Trump Klaim Iran Tak Perlu Nuklir Karena Miliki Cadangan Minyak Berlimpah

Trump Klaim Iran Tak Perlu Nuklir Karena Miliki Cadangan Minyak Berlimpah

Arina.id -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa Iran sejatinya tidak membutuhkan energi nuklir untuk kebutuhan sipil, lantaran negara tersebut sudah memiliki cadangan minyak berlimpah.

Argumen tersebut dilontarkan Trump dalam sebuah wawancara bersama jurnalis Fox News, Bret Baier, hari Jumat (16/5/2025).

“(Pemakaian) Nuklir akan baik-baik saja bagi negara yang tidak memiliki minyak,” jelas Trump, dikutip dari Antaranews.

Trump menjelaskan bahwa Iran saat ini menjadi salah satu negara yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Oleh karena itu pihaknya tidak dapat membiarkan Teheran melakukan pengembangan terkait nuklir.

Trump meyakini bahwa pihak Iran sebenarnya juga ingin membuat kesepakatan terkait nuklir. Tak lupa, orang nomor satu di Amerika Serikat tersebut juga menekankan bahwa ia lebih memilih menggunakan ekonomi untuk menyelesaikan masalah.

"Saya menggunakan perdagangan untuk menyelesaikan masalah dan perdamaian," imbuh Trump.

Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi mengungkapkan bahwa negaranya cukup terbuka terhadap batasan sementara terkait pengayaan uranium.

Namun seperti dikabarkan oleh Arab News, Wamenlu Majid Takht-Ravanchi menekankan bahwa sejumlah perundingan dengan pihak AS belum membahas terkait hal-hal yang lebih spesifik.

"Untuk jangka waktu terbatas, kami dapat menerima serangkaian pembatasan pada tingkat dan volume pengayaan," kata Takht-Ravanchi, dikutip dari Tempo.

"Kami belum membahas secara rinci tentang tingkat dan volume pengayaan," imbuhnya.

Saat ini AS dan Iran tengah melakoni rangkaian pembicaraan terkait program nuklir Iran. Pembicaraan kedua negara sudah memasuki putaran keempat, dengan pertemuan pertama dilangsungkan pada bulan lalu.

Diperkirakan saat ini Iran sudah mampu memperkaya uranium dengan tingkat kemurnian hingga 60 persen. Tingkat tersebut jauh di atas batas 3,67 persen yang sempat ditetapkan pada kesepakatan 2015.

Akan tetapi pengayaan uranium Iran masih di bawah 90 persen, alias tingkat yang dibutuhkan untuk membuat senjata nuklir.

Sementara itu pada tengah pekan lalu ada lebih dari 200 legislator AS dari Partai Republik di Kongres, yang melakukan penandatanganan surat desakan terhadap Presiden Trump untuk menghentikan Iran dari program nuklir.

Anggota parlemen AS meminta agar Donald Trump menghindari membuat perjanjian baru dengan Iran, yang memberikan mereka waktu dan peluang untuk melanjutkan program nuklir.

"Kami tidak dapat lagi membuat perjanjian lain, yang memungkinkan Iran mengulur waktu, seperti yang dilakukan JCPOA," tulis surat desakan tersebut.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo