Dark
Light
Dark
Light

Mengenal Virus Nipah India dan Potensi Jadi Epidemi Mirip Covid-19

Mengenal Virus Nipah India dan Potensi Jadi Epidemi Mirip Covid-19

Lima dari dua orang yang terjangkit virus Nipah dikabarkan tewas. Peristiwa yang terjadi di Kerala Utara, India, telah menarik atensi banyak negara.

Pihak berwenang di distrik Kozhikode, tempat di mana virus Nipah menyebar, telah memutuskan untuk menutup sejumlah sekolah dan perkantoran. Ratusan warga juga dites guna mengetahui perkembangan penyebaran virus mematikan itu.

"Kami fokus melakukan pelacakan pada orang yang melakukan kontak dan terinfeksi. Serta melakukan isolasi pada siapa pun," kata Veena George, Menteri Kesehatan bagian Kerala.

Wabah virus Nipah yang terjadi di Kerala tahun ini merupakan wabah yang keempat kalinya sejak tahun 2018. Adapun yang paling parah terjadi pada tahun 2018, di mana penyebarannya telah menewaskan 17 pasien.

Virus Nipah

Dijelaskan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus Nipah adalah virus yang ditularkan dari hewan ke manusia (zoonosis) dan dapat juga dari manusia ke manusia serta dapat ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi. Orang yang terjangkit virus ini bisa mengalami infeksi tanpa gejala (subklinis), pernapasan akut, hingga ensefasilitis yang fatal. Pada hewan, virus ini dapat menyebabkan penyakit yang parah.

Berdasarkan kasus yang pernah ada, wabah virus Nipah pertama kali ditemukan di Malaysia dan menyebar hingga ke Singapura. Saat itu, sebagian besar penularan yang terjadi pada manusia disebabkan oleh kontak langsung dengan babi yang sakit atau bagian tubuh mereka yang terkontaminasi.

Berbeda dengan wabah yang terjadi di Malaysia, wabah yang terjadi di Bangladesh dan India, kemungkinan besar penyebabnya adalah konsumsi buah-buahan atau produk buah-buahan (seperti jus kurma mentah) yang terkontaminasi oleh urin atau air liur kelelawar buah yang terinfeksi. 

Penularan virus Nipah dari manusia ke manusia juga telah dilaporkan selama wabah di Bangladesh dan India. Virus tersebut berpindah melalui kontak dekat dengan sistem sekresi dan ekskresi manusia. Pada tahun 2001, di Siliguri, India, penyebaran virus Nipah terjadi di lingkungan layanan kesehatan. Dengan keterangan, 75% kasus terjadi di antara pekerja rumah sakit dengan pasien. Di Bangladesh, sejak tahun 2001 sampai 2008, sekitar setengah dari kasus disebabkan oleh pemberian perawatan oleh staf rumah sakit kepada pasien yang terinfeksi.

Gejala Virus Nipah

Adapun gejala yang dialami oleh orang yang terjangkit virus Nipah di antaranya demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Kemudian disusul dengan pusing, mengantuk, perubahan kesadaran, dan tanda-tanda neurologis yang mengindikasikan ensefalitis akut.

Beberapa pasien dikabarkan mengalami pneumonia atipikal dan masalah pernafasan yang parah, termasuk gangguan pernafasan akut. Gejala ensefalitis dan kejang terjadi pada kasus yang parah dan dapat menyebabkan koma dalam waktu 24 sampai 28 jam.

Walaupun wabah virus Nipah jarang terjadi di Asia, virus mematikan ini merupakan masalah yang perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Karena, berdasarkan pengalaman wabah virus Nipah, tingkat kematian yang disebabkan virus tersebut diperkirakan mencapai 40% sampai 75%. Namun persentase tersebut dapat berbeda-beda sesuai dengan wabah yang terjadi, dan juga bergantung pada kemampuan surveilans epidemiologi dan manajemen klinis setempat.

Upaya Pencegahan

Sampai saat ini, belum ada vaksin yang tersedia untuk menangkal virus Nipah. Walau demikian, disebutkan oleh WHO, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Nipah, di antaranya:

a. Mencegah penyebaran virus pada babi

Berdasarkan kasus pada tahun 1999, pembersihan dengan menggunakan deterjen dan disinfektan pada peternakan babi secara rutin dan menyeluruh dinilai efektif dalam mencegah infeksi.

Namun jika diduga terjadi wabah, maka kandang hewan harus dikarantina secepatnya Tidak hanya itu, pemusnahan hewan yang terinfeksi juga mungkin perlu dilakukan demi meminimalisir risiko penyebaran ke manusia. Pada prosesnya, pembakaran dan penguburan bangkai harus diawasi dengan ketat.

Virus Nipah merupakan virus yang melibatkan babi dan kelelawar buah, maka upaya pencegahan dapat dilakukan dengan membangun sistem pengawasan kesehatan hewan, menerapkan pendekatan One Health, dan memberikan peringatan dini bagi otoritas kesehatan hewan dan masyarakat dalam rangka mendeteksi penyebaran virus nipah.

b. Meminimalisir risiko infeksi pada manusia.

Upaya mengurangi risiko infeksi dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran terhadap faktor risiko. Selain itu, memberikan edukasi kepada masyarakat terkait tindakan apa yang dapat mereka lakukan untuk meminimalisir paparan terhadap virus Nipah juga dapat dilakukan. Adapun edukasi yang diberikan berfokus pada: 

•    Upaya meminimalisir risiko penularan dari kelelawar ke manusia

•    Upaya meminimalisir risiko penularan dari hewan ke manusia

•    Upaya meminimalisir risiko penularan dari manusia ke manusia

•    Kontrol infeksi di tempat layanan kesehatan.

Kemungkinan Menyebar ke Indonesia

Menurut Prof Tjandra Yoga Aditama, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia, masih terlalu awal jika mengaitkan kasus yang tengah terjadi di India menyebar ke luar negeri, termasuk Indonesia. Sebab, dari sekian wabah yang terjadi di Kerala, mereka selalu berhasil menanganinya dalam kurun waktu mingguan. Adapun penanganannya dilakukan dengan mengetes secara luas dan mengisolasi yang ketat mereka yang pernah berinteraksi dengan pasien terinfeksi.

“Biarlah pemerintah Kerala meng-contain at the source (menangani pada sumbernya) sehingga mudah-mudahan tidak menyebar,” katanya.

Virus Covid-19 yang menyebar ke Indonesia dipahami oleh Prof. Tjandra sebagai sebab meningkatnya kesadaran masyarakat akan pandemi. Walau demikian, ia berharap agar masyarakat tidak paranoid dengan ditemukannya kasus virus Nipah. 

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menyampaikan bahwa Indonesia memang berisiko terjangkit virus Nipah. Karena, secara geografis, negara Indonesia berdekatan dengan negara Malaysia, di mana wabah virus Nipah pertama kali ditemukan. Namun begitu, tidak dapat dikatakan dengan pasti bahwa di Indonesia terdapat virus Nipah, sebagaimana dijelaskan dalam BBC.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo