Arina.id ~ Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, banyak orang melakukan nyekar atau ziarah di makam leluhur mereka. Tak sekadar ziarah, mereka juga datang ke makam untuk sekalian resik-resik atau bersih-bersih makam.
Tak hanya di desa, masyarakat urban pun banyak yang melakukan tradisi ini. Biasanya mereka, yang sudah menjadi warga kota, menyempatkan waktu mudik ke kampung halaman untuk menyambangi makam para orang tua dan kerabat yang telah mendahului berpulang.
Sementara di desa-desa, 'ritual' ini terjaga dengan sangat baik. Tradisi nyekar dan membersihkan makam (resik kubur) bisa terjadi dua kali dalam setahun, yakni sebelum puasa dan sesudahnya, atau biasanya usai shalat Id. Di daerah Banyumas, Jawa Tengah budaya ini tumbuh dengan subur. Seperti di Desa Candinegara, Kecamatan Pekuncen, tradisi ini rutin dilakukan warganya pada seminggu hingga H-1 puasa.
Menyambut Ramadhan 1445 Hijriyah yang akan jatuh pada 12 Maret 2024, warga kampung bergotong royong membersihkan kuburan desa dengan peralatan seperti cangkul, pancong, linggis, sapu dan parang. Mereka menyiangi rumput yang sudah merimbun, membabat dahan ranting pohon, merapikan lingkungan sekitar makam, membuang dan membakar sampah tak berguna, dan mencek kondisi semua makam, tak cuma makam keluarga dari warga yang ikut kerja bakti. Sementara kaum lelaki giat membersihkan makam, kaum perempuan menyiapkan nasi takir untuk disantap.
Setelah kompleks makam bersih, para peziarah pun akan merasa nyaman dan lebih khusyu dalam berdoa. Para peziarah biasanya membawa kembang segar untuk ditaburkan di atas makam, juga air bening yang disiramkan pada pusara. Bacaan Surah Yasin dan Tahlil pun bergema di sudut-sudut makam.
Tradisi nyekar dan resik kubur di desa itu sudah berlangsung berpuluh tahun secara turun temurun. Tak hanya sekali, paling tidak dua kali, utamanya menjelang Ramadhan, baik dengan pengerahan dari perangkat desa maupun atas prakarsa warga sendiri.
Oase usai Pemilu
Menurut Rochmat, Ketua RT 04 RW 01 Desa Candinegara Kecamatan Pekuncen, tradisi nyekar dan gotong royong resik kubur sangat banyak manfaatnya. Selain l menyambut Ramadhan, kerja bakti ini juga sebagai upaya mempererat kebersamaan di antara warga.
"Kalau orang desa kami itu komunikasinya kalau tidak di masjid ya kerja bakti seperti ini. Apa lagi kemarin habis Pemilu. Banyak warga sibuk dan terbawa arus politik. Bahan yang tidak bertegur sapa karena beda pilihan. Nah dengan ketemu baik di musola atau di kuburan, kami kembali menyatu, saling bercanda, dan leburlah semuanya," ungkap Rohmat.
Rohmat menambahkan, ziarah dan resik kubur juga sangat penting. Karena warga jadi tahu kondisi fisik makam kerabatnya
"Ada ditemukan kondisi makam yang perlu perawatan misalnya kena longsor atau nisan yang hilang, sehingga bisa dilakukan perbaikan segera," imbuh Rochmat.
Pengingat Kematian
Sementara itu, tokoh agama setempat, Ustadz Muhammad Al Akhyar, menjelaskan, ziarah kubur dimaknai sebagai pengingat akan kematian, bahwa hidup di dunia tidaklah abadi.
"Kematian adalah hal yang pasti. Tapi kita manusia seringnya kaget jika mendengar kematian. Dengan ziarah paling tidak kita ingat suatu saat kita yang akan diziarahi di sini, maka bersiaplah mencari bekal kebaikan sebelum Alloh memanggil," kata guru SMP Islam Terpadu Permata Hati Banjarnegara ini.
Senada dengan itu, menurut Penasihat Lesbumi PC NU Brebes, Lukman Suyanto SH, ziarah kubur sebelum puasa tentu baik baik saja asal dengan dasar 'tazdkiratul akhirah’ yaitu mengingatkan kita kepada akhirat. Apa lagi dikaitkan niat berpuasa adalah ibadah demi keridloan Allah, yang tujuannya mendapatkan kebahagiaan di akhirat nanti.
Lukman juga menukil sebuah hadist dari Buraidah, dimana dikatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah, karena hal itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat nani."
"Jika dari kaca mata budaya, tradisi nyekar dan resik kubur ini patut dilestarikan. Bahkan beberapa desa saya lihat sudah bisa mengemasnya menjadi atraksi budaya, seperti acara Nyadran Gedhe, Ganti Klambu dan lainnya, yang dimotori para pemuda desa, sehingga tradisi ini lebih menarik kaum muda sebagai penerus dan penjaga tradisi agar tetap lestari. Tinggal mengemasnya dengan meminimalisir prosesi yang kurang relevan lagi dengan kondisi kekinian bangsa ini," kata Lukman.
Tradisi nyekar dan resik kubur merupakan warisan para leluhur yang harus dipertahankan. Semoga melalui tradisi ini masyarakat selalu dipersatukan dalam kebersamaan dan keberagaman. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan dengan hati yamg suci untuk menggapai ridha Ilahi.
Editor:


