Arina.id. China akhirnya memberikan respons terkait ancaman yang dilakukan Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih Donald Trump Pasca terhadap negara-negara anggota BRICS.
Pemerintah China menegaskan BRICS tidak mentargetkan pihak ketiga. Selain itu, BRICS bukan tergolong konfrontasi blok.
Beijing juga menilai bahwa organisasi ini mempunyai peran yang sangat penting untuk negara berkembang sekaligus menjadi pasar baru yang saling menguntungkan melalui berbagai macam kerja sama yang sudah dibentuk.
"Sebagai 'platform' kerja sama yang penting bagi pasar-pasar baru dan negara-negara berkembang, BRICS menganjurkan keterbukaan, inklusivitas dan kerja sama yang saling menguntungkan, bukan konfrontasi blok serta tidak menargetkan pihak ketiga mana pun," ujar Lin Jian, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, seperti diwartakan Antaranews, Rabu, 4 Desember 2024.
Tidak hanya itu, pemerintah China turut menyatakan pihaknya siap bekerja sama dengan para mitra BRICS. Tujuannya agar pertumbuhan ekonomi dunia tetap stabil.
"China siap untuk terus bekerja sama dengan mitra-mitra BRICS untuk memperdalam kerja sama praktis di berbagai bidang dan memberikan lebih banyak kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi dunia yang berkelanjutan dan stabil," lanjut Lin Jian.
Pada kesempatan sebelumnya, Presiden AS terpilih Donald Trump sempat mengeluarkan pernyataan keras terkait aktivitas BRICS.
Donald Trump mengancam bakal menerapkan aturan tarif 100 persen kepada negara-negara yang tergabung dalam BRICS andai tidak segera membatalkan usulan penggunaan mata uang alternatif selain dolar AS.
Menurut klaim Trump, negara-negara BRICS dianggap berusaha semakin meninggalkan Dolar AS. Ia berharap BRICS tidak menciptakan mata uang baru demi menggantikan posisi Dolar AS.
"Gagasan negara-negara BRICS berusaha menjauh dari Dolar, sementara kita hanya berdiam diri dan mengawasi, sudah berlalu," kata Donald Trump via Truth Social.
"Kita memerlukan komitmen dari negara-negara ini bahwa mereka tidak akan menciptakan Mata Uang BRICS yang baru, atau mendukung Mata Uang lain untuk menggantikan Mata Uang Dolar AS yang perkasa," tambahnya.
Mengutip laman Info BRICS, BRICS merupakan kelompok negara informal yang terdiri dari Brasil, Federasi Rusia, India, Republik Rakyat Tiongkok, dan Afrika Selatan. Rusia adalah penemu ide pembentukan BRICS.
Pada tanggal 20 September 2006, Pertemuan Tingkat Menteri BRICS diselenggarakan pertama kali atas usulan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Menteri luar negeri Rusia, Brasil, dan Cina serta Menteri Pertahanan India ikut terlibat dalam pertemuan. Mereka bermaksud semakin memperluas kerja sama multilateral.
Kemudian Konferensi Tingkat Tinggi BRICS ke-6 di Fortaleza dan Brasilia berlangsung pada 15-16 Juli 2014. Pertemuan menghasilkan keputusan yang sangat penting.
Di antaranya berupa Perjanjian Bank Pembangunan Baru dan Perjanjian Pembentukan Pengaturan Cadangan Kontingen BRICS. Institusi memiliki total dana sebesar $200 miliar.
Lalu dilanjutkan melalui pembicaraan komprehensif mengenai Strategi BRICS untuk Kemitraan Ekonomi dan rancangan Peta Jalan BRICS untuk Kerjasama Perdagangan, Ekonomi dan Investasi BRICS.
Editor:


