mitigasi risiko itu dilakukan demi menjaga kesehatan masyarakat global dari potensi wabah yang lebih lanjut.

Apakah itu “Penyakit X”?

Penyebutan kata “X” bukanlah penyakit spesifik melainkan merujuk pada representasi dari penyakit yang belum diidentifikasi. Konsep tersebut mencerminkan penyakit yang saat ini belum dikenal akan tetapi memiliki potensi serius bagi manusia di masa mendatang.

Menurut WHO, pemberian nama X memungkinkan pemerintah untuk mengatasi pandemi baru dengan lebih baik. Hal ini dikarenakan di seluruh dunia, jumlah patogen potensial sangat besar, sementara sumber daya untuk penelitian dan pengembangan (Litbang) penyakit terbatas.

Sebelumnya, pada tahun 2018 silam, WHO mencatat “Penyakit X” sebagai salah satu patogen yang mendapat prioritas utama dalam penelitian. Masuk di dalamnya antara lain penyakit mematikan yang sudah dikenal seperti Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) dan Ebola. Daftar yang memuat “Penyakit X” serta beberapa penyakit lainnya itu pertama kali diterbitkan pada 2017, dan penetapan prioritas terakhir dilakukan pada 2018.

“Daftar patogen prioritas ini telah menjadi titik acuan bagi komunitas riset mengenai fokus energi untuk mengatasi ancaman berikutnya,” kata Dr Soumya Swaminathan, Kepala Ilmuwan WHO, seperti dikutip dari laman resmi lembaga ini. 

“Hal ini dikembangkan bersama dengan para ahli di bidangnya, dan menjadi arah yang disetujui. Kita, sebagai komunitas riset global, harus menginvestasikan energi dan dana untuk mengembangkan pengujian, pengobatan, dan vaksin. Kami berterima kasih kepada para donor seperti pemerintah AS, mitra kami, dan para ilmuwan yang bekerja dengan WHO untuk mewujudkan hal ini,” imbuhnya

Potensi Bahaya “Penyakit X”

Keberadaan “Penyakit X” kini menjadi sorotan karena terdapat banyak reservoir virus, atau tempat patogen bergantung untuk kelangsungan hidupnya, yang beredar di satwa liar. Reservoir itu berpotensi menjadi sumber penyakit menular baru yang tidak bisa diatasi oleh sistem kekebalan manusia.

WHO memberikan peringatan serius terkait “Penyakit X” dengan mengungkapkan potensi bahayanya yang jauh lebih besar dibandingkan Covid-19. Organisasi itu mencatat bahwa “Penyakit X” dapat menyebabkan kematian hingga 20 kali lebih banyak dibandingkan dengan jumlah korban Covid-19 yang telah mencapai tujuh juta orang di seluruh dunia.

Lebih mengerikan lagi, pada 2023 lalu, para profesional kesehatan juga mengingatkan bahwa pandemi baru yang mungkin muncul memiliki potensi dapat menewaskan sekitar 50 juta orang di seluruh dunia.

Peringatan ini menekankan urgensi untuk memahami dan memitigasi risiko “Penyakit X” serta meningkatkan kesiapsiagaan global dalam menghadapi potensi ancaman kesehatan yang bisa memakan korban dalam skala yang lebih besar.

Upaya Persiapan Menghadapi Wabah Besar Penyakit X

Dalam pertemuan puncak di Davos, (17/1/2024), para ahli kesehatan menegaskan bahwa persiapan menghadapi “Penyakit X” memiliki potensi untuk menyelamatkan banyak nyawa dan meminimalisir kerugian, terutama jika negara-negara bersedia memulai penelitian dan mengambil tindakan pencegahan sebelum terjadinya wabah yang masih abu-abu itu.

Para pemimpin industri kesehatan yang tergabung dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos memberikan penekanan pada kebijakan berbasis riset dan proaktif. Dengan harapan, upaya tersebut bisa meningkatkan kewaspadaan global dalam menghadapi tantangan kesehatan masa depan. Langkah-langkah seperti penelitian intensif, pengembangan vaksin, dan perencanaan respons cepat dianggap krusial untuk menanggapi ancaman yang mungkin timbul dari “Penyakit X” atau patogen lainnya.

“Tentu saja ada sebagian yang mengatakan hal ini dapat menimbulkan kepanikan. Lebih baik mengantisipasi sesuatu yang mungkin terjadi karena hal itu telah terjadi berkali-kali dalam sejarah kita, dan bersiap menghadapinya,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam forum tersebut, seperti dikutip dari al-Jazeera.

Dia juga menyampaikan, WHO telah mulai menerapkan beberapa langkah untuk mempersiapkan wabah lain. Hal ini mencakup dana pandemi dan “pusat transfer teknologi” di Afrika Selatan yang memungkinkan produksi vaksin secara lokal serta mampu membantu mengatasi masalah kesenjangan vaksin, baik di negara-negara berpenghasilan tinggi maupun rendah.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa menyarankan untuk memperkuat sistem yang sudah ada daripada mengembangkan sistem baru sebagai langkah dalam menghadapi pandemi. Kendati begitu, mereka juga mendorong pengujian sistem baru sebelum terjadinya pandemi baru.

Kewaspadaan itu juga melibatkan peningkatan pengawasan terhadap penyakit untuk mendeteksi dengan cepat patogen baru yang dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia. Sebab, data sebuah penelitian mengungkap bahwa rata-rata setidaknya dua virus baru ditemukan setiap tahunnya.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo