Filsuf Agama Menafsiri Gerakan Zionisme: Yahudi adalah Tuan, Orang Lain Budak

Filsuf Agama Menafsiri Gerakan Zionisme: Yahudi adalah Tuan, Orang Lain Budak

Jakarta, Arina.id - Israel pada mulanya nama sebuah wangsa, kemudian di era modern —tepatnya 1948—berubah menjadi nama negara. Nama wangsa ini terabadikan dengan baik di kitab-kitab agama samawi, sekaligus dalam catatan-catatan sejarahwan yang membentang melintasi zaman. Namun ihwal kapan, kenapa, dan bagaimana tarikh negara itu muncul sudah banyak ilmuan sejarah menulisnya.

Bicara Israel tidak lepas dari sejarah gerakan Zionisme, sebuah gerakan politik yudaisme internasional dengan tujuan mendirikan negara Yahudi di wilayah Palestina. Begitulah Alexander Motyl dalam bukunya: "Encyclopedia of Nationalism," menggambarkan tentang apa itu Zionisme. Tidak mengherankan kalau belakangan banyak orang kemudian mengaitkan berdirinya Negara Israel itu dengan gerakan Zionis. 

Gerakan Zionis muncul pertama kali di Eropa Tengah dan Timur pada akhir abad ke-19. Guru Besar bidang Tasawuf asal Turki, Profesor Mahmud Erol Kilic menyoroti filosofi Zionis dalam intepretasi agama. Menurut akademisi yang juga mantan duta besar Turki untuk Indonesia itu, filosofi tersebut melenceng dari tafsir agama Yahudi atau Yudaisme.

Zionisme, menurut dia tak ubahnya ideologi politik orang-orang Yahudi internasional dengan melandaskan gerakannya pada agama. Mereka mengizinkan pembunuhan anak-anak, balita, bayi, dan membenarkan pembunuhan terhadap yang lain karena percaya bahwa kemanusiaan--atau yang namanya manusia--itu hanya milik orang Yahudi. 

"Jika Anda bukan Yahudi, Anda bukan manusia. Jadi, manusia hanya terdiri dari orang Yahudi. Sisanya harus menjadi hamba dari pengikut Yudaisme atau Yahudi, atau harus dihancurkan. Semua orang, semua orang di dunia ini harus menaati mereka. Mereka tuan, kita budak. Jadi itu tidak mungkin. Mustahil," katanya setelah diskusi bersama Institute for Humanitarian Islam (IFHI) di Jakarta, Jumat 17 Juli 2025. 

"Jika terus seperti itu, mereka terus merealisasikan tujuan mereka, jelas bertentangan dengan hukum Tuhan, hukum kemanusiaan, hukum internasional. Ini adalah ideologi agama yang rusak, rusak, dan tidak autentik. Ini adalah masalah besar bagi seluruh umat manusia, bukan hanya bagi warga Palestina," kata Erol melanjutkan.

Erol memperingatkan, setelah Palestina, ancaman tersebut akan menimpa seluruh umat Muslim di seluruh dunia, umat Kristen juga, dan semua orang non-Yahudi akan terancam dengan ideologi ini. "Semoga Allah menolong rakyat Palestina. Mereka adalah orang-orang yang sangat mulia, dan sejauh ini mereka sangat gigih," Erol menambahkan

Argumentasi Erol sepertinya selaras dengan fakta kondisi Timur Tengah sekarang. Israel terlibat dalam berbagai perang dengan sejumlah negara di kawasan dengan dalih beragam. Melakukan pembersihan orang Palestina untuk melindungi etnisnya, menyerang Suriah juga dengan dalih melindungi komunitas Druze (etnis leluhurnya). "Izinkan saya memberi tahu Anda satu hal. Orang Yahudi percaya bahwa mereka adalah orang-orang pilihan."

Leluhur orang Yahudi dalam riset Genetik

Mahmud Erol sempat mengutip penelitian salah satu dokter pakar silsilah dari Universitas Ibrani di Yerussalem yang menerbitkan sebuah buku berbahasa Ibrani tentang penelitian DNA orang-orang Israel. Warga Israel sekarang, menurut penelitian tersebut, mayoritas berasal dari Eropa Timur, bukan penduduk asli wilayah Palestina yang mereka tempati sekarang ini.

"Dia (Profesor) itu mengatakan bahwa, 'saya memberikan contoh dari 50 tahun terakhir pengalaman saya sebagai doktor silsilah, bahwa saya tidak menemukan DNA orang Ibrani pada orang (pemeluk) Yahudi di Israel sekarang ini. Hanya 10% dari mereka yang membawa tanda-tanda Yahudi. Kebanyakan dari mereka memiliki gen Eropa Timur. Namun, gen Ibrani asli terdapat dalam darah orang Palestina'."

Erol memercayai penelitian profesor tersebut, sehingga sebenarnya menurut dia orang Ibrani yang asli adalah orang Palestina. "Jadi orang Palestina inilah yang sebenarnya orang-orang pilihan," katanya menjelaskan perspektifnya tentang posisi masyarakat Palestina yang bertahan di tengah penjajahan Israel di masa rezim Netanyahu ini.

Jawaban Erol yang mengutip profesor Universitas Ibrani itu mirip dengan hasil penelitian DNA orang Israel yang dipublikasikan Tahun 2010 dalam jurnal berjudul: "Abraham's Children in the Genome Era: Major Jewish Diaspora Populations Comprise Distinct Genetic Clusters with Shared Middle Eastern Ancestry", dipublikasikan oleh National Library of Medicine. Penelitian ini mengambil sampel 6000 lebih individu asal Afrika-Amerika, Asia Timur, Asia Selatan, Meksiko, dan Eropa.

Riset tersebut meneliti genom di tujuh diaspora populasi Yahudi dunia, mulai dari Yahudi Ashkenazi Eropa Timur (kelompok etnis Yahudi berbahasa Yiddish atau Jermanik yang muncul akhir milenium pertama di Kekaisaran Romawi Eropa Tengah dan Timur); lalu Yahudi Sephardic Italia, Yunani dan Turki; serta Yahudi Timur Tengah di Iran, Irak, dan Suriah. DNA mereka kemudian dibandingkan dengan kelompok non-Yahudi di Timur Tengah. 

Apabila dilacak jejaknya lebih jauh, pada 2.500 tahun lalu leluhur orang Yahudi di Israel sekarang ini ternyata terbagi menjadi dua cabang: berasal dari Timur Tengah dan Eropa. Kelompok terdekat leluhur Yahudi di Timur Tengah di antaranya orang Druze, Bedouin, dan Palestina. Sementara genetik Eropa berasal dari Italia utara meliputi Sardinia dan Prancis. Identifikasi dua kelompok ini dilakukan melalui analisis dua komponen utama: filogenetik dan identity by descent atau identitas berdasarkan keturunan (IBD) Yahudi Timur Tengah dan Eropa.

Pada tahun 1400-an, awal abad ke-15, populasi Yahudi di wilayah Palestina sekitar 50 ribu orang. Empat abad kemudian, abad ke-19, populasinya meledak menjadi 5 juta orang. Ledakan populasi ini dianggap oleh sebagian akademisi sebagai sebuah keajaiban. Jumlah mereka terus meledak antara tahun 1948 hingga 1951 ketika terjadi eksodus besar-besaran di masa perang dunia kedua.

Dari hasil riset tersebut kemudian menyimpulkan, "bahwa orang Yahudi Eropa dan Timur Tengah mewakili serangkaian isolat geografis atau kelompok yang dihubungkan oleh benang genetik IBD yang sama". Orang Yahudi sebagai kelompok nasional maupun agama di Timur Tengah selama milenium kedua sebelum masehi (SM) telah mempertahankan tradisi genetik, kultural, dan agama yang terus menerus sejak saat itu, meskipun mengalami serangkaian diaspora pada waktu-waktu setelahnya.

Yahudi Timur Tengah (Iran dan Irak) berasal dari komunitas yang dibentuk di Kekaisaran Babel dan Persia pada abad ke-4 hingga ke-6 SM. Sementara Komunitas Yahudi di Balkan, Italia, Afrika Utara, dan Suriah dibentuk selama zaman kuno klasik, kemudian bercampur dengan Yahudi Sephardic yang bermigrasi setelah pengusiran mereka dari Semenanjung Iberia pada akhir abad ke-15. 

Adapun Yahudi Ashkenazi diperkirakan telah menetap di Lembah Rhine Jerman selama milenium pertama Masehi, kemudian bermigrasi ke Eropa Timur antara abad ke-11 dan ke-15, meskipun muncul teori alternatif yang menyebut ada juga keturunan dari Sorb (penutur Slavia di Jerman) dan Khazar (orang Turk nomaden yang awalnya tinggal di Kaukasus Utara Rusia).

Admixture atau percampuran dengan populasi di sekitarnya memiliki peran awal dalam membentuk Yudaisme dunia. Tetapi selama 2000 tahun terakhir--mungkin karena pembatasan hukum agama seiring dengan evolusi Yudaisme--mendorong pemeluk Yahudi lebih tertutup terhadap orang-orang di luar mereka.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo