Jakarta, Arina.id—Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) menggelar akan Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2025 pada 29-30 Oktober 2025 diselenggarakan di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok.
Forum global ini akan mempertemukan para pemikir, ilmuwan, dan peneliti dari berbagai negara untuk membahas krisis iklim, etika kecerdasan buatan (AI), serta peran Islam dalam membentuk masa depan yang berkelanjutan.
Kegiatan yang menghadirkan tema besar Islam, Ekoteologi, dan Transformasi Teknologi: Inovasi Multidisipliner untuk Masa Depan yang Adil dan Berkelanjutan.
Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Amien Suyitno, AICIS+ bukan sekadar konferensi akademik rutin, melainkan gerakan intelektual global yang meneguhkan kembali peran Islam sebagai sumber nilai, etika, dan solusi bagi krisis kemanusiaan modern.
"Kita tengah menghadapi dua krisis besar dunia sekaligus: krisis spiritual dan krisis ekologis. Melalui AICIS+, Kemenag ingin menunjukkan bahwa Islam dapat hadir dengan solusi yang rasional, berkeadaban, dan selaras dengan nilai kemanusiaan universal,” kata Amien Suyitno, Senin (27/10/2025).
Ia menambahkan, riset-riset yang dipresentasikan dalam AICIS+ tidak hanya membahas aspek teologis normatif, tetapi juga isu-isu kemanusiaan dan lingkungan hidup yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
"Menteri berulang kali menekankan ekoteologi terhadap pemikiran yang sangat serius terutama soal lingkungan yang mulai kurang peduli, climate chage, global warming. Kemenag dalam AICIS juga akan membahas soal itu," kata Amien.
Amien menjelaskan, AICIS+ juga menghadirkan inovasi baru melalui Riset Expo, yang menampilkan karya-karya penelitian dari madrasah unggulan hingga perguruan tinggi. Beberapa hasil riset siswa madrasah bahkan sudah siap dipublikasikan di jurnal terindeks Scopus.
"Nanti pada saat expo, teman-teman bisa melihat berbagai hasil riset anak-anak madrasah, seperti penelitian tentang cara menjadi ibu yang tetap slim, atau minuman herbal yang membuat bapak-bapak tetap awet muda meski sudah berumur lima puluhan. Semua itu merupakan produk orisinal hasil riset anak-anak madrasah yang selama ini belum pernah diekspos," jelas Amien.
Sementara itu, Rektor UIII, Jamhari menyebut AICIS+ 2025 sebagai ajang kolaborasi ilmuwan lintas negara dan lintas agama. "Dalam AICIS+ 2025 ini, pembicaranya tidak hanya dari kalangan Muslim, tetapi juga dari berbagai agama dan latar belakang lain. Peserta dan pembicara datang dari empat benua," ungkapnya.
"Ini menjadi kesempatan bagi ilmuwan Indonesia untuk menyampaikan pandangan dan temuan ilmiahnya agar dikenal di dunia internasional. Selain itu, AICIS juga memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang plural, beragam, dan menjunjung tinggi toleransi," sebutnya.
Beberapa subtema yang akan dibahas dalam AICIS antara lain Science and Technological Transformation, Ecotheology and Environmental Sustainability, Islamic Law, Social Equality, and Eco-Feminism, Sustainable Economic System and Social Welfare, Decolonizing Islamic Studies, Peace Building and Humanitarian Crisis, dan Public Health in Muslim Societies.
Selama tiga hari, AICIS+ 2025 akan menawarkan beragam format diskusi, mulai dari 2 Sesi Kunci, 2 Sesi Pleno, 68 Sesi Paralel, hingga 24 Panel Jurnal Terundang. Acara juga diisi dengan Forum Rektor yang menghimpun 58 PTKIN se-Indonesia.
Tidak ketinggalan, serangkaian acara pendukung seperti Pameran Pendidikan Madrasah, Pameran Buku, Festival Kuliner Halal, dan Pertunjukan Budaya akan menyemarakkan konferensi dan memperkaya pengalaman para delegasi.
Tahun ini, panitia menerima lebih dari 2.400 abstrak dari 31 negara, namun yang diterima hanya 230 abstrak. Hal ini menunjukkan bahwa minat untuk mengikuti AICIS semakin besar sekaligus semakin kompetitif.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kemenag RI, Prof Sahiron menyampaikan pandangannya terkait integrasi keilmuan dalam ajang AICIS+ ini.
"Sebagai contoh, apa bedanya kedokteran di perguruan tinggi Islam dan perguruan tinggi umum? AICIS+ mungkin adalah jawaban dari pertanyaan tersebut sebagai integrasi antara ilmu agama dan medis," ujarnya.
Ia melihat AICIS+ sebagai titik awal yang strategis. "Ini adalah starting point untuk bagaimana kemudian kita melihat integrasi antar keilmuan tersebut. Seperti Ibnu Sina yang mengintegrasikan antara kedokteran sebagai ilmu medis dengan keislaman," pungkas Sahiron.
Menteri Agama Nasaruddin Umar dijadwalkan akan membuka langsung AICIS+ pada Kamis (29/10/2025) mendatang. Selain itu, konferensi internasional ini akan dihadiri sejumlah menteri antara lain Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Brian Yuliarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Luar Negeri Sugiono, dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Editor:


